Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Korban Tabrak Lari


__ADS_3

"Mas, apa yang akan kita pastikan dari istri bossku itu?", tanya Aura pada Dion.


Saat ini kedua sejoli itu sedang dalam perjalanan menuju ke toko pastry milik Raya. Beberapa saat yang lalu, Dion sudah menceritakan hal besar tentang Ezra pada Aura.


Aura sempat terkejut mengetahui keadaan rumah tangga bossnya. Tapi setelah mendengar semua penjelasan Dion, ada rasa haru yang dalam di hati Aura pada keluarga Ezra. Tak lupa, Dion meminta kekasihnya untuk merahasiakan informasi tentang Raya maupun Ezra.


"Ya pokoknya kita harus memastikan kondisi Raya baik-baik saja, sayang. Kita akan segera menikah dan aku tidak ingin kamu salah paham kalau semisal ada masa di mana aku tampak memerhatikan Raya", terang Dion melirik ke arah Aura yang duduk manis di sampingnya.


Aura tersenyum tipis, "Aku tidak akan marah ataupun cemburu, Mas. Justru aku merasa kasihan sama Bu Raya. Ah, kalau aku jadi dia dan suamiku bertindak seperti Pak Ezra, belum tentu aku akan kuat".


Dion tertawa kecil, "Tenang saja, calon suamimu ini tidak akan melakukan hal gila macam itu", janji Dion pada Aura. Aura hanya tersenyum mendengar janji yang diucapkan Dion.


Tak butuh waktu lama, Dion membelokkan mobilnya ke sebuah area parkir toko yang selalu tampak ramai.


"Nah, kita sudah sampai. Ayo, turun. Nanti kamu bisa pilih sendiri ya, menu pastry apa saja yang kamu inginkan untuk acara pertunangan kita termasuk acara pernikahan kita nanti", Dion menatap Aura dengan bahagia.


Aura tersenyum manis, "Iya, Mas".


Kedua sejoli ini pun turun dari mobil. Kedatangan mereka disambut oleh Prita, orang kepercayaan Raya.


"Selamat datang di toko kami. Silahkan masuk, Tuan, Nona", Prita mendampingi Dion dan Aura ke ruang khusus untuk klien.


Beberapa waktu lalu, Raya sudah mengabari Prita jika hari ini ada kliena khusus yang akan datang ke toko.


"Silahkan duduk", Prita menunjuk kursi yang ada di ruang tunggu.


"Terima kasih. Oh ya, apa Raya ada hari ini?", tanya Dion tanpa basa-basi.


"Bu Raya sedang dalam perjalanan, Tuan. Sejak pagi beliau ada meeting di luar dengan beberapa klien. Tapi beliau sudah menugaskan saya untuk melayani Anda. Oh ya perkenalkan, nama saya Prita", terang Prita sambil menjabat tangan kedua tamu khusus yang ada di depannya.


Dion dan Aura bergantian berjabat tangan dengan Prita, mereka saling memperkenalkan diri masing-masing.


"Baiklah, sambil menunggu Raya datang, apakah bisa kami minta katalog menu yang ada di sini? calon istriku mau melihatnya", pinta Dion.


"Bisa, Tuan. Mohon ditunggu sebentar", Prita pergi meninggalkan dua sejoli itu.


Tak lama, dia sudah kembali membawa dua buah katalog bersama dua orang pelayan yang membawa nampan berisi beberapa tester produk toko lengkap dengan minumannya.


"Ini katalognya, Tuan, Nona dan ini testernya. Silahkan bisa dicek sambil dicicipi. Jika Tuan dan Nona ada pertanyaan atau butuh sesuatu, bisa panggil saya kembali", Prita mempersilahkan tamunya dengan sopan sebelum berlalu dari ruangan itu.


"Terima kasih", Aura tersenyum.


Dion dan Aura asyik membuka lembar demi lembar katalog pastry yang baru saja mereka terima.

__ADS_1


Brakkk


Dion dan Aura terkejut. Mereka mendengar keramaian di depan toko.


"Suara apa itu, Mas?", tanya Aura bingung.


"Sepertinya di depan ada tabrakan. Ayo kita lihat, sayang", ajak Dion.


Aura menganggukkan kepalanya. Dia segera meraih tangan Dion


Saat Dion dan Aura keluar dari ruang tunggu, tampak para pegawai toko pastry begitu panik, mereka berhamburan keluar.


"Permisi Mas, ada kecelakaan ya di depan?", tanya Dion pada seorang pegawai toko yang baru saja masuk dengan wajah cemas.


"Iya, Tuan. Bu Raya tertabrak mobil", jawabnya dengan nafas tersengal-sengal.


"Apa? Raya tertabrak mobil?", Dion setengah berlari menerobos kerumunan di depan toko dengan tetap menggenggam tangan Aura.


"Permisi, permisi", Dion mencoba menerobos kerumunan yang ramai itu sambil sibuk menelepon ambulance.


Prita tampak terkejut. Air matanya jatuh melihat bossnya terkapar bersimbah darah. Beberapa saat sebelum kejadian, Prita keluar toko untuk menyambut kedatangan Raya.


