Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Kepergian Sindy


__ADS_3

Setelah lebih dari empat jam, pintu ruang operasi terbuka. Dokter Dave, Dokter Janet, dan beberapa orang perawat tampak keluar dari ruangan itu.


"Dave, bagaimana kondisi putriku", Daddy Ardi segera menghampiri Dokter Dave.


Ekspresi Dokter Dave tampak sendu, "Sorry, Ardi. We have to try doing the best, but she's passed away".


"Kami minta maaf dan turut berduka, Tuan", tambah Dokter Janet.


Daddy Ardi terpuruk begitu saja mendengar berita dari Dokter Dave.


"Are you sure?", tanya Daddy Ardi dengan suara bergetar menahan kesedihannya.


Dokter Dave menganggukkan kepala dan dia mencoba menguatkan Daddy Ardi.


"Om, aku turut bersedih", ucap Ezra. Dia memeluk mertuanya yang tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Ardi, kita semua sudah berusaha yang terbaik untuk Sindy. Tapi Tuhan lebih sayang padanya", Papa Hadi mencoba menguatkan Daddy Ardi.


Daddy Ardi mengangguk pelan. Meski dia tak percaya putri semata wayangnya akan pergi secepat ini, tapi akal sehatnya masih bisa menerima memang takdir Tuhan adalah yang terbaik untuk Sindy.


"Dave, bisakah aku melihat putriku?".


"Tentu. Mari aku antar", Dokter Dave menuntun Daddy Ardi ke dalam ruang operasi.


Meski langkah kakinya gontai, tapi Daddy Ardi tetap berjalan ke dalam ruangan itu. Di sana dia melihat jasad Sindy yang sudah ditutup dengan kain hijau khas ruang operasi.


"Sebentar lagi jenazahnya akan kami pindahkan", ujar Dokter Dave.


Daddy Ardi tak merespon apapun. Air mata meleleh di kedua pipinya. Dia menguatkan diri untuk membuka kain itu dan melihat wajah putrinya untuk yang terakhir kali.


"Sayang, kamu sekarang sudah tidak perlu lagi merasakan sakit. Daddy tidak akan lagi memaksamu untuk minum obat ataupun terapi. Daddy bangga dengan perjuanganmu", ucap Daddy Ardi lirih dengan suara bergetar.


"Om", Ezra mengelus pundak mertuanya.


Daddy Ardi beralih menatap Ezra, "Istrimu sekarang sudah bebas, Ezra. Dia tidak akan sakit lagi. Kamu boleh melihatnya", Daddy Ardi memberi ruang untuk Ezra.


Ezra terdiam, dia menatap wajah Sindy yang tampak pucat. Ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu saat Sindy terisak-isak mengakui kesalahannya dan meminta maaf padanya.

__ADS_1


"Sindy, aku sudah memaafkanmu. Beristirahatlah dengan tenang, terima kasih kamu sudah kuat berjuang", bisik Ezra. Ada pilu di hatinya.


Meski Ezra tidak bisa memberikan cintanya untuk Sindy, tapi bagaimanapun juga Sindy pernah hadir dalam hidupnya.


"Dokter, apakah bayinya selamat?", Ezra teringat dengan bayinya.


"Bayinya selamat, Tuan. Saat ini kami sudah mengurusnya di ruang khusus untuk bayi prematur", terang Dokter Janet.


Di balik kesedihan Ezra, ada rasa syukur yang dalam karena bayi yang dikandung Sindy berhasil diselamatkan.


"Dave, tolong segera urus kepulangan jenazah putriku dan setelah ini aku ingin melihat cucuku", ucap Daddy Ardi. Saat ini dirinya sudah lebih tenang.


"Tentu", jawab Dokter Dave pendek.


Setelah keluar dari ruang operasi, Ezra, Daddy Ardy, dan Papa Hadinata segera menuju ruang perawatan bayi.


"Itu putra Anda, Tuan. Nona Sindy melahirkan seorang bayi laki-laki", terang Dokter Janet.


Ezra menatap tak percaya pada sosok mungil yang tampak tertidur lelap dan sesekali bergerak dalam tabung inkubator.


"Terima kasih, Dok", ucap Ezra. Matanya tak lepas dari sosok mungil itu.


Daddy Ardi dan Papa Hadi saling merangkul bahagia. Mereka benar-benar memiliki seorang cucu meskipun cucu yang sangat mereka tunggu itu harus menjalani perawatan untuk waktu yang lama.


"Ezra, Om harap kamu bisa menyayanginya meski dia lahir dari rahim Sindy".


