Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Menemui yang Tercinta


__ADS_3

Seperti sebuah keajaiban, kesembuhan Raya begitu cepat, bahkan Dokter Firman yang selama ini merawatnya tidak bisa menjelaskan dengan pasti mengapa Raya bisa pulih secepat ini?.


"Ma, maaf ya kalau selama ini aku merepotkan Mama", ucap Raya yang kini sudah bisa berkomunikasi dengan baik.


Mama Laura tersenyum, "Mama tidak pernah merasa direpotkan, sayang. Oh ya hampir Mama lupa, besok Ezra dan Papa akan pulang ke sini".


"Benarkah? aku sangat merindukan mereka, Ma. Terutama merindukan Mas Ezra", ucap Raya jujur.


Mama Laura tersenyum melihat binar bahagia di wajah menantunya itu.


"Ma, Raya minta maaf ya karena belum bisa memberi Mama dan Papa cucu", tetiba saja Raya teringat dengan bayinya yang sudah tiada.


Ya, setelah kondisi Raya stabil, Dokter Firman sudah menyampaikan kondisi kandungannya yang mengalami keguguran. Berita itu memang menjadi sebuah pukulan bagi Raya, namun dia sudah ikhlas menerima itu semua.


Mama Laura menghampiri menantunya yang masih duduk bersandar di tempat tidur rumah sakit.


"Sayang, kamu tidak perlu meminta maaf seperti itu. Apa yang sudah terjadi itu adalah takdir dari Tuhan, bukan kesalahan kamu. Mama yakin cepat atau lambat, Tuhan pasti memberikan gantinya, ya", Mama Laura memeluk Raya dengan erat.


Ada rasa haru sekaligus kehangatan yang Raya rasakan. Apa yang saat ini Mama Laura lakukan padanya mengingatkan Raya pada mendiang kedua orang tuanya yang sudah pergi lebih dulu.


"Terima kasih Mama selalu menyayangiku", ucap Raya dalam dekapan Mama Laura.


Sementara itu, di negara Y, Ezra tampak sibuk menyiapkan kepulangannya ke negara X.


"Ezra, apa kamu yakin akan meninggalkan Razka di sini?", tanya Daddy Ardi mendekati menantunya yang tengah sibuk merapikan beberapa barang di kamar Sindy.


Ezra menghentikan sejenak aktivitasnya dan berbalik menatap Daddy Ardi.


"Iya, Om. Dokter Janet bilang kondisi Razka belum memungkinkan untuk dibawa dalam perjalanan jauh. Tapi Om tenang saja, secepatnya aku pasti kembali", janji Ezra.


Daddy Ardi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ya, sudah dua bulan lamanya Razka dirawat intensif di rumah sakit karena bayi itu lahir prematur.


"Baiklah. Kamu tenang saja, Om pasti akan menjaga Razka dengan baik. Dia satu-satunya cucu yang Om punya, penerus keluarga Wiratama", ucap Daddy Ardi lagi.


"Terima kasih, Om", Ezra menyunggingkan senyum tipis pada mertuanya itu.

__ADS_1


Keesokan harinya Daddy Ardi ikut mengantarkan kepergian Ezra dan Papa Hadinata ke bandara.


"Aku titip dulu cucuku, ya. Secepatnya kami akan kembali untuk menengoknya", kali ini Papa Hadi yang berjanji pada Daddy Ardi.


"Tenang saja. Razka pasti aku rawat dengan baik. Safe flight, sampaikan salamku untuk Laura dan Raya", pesan Daddy Ardi.


Papa Hadinata menganggukkan kepalanya dan tak lama kedua lelaki paruh baya itupun berpisah.


Sepanjang perjalanan, Ezra begitu bahagia karena kepulangannya kali ini akan bertemu dengan Raya. Dia sudah sangat merindukan istrinya itu.


"Ezra, bagaimana nanti kamu menjelaskan keberadaan Razka pada istrimu?", tanya Papa Hadi yang duduk di samping Ezra.


Ezra menghela nafas panjang, "Sejujurnya aku juga belum tahu Pa bagaimana menjelaskan semuanya pada Raya. Apalagi dia baru pulih dari koma. Akan aku pikirkan nanti, semua tergantung dengan kondisinya. Aku tidak mau Raya anfal karena kehadiran Razka dan masa laluku bersama Sindy", terang Ezra jujur.


Papa Hadinata mengangguk setuju. Ya, memang bukan hal mudah untuk membuka semua rahasia yang selama ini tersimpan rapi.