"Prita, sini, Raya biar saya yang urus. Tolong kamu bubarkan kerumunan ini agar ambulance bisa masuk", perintah Dion berteriak dengan lantang.


Aura tampak terkejut melihat keadaan istri bossnya yang benar-benar mengkhawatirkan.


Tak lama, terdengar suara ambulance datang.


"Pak, tolong cepat bawa korban ke rumah sakit", pinta Dion serius.


"Tentu, Pak", kata seorang petugas ambulance.


"Sayang, aku akan mendampingi Raya ke rumah sakit. Kamu bisa susul aku kan? ini kunci mobilku. Kamu berangkat setelah keadaan di sini tenang. Tolong bantu Prita, ya", Dion menatap Aura dan Prita bergantian.


Aura hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Dion segera ikut masuk ke dalam ambulance setelah Raya ada di dalam. Kemeja biru milik Dion dibasahi oleh darah.


Selama perjalanan ke rumah sakit, Dion berusaha menghubungi Ezra, tapi tak ada jawaban. Berkali-kali Dion mencoba, hasilnya tetap sama.


Zra, sorry gue harus kasih kabar buruk. Raya kecelakaan, tabrak lari. Sekarang gue lagi bawa dia ke Rumah Sakit Matahari dengan ambulance. Tolong segera respon panggilan atau pesan ini.


Dion berharap sahabatnya itu segera memberikan jawaban. Setibanya di rumah sakit, beberapa orang perawat segera membawa Raya ke ruang UGD, Dion pun ikut turun. Wajahnya masih diliputi kecemasan.

__ADS_1


"Maaf, apa Anda suami atau keluarga dari pasien?", tanya seorang perawat setelah beberapa saat Raya masuk ke ruang UGD.


"Saya keluarga pasien, Sus", jawab Dion cepat.


"Bisa ikut saya, Tuan? dokter ingin bertemu dengan Anda".


Tanpa menjawab, Dion segera mengikuti langkah perawat itu.


"Dok, ini keluarga pasien", ucap Sang Suster pada dokter.


"Terima kasih, Sus. Oh ya, kenalkan Tuan, saya Dokter Firman. Saya dokter bedah di rumah sakit ini. Melihat kondisi pasien, kami harus cepat mengambil tindakan operasi untuk menghindari pendarahan yang lebih parah di area otak dan juga luka di area tulang belakang", terang Dokter Firman sambil memperkenalkan diri.


"Lakukan apapun yang terbaik Dok untuk Raya", jawab Dion cepat.


"Baik, kami akan berusaha sebaik mungkin. Oh ya, sebelum operasi ini dilakukan, ada baiknya Anda juga menemui Dokter Tia karena pasien memiliki riwayat berobat ke Dokter Tia", lanjut Sang Dokter.


"Di mana saya bisa menemuinya?", tanya Dion.


"Beliau masih ada di ruangannya, di poli kandungan".


"Baik, Dok. Terima kasih", jawab Dion. Dia meminta perawat yang tadi menemuinya untuk mengantarkannya ke ruangan Dokter Tia.


Tak butuh waktu lama, Dion kini sudah berhadapan dengan Dokter Tia. Keduanya sudah saling memperkenalkan diri.


"Saya akan periksa kondisi kandungan Bu Raya, Pak. Tapi melihat kondisi kecelakaan yang dialaminya, kemungkinan bayinya selamat sangat kecil. Jadi, jika ternyata terjadi kondisi yang tidak diinginkan, mohon Bapak bersedia untuk mengizinkan kami mengambil tindakan penyelamatan bagi ibu dan bayi", terang Dokter Tia.


Dion terkejut mengetahui bahwa Raya sedang hamil dan saat ini janin dalam kandungannya tengah dipertaruhkan.


"Sejak kapan Raya hamil, Dok?".


"Perkiraan saya usia kandungannya saat ini sudah lebih dari dua belas minggu, Pak", jawab Dokter Tia.


Dion bingung harus setuju atau tidak dengan keterangan dari Dokter Tia karena ini menyangkut hidup dan matinya istri juga calon anak dari sahabatnya, Ezra.


"Terkait upaya penyelematan ibu dan bayinya, saya minta waktu untuk menghubungi suami pasien, Dok", ucap Dion.


Ya, sedari awal dia sudah menjelaskan posisinya sebagai keluarga, bukan suami dari Raya.


"Baik, Pak. Kami tunggu segera jawabannya karena kami tidak akan mengambil tindakan tanpa persetujuan keluarga pasien. Saya permisi ke ruang UGD ya Pak untuk memeriksa kondisi pasien dan janinnya".


Dion menganggukkan kepala, "Baik, Dok. Terima kasih".


Setelag Dokter Tia berlalu dari hadapan Dion, dia segera melihat kembali gawainya dan belum ada respon apapun dari Ezra.

__ADS_1


"****, Zra, lo kemana sih? istri lagi berjuang hidup dan mati lo susah banget dihubungi", Dion mulai frustasi.


__ADS_2