
Hari ini Ezra dan Raya sudah ada di bandara, mereka akan berangkat ke negara Y. Mama Laura dan Papa Hadi yang sudah mengetahui tujuan Ezra mengajak istrinya ke negara itu hanya bisa memberikan dukungan dan do'a terbaik untuk keduanya.
"Nanti di sana kalian jangan menginap di hotel, ya. Tapi harus tinggal di rumah", pesan Mama Laura mengingatkan putra dan menantunya.
"Iya, Ma", jawab Ezra pendek.
"Dan ingat, Ezra, jangan biarkan istri kamu terlalu banyak beraktivitas. Segala kebutuhan kalian di sana sudah disiapkan oleh Frans dan juga para asisten rumah tangga", imbuh Papa Hadi.
"Iya, Pa. Terima kasih", jawab Ezra lagi.
Setelah terdengar suara panggilan untuk seluruh penumpang pesawat ke negara Y, Ezra dan Raya bergantian memeluk Mama Laura juga Papa Hadi.
"Hati-hati ya, sayang. Kabari kami kalau kalian sudah sampai", lagi, Mama Laura berpesan pada menantunya itu.
"Tentu, Ma", jawab Raya pendek dengan senyum terulas di bibirnya.
Mama Laura dan Papa Hadi melepas kepergian anak dan menantu mereka. Keduanya sengaja tidak ikut pulang ke negara Y karena ingin memberikan keleluasaan pada Ezra dan Raya untuk menyelesaikan segala urusan mereka di sana.
"Kita terbang ke sana sekalian honeymoon ya, sayang", ucap Ezra setelah dirinya dan Raya duduk di dalam pesawat.
"Honeymoon?".
Ezra menganggukkan kepalanya, "Iya, honeymoon. Selama kita menikah, kita belum pernah kan mengagendakan waktu untuk honeymoon. Lagi pula aku sudah sangat merindukan momen untuk bisa menyentuhmu", ungkap Ezra jujur dengan mengedipkan sebelah matanya genit.
wajah Raya merona mendengar ucapan suaminya itu.
"Kenapa wajahmu memerah begitu, hm?", Ezra yang duduk di samping istrinya mengamati wajah itu dengan lekat.
"Aku malu, Mas".
"Malu kenapa?", Ezra berpura-pura tidak memahami jawaban Sang istri.
"Ya malu karena Mas Ezra bahas soal honeymoon", jawab Raya tersipu.
Ezra tersenyum, "Kamu masih saja seperti itu. Tapi tak apa, aku suka", Ezra meraih dagu Raya dan tanpa permisi memberikan kecupan manis di bibirnya.
"Mas ... jangan begini, ini di pesawat", Raya terperanjat mendapat kecupan tiba-tiba dari Ezra. Kedua matanya segera melihat ke sekeliling, ia khawatir ada penumpang lain yang melihat tindakan Ezra barusan.
Ezra terkekeh, "Berarti kalau nanti di rumah, boleh lebih dari ini dong ya", goda Ezra lebih nakal.
__ADS_1
"Iiih Mas Ezra, please, jangan bahas hal seperti itu di sini", Raya memukul lembut bahu suaminya yang justru membuat Ezra tertawa.
Perjalanan dua belas jam dilalui Ezra dan Raya dengan bahagia. Di pesawat, mereka berceloteh, mengingat kembali beberapa momen kebersamaan mereka. Tak lupa, Ezra juga sesekali menjahili Raya hingga istrinya itu kesal dibuatnya.
"Sayang, saatnya kamu minum obat", Ezra melirik jam di tangannya dan dengan telaten menyiapkan beberapa obat yang harus Raya minum.
"Iya. Terima kasih, Mas", Raya menenggak satu per satu obat yang diberikan suaminya itu.
Setelah minum obat, rasa kantuk menyerang Raya. Beberapa kali dia tampak menguap.
"Sayang, kalau kamu mengantuk, tidur saja. Nanti aku bangunkan jika kita sudah sampai", ucap Ezra lembut sambil mengelus kepala istrinya.
Raya tersenyum ke arah suaminya, "Iya, Mas".
Tak butuh waktu lama, Raya tidur dengan lelap.
Ezra memandang wajah istrinya yang tampak tenang dalam tidurnya. Senyum tipis terulas di bibir Ezra.
"Tuhan, semoga Raya mau memaafkan kesalahanku dan semoga dia bersedia menerima Razka sebagai putra kami", harap Ezra dalam hati.
