
Raya terbangun sebelum adzan subuh berkumandang, ia merasakan tubuhnya serasa remuk karena kegiatan semalam bersama suaminya.
Raya menatap wajah suaminya dengan dalam. Ada senyum yang terulas di bibirnya, "Aku tidak tahu semalam kamu kenapa, Mas. Tapi satu hal yang pasti, aku sudah sepenuhnya menjadi istri kamu", batin Raya.
Ia bergegas mengambil piyama miliknya yang tercecer di lantai lalu mengenakannya. Meskipun masih merasakan sakit, Raya memilih untuk bergegas keluar dari kamar itu untuk membersihkan diri di kamarnya sendiri.
Tepat saat adzan subuh berkumandang, Ezra membuka kedua matanya. Ia mengerjap sebentar, lalu menggeliat, dan menyandarkan tubuhnya ke ranjang.
Ezra melihat ke sekeliling, dia tidak menemukan orang lain selain dirinya di kamar itu.
"Kemana dia pergi sepagi ini?", gumam Ezra.
Ia bergegas membersihkan diri, lalu menunaikan sholat subuh. Selepas sholat, Ezra memilih untuk duduk di ujung ranjang sambil mengecek gawai dan beberapa email yang masuk. Saat menyibakkan selimut, tanpa sengaja Ezra melihat beberapa bercak darah di sana, adegan semalam dengan istrinya kembali berkelebat, membuat Ezra tersenyum.
"Gila, bagaimana bisa aku berpikir melakukannya dengan dia?", gumam Ezra sendiri.
Sementara itu, selepas sholat subuh, seperti biasa Raya pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Meskipun penampilannya serba tertutup, entah mengapa Raya merasa malu bertemu dengan orang rumah pagi ini.
"Pagi, Non", sapa Mbok Nah.
"Pagi, Mbok", jawab Raya ramah.
"Oh ya Non, tadi Tuan dan Nyonya besar menelepon ke sini, mereka menanyakan kabar Tuan Ezra dan Non Raya".
Raya mengernyitkan dahinya, "Sepagi ini Papa dan Mama telepon, ada apa ya, Mbok?".
"Iya, Non, saya juga tidak tahu ada apa. Tadi kata Nyonya besar di sana sudah siang, mungkin beliau lupa kalau di sini masih dini hari, jadi ya orang-orang pasti masih tidur", terang Mbok Nah.
Raya tertawa kecil, "Iya, Mbok. Ya sudah, nanti aku telepon Papa dan Mama balik".
"Nggih, Non. Oh ya Non, satu lagi, saya mau pergi ke pasar dulu pagi ini karena bahan-bahan makanan sudah banyak yang habis".
"Ok, diantar sama Pak Seno kan ya, Mbok".
"Iya, Non".
Setelah perbincangan itu, Mbok Nah pergi meninggalkan rumah.
Suasana rumah masih sepi. Setelah selesai mengecek gawai dan email, Ezra memilih untuk berolahraga di ruangan yang tak jauh dari kamarnya, sedangkan Raya asyik memasak sarapan pagi.
"Kali ini Mas Ezra mau makan masakanku gak ya?", Raya berbicara sendiri. Ia ingat, sampai kemarin pagi, suaminya enggan mencicipi sarapan yang ia buat.
"Ah sudahlah, kalau ditolak lagi, bukannya sudah biasa kan?", lagi, Raya masih mengoceh sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, untuk kedua kalinya Ezra sudah tampak segar setelah membersihkan diri kembali selepas berolahraga beberapa saat yang lalu.
Ia keluar dari kamar dan turun ke ruang makan. Dari jauh hidungnya mencium aroma yang lezat.
"Apa lagi yang dia masak hari ini?", batin Ezra.
__ADS_1
Tanpa Raya sadari, Ezra sudah berdiri tak jauh dari tempatnya memasak. Lelaki itu memperhatikan gerak-gerik Raya yang sedang fokus memasak sambil sesekali bersenandung.
Entah kenapa, senyum manis Ezra terulas begitu saja saat melihat tingkat istrinya.
"Yes, masakan selesai sekarang tinggal berdo'a. Tuhan, semoga kali ini suamiku mau mencicipi masakanku ini, aamiin", ucap Raya sungguh-sungguh.
"Ehm ...", Ezra mengejutkan istrinya.
"Ya ampun, Mas Ezra", ucap Raya sambil mengelus dada karena terkejut.
"Kamu masak apa?".
"Ini Mas, opor ayam".
"Tolong sajikan dalam mangkuk dan siapkan nasi untukku", pinta Ezra tanpa berbasa-basi lagi.
"Mas Ezra mau makan masakanku?", tanya Raya masih tak percaya.
Ezra menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Dengan senang hati Raya menyajikan masakannya itu lengkap dengan jus mangga kesukaan suaminya.
