
Ezra, Papa sudah mendapatkan data pemilik rekening itu. Namanya Edgar Louis. Dia mantan narapidana di negara ini.
Ezra membaca pesan masuk dari Sang Papa sesaat setelah dia mengaktifkan gawainya. Ada juga beberapa panggilan masuk yang tak terjawab dari Sang Mama.
Ezra terlebih dulu ingin merespon panggilan dari Mama Laura sebelum dia merespon pesan dari Papa Hadinata.
Ezra memilih untuk keluar ruangan sebentar dan mencoba menelepon kembali Mama Laura yang ada di negara X.
"Hallo, Ma. Maaf, aku baru mengaktifkan kembali gawaiku. Ada apa, Ma?".
"Oh tak apa, sayang. Mama punya berita baik buat kamu".
"Apa?".
"Sebentar, panggilan ini tolong dialihkan ke video call", pinta Mama Laura.
Hanya dalam hitungan detik, kini panggilan antara Ezra dan Mama Laura berganti menjadi panggilan video.
"Mama harap kamu tidak terkejut melihat ini", Mama Laura tampak berjalan dan Ezra fokus memperhatikan pergerakan Sang Mama di layar gawai miliknya.
"Ayo sayang, sapa suamimu", terdengar suara Mama Laura yang menunjukkan kameranya ke arah Raya.
Saat ini Raya menatap layar gawai dan tersenyum melihat wajah suaminya ada di sana.
"Ya Tuhan, Raya, sayangku kamu sudah sadar?", Ezra terperanjat saat melihat wajah istrinya sedang menatapnya dengan seulas senyum yang sudah lama tidak Ezra lihat.
"Ini benar kamu kan, sayang?", Ezra masih tak percaya dengan penglihatannya.
Raya tidak memberikan jawaban, dia hanya mengedipkan kedua matanya tanpa menghilangkan senyuman manis di wajahnya.
"Ma, itu ... itu betul Raya?", Ezra masih mencoba memastikan.
"Iya, itu istrimu. Beberapa jam yang lalu Raya sadar dari koma. Mama juga terkejut, tapi Mama sudah meminta Dokter Firman untuk memeriksa keadaan Raya. Kata dokter, kondisi Raya stabil dan ini seperti keajaiban dari Tuhan. Besok pagi, dokter akan melakukan CT scan dan medical check up untuk Raya" terang Mama Laura.
__ADS_1
Kedua mata Ezra mendadak berkabut. Dia terharu melihat istrinya yang kini sudah kembali membuka kedua matanya. Ingin sekali Ezra ada di ruangan itu dan memeluk erat Sang istri.
"Ma, aku akan secepatnya kembali ke sana", janji Ezra.
"Secepat itu? apa semua urusanmu di sana sudah selesai?", tanya Mama Laura.
"Belum, Ma. Tapi aku ingin melihat istriku langsung, aku ...".
"Ezra, bukannya Mama melarang kamu untuk bertemu Raya. Tapi sebaiknya kamu selesaikan dulu semua urusan di sana. Biar Mama yang mengurus dan menjaga Raya di sini. Kamu bisa memantaunya kapanpun kamu mau dengan cara seperti ini".
"Tapi, Ma ...".
"Jangan membuat dirimu lelah dengan terus menerus pulang dan pergi dari sana ke sini atau sebaliknya. Selesaikan satu per satu urusanmu. Percayalah, Raya akan baik-baik saja di sini. Ada Mama, dokter, dan juga perawat yang menjaganya".
"Dengar, Mama janji akan selalu mengabarimu terkait kondisi Raya. Oh ya Mama juga titip kabar baik ini buat Papa ya. Papa sulit sekali Mama hubungi sejak tadi".
Ezra menarik nafas dalam. Ya, apa yang disampaikan Mama memang ada benarnya juga.
"Baiklah, Ma. Aku percayakan Raya sepenuhnya sama Mama, ya. Aku ingin berbicara dengan istriku lagi, Ma", pinta Ezra.
"Sayang, aku minta maaf ya karena aku belum bisa pulang. Sungguh, aku sangat ingin ada di sana dan memelukmu dengan erat. Aku janji, setelah semua urusanku di sini selesai, aku akan segera kembali. Jaga dirimu baik-baik, aku mencintaimu", ungkap Ezra penuh kesungguhan.
Dari balik layar itu Ezra bisa melihat kedua mata Raya berkabut bahkan meneteskan air mata. Istrinya itu belum bisa sepenuhnya berkomunikasi selain dengan tersenyum dan mengedipkan kedua matanya. Ezra sangat memahami keadaan Raya, termasuk tetesan air matanya sekarang yang menjadi bentuk ungkapan hati Raya pada Ezra.