Tak terasa, perjalanan dua belas jam pun terlalui. Terdengar pemberitahuan bahwa pesawat akan segera mendarat di bandara negara Y.
"Mas, apa kita sudah sampai?", Raya mengerjapkan kedua matanya saat kedua telinganya menangkap pemberitahuan dari kru pesawat.
Raya menggeliat sebentar, lalu membantu Sang suami memastikan barang-barang mereka aman dalam tas kecil yang Raya pakai.
Setelah pesawat mendarat, Raya dan Ezra segera turun. Kedatangan mereka di negara Y disambut oleh Frans, asisten pribadi Papa Hadinata.
"Welcome, Mr. Ezra and Ms. Raya", ucap Frans saat kedua tamu agungnya tiba.
"Thank you", jawab Ezra.
Frans dengan sigap segera mengajak Ezra dan Raya untuk masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka di depan lobi utama bandara.
Sepanjang perjalanan tidak banyak hal yang dibicarakan. Frans hanya menyampaikan beberapa informasi terkini yang berkaitan dengan perusahaan dan juga orang-orang yang bekerja di rumah keluarga Hadinata.
Sesampainya di kediaman keluarga Hadinata, Frans meminta beberapa asisten rumah tangga untuk membawakan barang-barang milik Ezra dan Raya. Dia juga menugaskan mereka untuk melayani tuannya itu dengan baik.
"Ok Mr. Ezra, I must back to office. Here, they will help and service you and Ms. Raya. If you need something, you can call me anytime", ucap Frans sebelum dirinya pergi dari kediaman keluarga Hadinata.
__ADS_1
"Ok, Frans. Thank you so much", jawab Ezra dengan ramah.
Setelah Frans pergi, dua orang asisten rumah tangga di sana segera menghampiri Ezra dan Raya.
"Tuan, Nona, makan siang sudah siap. Anda bisa langsung menikmatinya".
"Terima kasih", jawab Ezra dan Raya bergantian.
"Makan yang banyak ya sayang agar kondisimu semakin membaik", ucap Ezra di tengah-tengah dirinya menikmati makan siang bersama Raya.
Raya tersenyum manis. Ya, semenjak dirinya sakit dan sekarang masih masa pemulihan, suaminya itu memang sangat memerhatikan kondisinya.
Setelah selesai menikmati makan siang, Ezra mengajak Raya untuk beristirahat di kamarnya di lantai atas.
Rumah bergaya Eropa klasik ini membuat Raya begitu takjub. Sejauh matanya memandang, interior yang ia lihat sangat unik dan menarik.
"Rumah ini indah sekali", gumam Raya saat kedua kakinya sampai di lantai atas.
Ezra tersenyum melirik ke arah istrinya.
"Semua yang kamu lihat adalah kesukaan Mama".
"Oh ya? selera seni Mama Laura luar biasa", Raya masih terkagum-kagum.
"Ya begitulah. Ayo, sayang, kita masuk", Ezra sudah membukakan pintu kamarnya.
Raya mengikuti langkah kaki suaminya memasuki kamar mewah yang begitu luas. Kamar yang dilihatnya sekarang dua kali lebih luas dibandingkan dengan kamar miliknya dan Ezra di negara Y.
"Mas, aku ingin membersihkan diri dulu, ya", ucap Raya setelah dirinya merebahkan diri di tempat tidur untuk beberapa saat.
Ezra menganggukkan kepala sebagai jawaban. Setelah Raya masuk ke kamar mandi, Ezra sibuk berkutat dengan gawainya untuk mengabari Mama Laura dan Papa Hadinata.
Di dalam kamar mandi sudah tersedia air hangat dalam bathtub. Bathub itu juga ditaburi bunga-bunga, lengkap dengan aroma terapi yang begitu menenangkan.
Sejenak Raya berjongkok di sisi bathub, tangannya memainkan air dan kelopak bunga yang ada di dalam sana. Senyum bahagia merekah di bibirnya.
Setelah merasa cukup, Raya menanggalkan pakaian yang dia kenakan dan membasuh dirinya di bawah shower sebelum memutuskan untuk berendam.
Sementara itu, selain menghubungi kedua orang tuanya, Ezra juga menghubungi Daddy Ardi. Ezra membuat janji dengan mantan mertuanya untuk bertemu esok hari.
__ADS_1
Besok Om tunggu kedatangan kamu dan Raya di rumah. Razka sudah keluar dari rumah sakit, sekarang dia dirawat di rumah.
Pesan dari Daddy Ardi sedikit membuat perasaan Ezra lebih tenang.