"Om, Sindy itu istriku juga. Dia sudah berjuang mempertahankan putra kami, melahirkannya ke dunia, dan tentu saja aku akan sangat menyayanginya. Om jangan khawatir", janji Ezra pada Om Ardi.


Daddy Ardi memeluk Ezra dengan erat, "Terima kasih sudah menerima dan memaafkan Sindy. Setelah ini kamu bebas".


Ezra terdiam. Ada rasa tak nyaman di hatinya dengan ungkapan kebebasan itu. Selama ini Ezra memang ingin segera mengakhiri pernikahannya dengan Sindy. Tapi momen terakhir dirinya dengan Sindy membuat Ezra sadar bahwa pernikahannya selama ini meski penuh dengan keterpaksaan, namun tetap memiliki arti yang dalam.


"Sampai kapanpun Om tetap ayah mertuaku", bisik Ezra.


Daddy Ardi melepas pelukannya, "Bayi itu, Om percayakan padamu sebagai ayahnya. Berikan nama yang baik untuknya dan semoga kamu mengizinkan Om untuk menjenguknya selama Om hidup".


"Om Ardi jangan bicara begitu. Aku tidak akan pernah melarang kehadiran Om. Om bisa datang kapanpun untuk melihatnya", jawab Ezra.

__ADS_1


Daddy Ardi tersenyum tipis mendengar jawaban menantunya itu.


"Hadi, terima kasih untuk semuanya dan maaf jika putriku menyusahkan putramu", kali ini Daddy Ardi beralih menatap besannya.


"Tidak ada yang merasa direpotkan. Setelah ini kita harus sama-sama membesarkan cucu kita".


"Ya, kamu benar".


Setelah perbincangan itu, Daddy Ardi dan Papa Hadi meninggalkan ruang rawat bayi lebih dulu untuk mengurus jenazah Sindy. Ezra menyusul mereka setelah ia selesai mengurus berbagai kebutuhan bayinya.


Suasana duka tampak jelas di kediaman keluarga Wiratama. Semua sanak saudara dan para kolega berdatangan ke rumah itu untuk menyampaikan do'a dan duka mereka atas kepergian Sindy.


Ezra sendiri saat ini tengah menatap seisi kamar yang menjadi saksi bagaimana Sindy selalu berusaha meraih hati dan cinta darinya.


Tanpa Ezra sadari, air mata menetes dari kedua matanya. Dia duduk di ujung tempat tidur dengan memegang foto pernikahan dirinya dengan Sindy.


"Maafkan aku karena belum menjadi suami yang baik untukmu. Maafkan aku karena tidak bisa mencintaimu sepenuhnya. Terlepas dari apapun yang sudah kamu lakukan, aku tahu kamu adalah wanita yang luar biasa. Aku janji akan menjaga dan merawat anak kita dengan baik", Ezra mengusap wajah Sindy yang tampak tersenyum bahagia di foto itu.


Kilatan kenangannya bersama Sindy kembali berkelebat. Ezra masih mengingat dengan baik setiap sudut di kamar ini yang selalu menjadi tempat favorit Sindy.


"Setelah ini, aku mungkin akan pergi dari sini bersama anak kita. Tapi do'aku untukmu tidak akan putus. Terima kasih selalu berusaha menjadi istri yang baik untukku", Ezra memeluk bingkai foto di tangannya.


Setelah merasa cukup melepaskan semua emosi di hatinya, Ezra turun karena pemakaman Sindy akan segera dilakukan.


Papa Hadi terus mendampingi Daddy Ardi sejak dari rumah sakit hingga proses pemakaman. Mama Laura juga sudah mendapat kabar tentang kepergian Sindy dan dia ikut berduka.


"Zra, sampaikan permohonan maaf Mama ke Om Ardi ya. Mama tidak bisa hadir di sana", pesan Mama Laura beberapa jam yang lalu saat Ezra mengabarkan kematian Sindy.


"Ezra, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk putramu?", tanya Daddy Ardi setelah pemakaman selesai dan mereka semua kembali ke rumah.


Ezra menggelengkan kepala, "Apa Om ada ide?".


Daddy Ardi terdiam sejenak, "Jika kamu tidak keberatan, berikan nama ini, Razka Arsenio Wiratama Hadinata".


"Nama yang indah, Om. Aku menerima nama itu", ujar Ezra cepat.


"Terima kasih. Nama itu akan menjadi pengingat dan pemersatu keluarga kita. Semoga Razka tumbuh menjadi anak yang baik, pemberani, dan selalu dilimpahi cinta dan kasih sayang", harap Daddy Ardi.

__ADS_1


__ADS_2