"Ya sudah, Raya masih harus banyak beristirahat. Teleponnya Mama sudahi dulu ya dan jangan lupa, jaga juga istirahatmu. Love you honey", Mama Laura melambaikan tangan sebagai tanda panggilan diakhiri.
Ezra menganggukkan kepala dan setelah panggilan video itu selesai, Ezra duduk sejenak di kursi tunggu yang ada di dekat ruang rawat Sindy. Ada rasa haru dan bahagia dalam hatinya, tapi ada juga rasa kesal dan marah yang belum juga reda saat Ezra teringat kembali dengan tindakan jahat Sindy.
"Aku harus segera menyelesaikan ini semua", tekad Ezra. Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan kembali masuk ke ruang rawat Sindy.
Saat Ezra masuk, ternyata Dokter Dave ada di sana. Dokter Dave mengajak Ezra untuk berbincang sejenak setelah pemeriksaan selesai.
"Kita bisa bicara di luar atau di ruangan saya", ucap Dokter Dave.
__ADS_1
Ezra melirik ke arah Sindy yang tampak pucat dan lemas, lalu mengikuti langkah Dokter Dave meninggalkan ruangan itu.
"Kondisi Sindy semakin hari semakin menurun. Mungkin ayahnya sudah menyampaikan hasil lab Sindy pada Anda. Jujur saja, saya tidak bisa menjanjikan banyak hal atas kondisi Sindy saat ini termasuk kondisi kandungannya".
"Ya, saya sudah membaca hasil labnya, Dok. Lalu, apa yang bisa kita lakukan setelah ini, Dok?".
"Sindy seharusnya segera menjalani operasi transplantasi sumsum tulang belakang dan kami sudah mendapatkan donor yang sesuai. Tapi operasi ini beresiko tinggi bagi kandungannya".
Ezra terdiam, "Saya akan coba membicarakan kembali hal ini dengan Om Ardi. Saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri", jawab Ezra.
Dokter Dave menganggukkan kepalanya, "Ya, beberapa hari yang lalu saya pun sudah membahas hal ini dengan Ardi. Saat itu kami belum mendapatkan pendonor yang sesuai untuk Sindy. Tapi kemarin kami sudah mendapatkannya. Sebaiknya secepatnya hal ini dibicarakan karena jika tidak, kondisi Sindy akan semakin drop. Apalagi leukimia yang dialaminya sudah stadium lanjut", terang Dokter Dave.
Ezra menghela nafas. Dia paham dengan keadaan yang serba sulit ini. Meski kedatangan Ezra kali ini untuk membongkar kejahatan yang dilakukan Sindy, tapi tampaknya kondisi kesehatan Sindy yang tengah dipertaruhkan harus lebih Ezra prioritaskan. Bagaimanapun juga, di rahim Sindy saat ini ada darah dagingnya.
"Baiklah, Dok. Nanti saat Om Ardi kembali, saya akan membahas hal ini dengan beliau, terima kasih", Ezra menjabat tangan Dokter Dave sebelum dia meninggalkan ruangan Sang dokter.
Ezra berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit. Hatinya benar-benar gamang. Entah kenapa ujian ini dirasa tak jua selesai.
"Dad, trust me. I'm ok", terdengar suara lirih Sindy yang tengah berbincang dengan seseorang.
Dari balik kaca kecil yang ada di pintu, Ezra bisa melihat bayangan Om Ardi di sana.
"Daddy tidak perlu khawatir, aku kuat. Daddy lihat, aku masih bisa bangun. Aku ...", suara Sindy tercekat.
Darah mengucur dari hidungnya dan Sindy meringis menahan sakit yang tiba-tiba saja dia rasakan di area perutnya.
"Ya Tuhan, Sindy", Daddy Ardi panik. Meski ini bukan kali pertama dia melihat Sindy kesakitan seperti itu, tapi kondisi Sindy selalu membuatku Daddy Ardi panik.
Ezra yang sedari tadi berdiri di dekat pintu segera masuk dan mendekat ke arah Sindy.
"Mas ...", Sindy menatap Ezra dengan ekspresi menahan rasa sakit yang tak terkira di perutnya.
Daddy Ardi sibuk membersihkan darah yang mengucur dari hidung Sindy.
__ADS_1
"Om, aku panggil dokter sebentar", Ezra segera berlari lagi keluar ruangan untuk memanggil Dokter Dave.
"Tolong cepatlah", pinta Daddy Ardi panik.