Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Berharap


__ADS_3

Sindy membanting gawainya saat ia tahu Ezra sudah pergi dari villa. Beberapa saat yang lalu Bi Asih menyampaikan pesan Ezra pada majikannya itu.


"Kamu keterlaluan, Mas!", teriak Sindy kesal.


Disaat Sindy tengah memaki-maki Ezra di kamarnya sendiri, gawai miliknya yang sempat ia lempar bergetar.


"Hallo ...".


"Nona, perintah Anda sudah aku selesaikan".


"Oh ya? bagaimana kondisinya sekarang?".


"Setahuku dia ada di rumah sakit. Nona tinggal berdo'a saja agar wanita itu tidak selamat".


Sindy tertawa senang mendengar berita dari informan bayarannya.


"Kerja bagus. Tentu saja dengan senang hati aku akan berdo'a untuk kematiannya. Pantau terus kondisi di sana sampai aku memintamu untuk kembali ke sini".


"Baik, Nona".


Perasaan kesal di hati Sindy kini perlahan berganti bahagia. Meskipun dia tahu suaminya saat ini pasti ada di negara X, tapi mendengar kondisi Raya yang memiliki sedikit harapan hidup sudah lebih dari cukup meredakan amarahnya.


"Let's see. Apa yang akan terjadi dengan kamu Raya? hidup atau mati? ya kalaupun kamu hidup, bisa aku pastikan kamu tidak akan sebaik sebelumnya ha ha ha ha", tawa Sindy menggema di seisi kamarnya.


Ambisi untuk memiliki Ezra sepenuhnya benar-benar sudah membutakan mata hati Sindy. Berbagai cara kotor akan dia lakukan demi mewujudkan ambisinya itu.


"Aku harap benih yang Mas Ezra tanam di rahimku bisa berkembang sebagaimana yang aku mau", Sindy mengelus perutnya yang rata.


Adegan panas dirinya dengan Ezra kemarin malam kembali berkelebat. Meski belum tentu dia akan hamil, tapi Sindy punya harapan besar dari aktivitas itu.


"Kalau sampai aku berhasil hamil, aku yakin Mas Ezra pasti akan meninggalkan wanita itu. Sudah tidak ada harapan hidup dan pasti dia mengalami keguguran akibat kecelakaan", lagi, Sindy tertawa puas.


.

__ADS_1


.


Setelah lebih dari enam jam observasi, akhirnya dokter mengizinkan Raya untuk dipindahkan ke ruang ICU.


Ezra menjadi orang pertama yang bisa melihat keadaan istrinya itu.


Air mata Ezra mengalir deras menyaksikan tubuh Raya yang sebagian besar dibalut perban dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya.


"Sayang, maafkan aku. Akulah penyebab semua ini. Aku suami yang gagal", ucap Ezra pedih.


"Andai aku tidak pernah meninggalkanmu, tentu kamu tidak akan mengalami ini semua dan tentang bayi kita, aku juga minta maaf karena tidak bisa menjaganya", Ezra berbicara dengan hampir setengah berbisik.


Tidak ada respon apapun dari Raya. Hanya bunyi alat-alat medis saja yang menjawab ungkapan hati Ezra.


"Aku janji akan menemanimu di sini sampai kamu sembuh seperti sedia kala. Kamu harus kuat, sayang. Aku mencintaimu, sungguh. Aku tidak ingin melihatmu seperti ini, aku tidak sanggup", lanjut Ezra lagi.


Sesaat suasana hening. Ada berbagai rasa yang berkecamuk di hati Ezra.


"Pa, apa kamu sudah mengabari Pak Ardi soal Ezra yang ada di sini?", tanya Mama Laura. Dia dan suaminya saat ini ada di ruang tunggu yang tak jauh dari ICU.


Mama Laura menghela nafas berat, "Jujur saja, Pa. Mama kasihan sama Ezra. Entah sampai kapan dia harus menjalankan peran gandanya seperti ini", raut Mama Laura tampak sedih.


Papa Hadi yang duduk di sampingnya merasa tersindir. Apa yang saat ini terjadi pada Ezra mutlak adalah kesalahannya.