Setelah menempuh dua belas jam perjalanan, pesawat yang ditumpangi Ezra dan Papa Hadi tiba di bandara negara X. Kedatangan mereka disambut oleh Pak Seno yang sudah berada di sana sejak satu jam yang lalu.


"Pak, langsung antar kami ke rumah sakit, ya", pinta Ezra pada supir keluarganya itu.


"Baik, Tuan", jawab Pak Seno cepat.


"Oh ya Pak, Bapak bisa kembali ke rumah. Tolong semua barang-barangku dan Papa dirapikan sama Bapak dan Mbok Nah. Nanti aku telepon lagi kalau perlu dijemput", ujar Ezra sebelum dirinya dan Papa Hadi turun dari mobil.


Pak Seno segera memenuhi perintah Tuannya itu.


"Raya pasti senang melihat kepulanganmu", ucap Papa Hadi dengan senyum terlukis di bibirnya.


Ezra pun menunjukkan senyum yang tak kalah sumringah dari Sang Papa.


"Bismillah ...", Ezra mengetuk pintu ruang rawat istrinya.


Mama Laura membukakan pintu itu dan langsung memeluk Ezra juga Papa Hadi yang baru saja tiba di rumah sakit.


"Istrimu baru saja minum obat dan sekarang sedang beristirahat", kata Mama Laura memberitahu kondisi Raya.

__ADS_1


Ezra menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dia masuk dengan perlahan dan langsung menuju tempat tidur di mana Raya tampak terlelap.


Senyum kembali terlukis di bibir Ezra saat kedua matanya bisa melihat istrinya yang tak lagi dikelilingi banyak peralatan medis.


"Hallo istriku, sayang", bisik Ezra lembut.


Raya tak bergeming. Memang obat yang baru saja diminumnya memberi efek kantuk yang cukup kuat agar dia bisa beristirahat dengan baik.


"Papa senang melihat anak kita bisa tersenyum seperti itu lagi, Ma", ucap Papa Hadi yang mengamati Ezra dari sofa.


"Iya, Pa. Mama juga senang. Oh ya, bagaimana kondisi cucu Mama di sana?", Mama Laura penasaran.


"Razka masih di rumah sakit, Ma karena dia lahir prematur jadi masih membutuhkan perawatan dan pengawasan intensif dari dokter. Tapi sejauh ini perkembangannya bagus, Ma. Semoga saja cucu kita bisa segera bersama dengan kita di sini", terang Papa Hadi.


"Iya, Pa. Mama ingin sekali menggendongnya dan Mama juga merasa sedih karena tidak bisa menghadiri pemakaman Sindy", raut wajah Mama Laura berubah sendu.


"Tak apa, Ma. Keluarganya paham dengan kondisi kita. Oh ya, Ardi menitipkan salam untukmu dan Raya", Papa Hadi teringat pesan dari Daddy Ardi.


"Iya, terima kasih", jawab Mama Laura.


"Satu lagi Papa hampir saja lupa", Papa Hadi mengeluarkan gawai dari saku celananya. Dia menunjukkan sebuah foto pada Sang istri.


"Ini ... ini foto cucu kita, Pa?", Mama Laura menatap tak percaya.


Papa Hadi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Memang sebelum dirinya dan Ezra kembali ke negara X, dia sempat menjenguk Razka di rumah sakit dan memotret bayi itu.


"Ya Tuhan, lucu sekali. Wajahnya persis seperti Ezra waktu kecil", Mama Laura masih betah mengamati foto cucunya.


"Aku harap Mama bisa menyayangi Razka sepenuh hati", tetiba saja Ezra sudah duduk di samping Mamanya.


Mama Laura melirik sebentar ke arah putranya itu, "Tentu saja. Mama pasti akan menyayanginya. Razka kan darah daging kamu, berarti cucu Mama juga, Ezra".


Ezra tersenyum tipis, "Tak disangka ya Ma, Pa, Ezra sekarang jadi seorang ayah meski anak pertama Ezra bukan lahir dari rahim Raya", Ezra berucap sambil menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Dari siapapun anak kamu lahir, jadilah ayah yang baik dan teladan. Kelak jika Tuhan memperkenankan Raya hamil lagi, pastikan kasih sayang dan cintamu sama besarnya pada Razka maupun pada adiknya", pesan Papa Hadi.

__ADS_1


"Iya Ezra. Awas saja kalau sampai kamu pilih kasih, Mama ambil semua anak kamu", ancam Mama Laura serius.


Ezra tersenyum lagi, "Tentu saja, Ma, Pa. Ezra tidak akan mungkin membeda-bedakan Razka dengan adiknya karena mereka lahir dari wanita yang sama berharganya dalam hidup Ezra".


__ADS_2