"Ini Mas, semoga Mas suka, ya", ucap Raya senang.
"Terima kasih", Ezra tersenyum tipis dan mulai mencicipi hidangan yang tersaji di depannya.
"Masakanmu ternyata lezat ya", puji Ezra tulus.
"Kamu mau kemana?", tanya Ezra saat ekor matanya melihat Raya yang akan pergi meninggalkan meja makan.
"Aku mau ke kamar, Mas biar Mas Ezra bisa makan dengan nyaman", jawab Raya ragu-ragu karena selama ini setiap kali sarapan ataupun makan malam, Ezra tidak pernah mau duduk satu meja dengan Raya.
Ezra menghentikan aktivitas makannya lalu menatap Raya dengan dalam.
"Mulai hari ini, temani aku di meja makan. Lupakan kebiasaanku yang sudah lalu", pinta Ezra.
"Baik, Mas", jawab Raya tanpa berargumen lagi.
Pagi ini seperti sebuah keajaiban bagi Raya. Setelah apa yang mereka lalui semalam, sikap Ezra benar-benar berubah.
Setelah selesai sarapan pagi, Raya membersihkan piring-piring kotor dan merapikan meja makan.
"Jangan kamu yang mengerjakan ini semua, biar nanti Mbok Nah yang selesaikan", ucap Ezra yang sedari tadi melihat istrinya berkutat di wastafel.
"Tak apa, Mas. Mbok Nah sedang ke pasar, mungkin baru pulang nanti agak siang, pekerjaan kecil begini aku bisa kerjakan sendiri kok, sudah biasa", jawab Raya setelah ia menoleh sedikit ke arah suaminya.
Ezra tersenyum di belakang Raya. Ia baru menyadari betapa rajin dan mandiri istrinya ini.
"Mas, aku kembali ke kamar, ya", Raya pamit lagi pada suaminya.
__ADS_1
"Tunggu", Ezra menahan langkah Raya.
"Kenapa, Mas? masih butuh sesuatu?".
Ezra tidak menjawab. Dia segera menarik tangan istrinya untuk mengikutinya ke lantai atas.
"Ayo masuk".
"Tapi Mas, ini kan kamar Mas Ezra".
"Mulai sekarang ini kamarmu juga. Jadi, ayo masuk", lagi, Ezra mengajak Raya.
Meski sempat ragu, akhirnya Raya mengikuti langkah kaki suaminya itu. Meskipun semalam ia tertidur sampai pagi di kamar tersebut, tapi Raya tetap tidak cukup berani untuk masuk ke kamar suaminya dengan sembarangan.
Setelah mereka masuk, Ezra segera mengunci pintu kamar itu.
"Mas, kenapa pintunya dikunci?".
"Menurutmu, kenapa?", tanya Ezra dengan tatapan nakal.
"Aku tidak tahu, Mas. Aku ...".
Belum sempat Raya menyelesaikan ucapannya, Ezra sudah mengangkat tubuh mungil Raya ke atas ranjang lalu merebahkannya dengan lembut.
"Mas ...".
"Sssttt ... ini akhir pekan. Aku ingin menikmatinya dengan cara yang berbeda", bisik Ezra dengan tatapan yang dalam dan penuh arti.
"Maksudnya?", Raya belum paham dengan arah ucapan suaminya itu.
Ezra tersenyum, "Terima kasih sudah menjaga dirimu dengan baik hingga aku menjadi orang pertama yang memilikimu seutuhnya dan hari ini, bahkan sepanjang hari ini aku ingin kita mengulangi aktivitas semalam", tanpa ragu Ezra mengutarakan keinginannya.
Deg
Jantung Raya berdegup lagi. Sungguh dia benar-benar malu berada di situasi seperti ini, terlebih mengulang kegiatan selama bersama Ezra yang sudah mengungkung tubuhnya di bawah sedari tadi.
"Mas ...".
Tanpa menunggu persetujuan dari Raya, Ezra sudah memulai aksinya.
Lagi, Raya harus meremas sprai yang bahkan belum dirapikan sejak semalam.
Suasana di dalam kamar berubah menjadi hangat bahkan memanas.
Bagi Ezra, kejadian semalam antaranya dirinya dengan Raya benar-benar menyadarkan hati dan pikirannya.
Raya seolah menjadi candu yang tidak ingin Ezra acuhkan lagi.
"Maaf, aku tidak meminta izin lagi untuk menyentuhmu. Aku sungguh-sungguh menginginkanmu, sayang", ucap Ezra jujur.
__ADS_1
Pertama kalinya Raya mendengar panggilan 'sayang' dari bibir Sang suami. Ada perasaan damai dan bahagia yang hadir bersamaan.
Pagi ini, Ezra dan Raya kembali merengkuh kebersamaan yang utuh.