"Papa menyesal sudah memaksa Ezra, Ma dan Papa juga merasa bersalah pada Raya karena selama ini sikap Papa padanya tidak sebaik sikap Mama", ucap Papa Hadi berat.


"Papa bahkan juga bersalah sama Mama karena sudah melarang Mama untuk menghubungi dan memerhatikan Raya. Padahal, mendiang kedua orang tua Raya adalah orang yang sangat baik pada keluarga kita. Tapi Papa justru memperlakukannya dengan buruk. Mereka pasti sedih melihat putrinya Papa perlakukan seperti itu", lanjut Papa Hadi penuh penyesalan.


Mama Laura melirik ke arah suaminya, "Sudah, Pa. Papa jangan terus menyalahkan diri Papa sendiri. Setiap orang pasti pernah berbuat salah yang penting sekarang Papa sudah menyadari kesalahan itu. Kita sama-sama fokus pada kesehatan Raya ya, Pa", Mama Laura menggenggam tangan suaminya.


Bagaimana pun sifat dan sikap Papa Hadi, Mama Laura selalu mencintainya. Selama ini mereka selalu berusaha memupuk cinta kasih dengan utuh meski usia keduanya tak lagi muda.


"Om, Tante, maaf, aku dan Aura izin pamit. Dari kemarin kami belum pulang", tetiba saja Dion datang menghampiri Papa Hadinata dan Mama Laura.

__ADS_1


"Oh ya, terima kasih banyak Nak Dion, Aura. Kalau tidak ada kalian, entah bagaimana keadaan Raya sekarang", ucap Mama Laura dengan senyum tipis.


"Terima kasih ya, salam untuk Papi dan Mami di rumah. Salam juga untuk kedua orang tuamu, Aura", tambah Papa Hadi.


Dion dan Aura mengangguk bersamaan. Mereka tidak sempat berpamitan langsung pada Ezra karena dia masih di dalam ruang ICU.


"Oh ya, Om, terkait pemakaman bayi Raya dan Ezra, aku sudah memakamkannya di pemakaman keluarga Hadinata", terang Dion sesaat sebelum dia pergi.


Papa Hadi dan Mama Laura menganggukkan kepala dan kembali mengucapkan terima kasih.


"Sayang, terima kasih ya kamu terus menemaniku dua hari ini", ucap Dion saat dirinya dan Aura sudah berada dalam mobil.


"Kamu pasti sangat lelah sampai tidak masuk kerja", lanjut Dion lagi.


Aura tersenyum tipis ke arah Dion, "Tak apa, Mas. Kan sudah aku bilang, urusan yang berkaitan sama Pak Ezra dan Bu Raya berarti urusanku juga".


Dion tersenyum menatap Aura, "Calon istri ini baik sekali. Tidak salah aku memilihmu. Sayang, daripada kita bertunangan dulu, bagaimana kalau kita langsung menikah saja? nanti biar aku yang sampaikan hal ini pada kedua orang tuamu dan juga orang tuaku, bagaimana?".


Aura terdiam sejenak, "Apa tidak terburu-buru, Mas?. Apalagi kondisi bossku saat ini sedang berduka".


"Tenang saja, aku yang akan mengurusnya. Ya kita tidak akan langsung menikah besok atau minggu depan, sayang. Kita tunggu sampai keadaan lebih stabil dari sekarang. Ezra pasti mengerti", terang Dion meyakinkan Aura.


"Iya, Mas. Aku rasa jika kita langsung menikah itu lebih baik", akhirnya Aura setuju.


"Nah gitu dong. Aku gak mau berlama-lama seperti ini. Aku sudah sangat menginginkanmu sepenuhnya", ucap Dion jujur.


Wajah Aura merona merah, "Mas Dion, ih bahasanya", ucapnya malu.


"Kenapa? apa ada yang salah dengan ucapanku?", tanya Dion pura-pura tidak paham.


Aura menundukkan wajahnya menahan malu, kekasihnya itu memang terlalu jujur soal perasaan.


"Kamu malu ya? jangan malu gitu dong, aku kan jadi gemas", ucap Dion lagi sambil melirik ke arah Aura, dia berusaha mencari wajah gadis itu.

__ADS_1


"Pokoknya setelah menikah nanti, aku pastikan kamu akan bahagia bersamaku", janji Dion.


__ADS_2