
"Bagaimana kondisi istriku, Dok?", Ezra tampak cemas menunggu penjelasan Dokter yang baru saja selesai memeriksa Raya.
"Kondisi Bu Raya baik, Tuan. Hanya saja untuk memastikan hasil dan kondisi yang lebih akurat,ada baiknya Anda membawa Bu Raya untuk melakukan USG", jawab Dokter Ayu.
Ezra mengernyitkan dahi, "USG?".
Dokter Ayu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ya. Dari pemeriksaan sementara, istri Anda sedang hamil. Tapi saya tidak bisa memastikan usia dan kondisi janin yang dikandungnya. Apa Anda belum mengetahui kehamilan tersebut?", tanya Dokter Ayu balik bertanya.
Ezra terdiam. Dia sungguh terkejut mendengar hasil pemeriksaan Dokter.
"Be ... benarkah istriku sedang hamil?", Ezra mencoba mencari kepastian dari Sang Dokter.
Lagi, Dokter Ayu menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya ini menjadi kejutan untuk Anda, Tuan. Saya ucapkan selamat dan sebaiknya Anda segera membawa istri Anda ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut", ucap Dokter Ayu ikut merasa bahagia.
"Baik, Dok. Terima kasih".
"Sama-sama. Oh ya, saya sudah memberikan vitamin untuk Bu Raya dan mohon dijaga asupan makanan serta istirahatnya".
"Baik, Dok. Sekali lagi terima kasih", ucap Ezra.
"Iya, Tuan. Semoga kondisi Bu Raya bisa cepat pulih. Kalau begitu saya permisi", Dokter Ayu berpamitan.
Ezra menganggukkan kepala dan meminta Mbok Nah untuk mengantarkan Sang Dokter keluar.
Setelah Dokter Ayu pergi, Ezra segera menghampiri istrinya yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Ezra menatap wajah lelap Raya dengan penuh cinta sambil memegang tangannya. Sungguh, dia tidak menyangka jika Raya sedang mengandung. Terlebih setelah kecelakaan beberapa waktu lalu, dokter sempat mengatakan mungkin mereka butuh waktu yang tidak sebentar untuk kembali bisa memiliki seorang anak.
"Mas ...", Raya mulai membuka kedua matanya.
"Kamu sudah sadar, sayang. Apa ada yang sakit?", Ezra semakin merapatkan tubuhnya pada Sang istri. Kedua mata elangnya dengan tajam memindai setiap bagian tubuh istrinya itu.
Raya menggelengkan kepalanya. Wajahnya masih tampak pucat.
"Mas ... Razka mana?", Raya teringat dengan anaknya yang beberapa waktu lalu pergi keluar bersamanya.
"Razka ada sama Suster dan Mama. Kamu jangan khawatir", jawab Ezra.
Raya berusaha bangun dibantu oleh Ezra.
"Kamu mau minum?".
"Iya, Mas".
Ezra mengambil gelas berisi air putih yang ada di atas nakas.
"Terima kasih".
"Sama-sama, sayang. Boleh aku tanya sesuatu?".
__ADS_1
"Apa, Mas?".
"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu sedang hamil?", ucap Ezra hati-hati.
"Apa, Mas? aku hamil?", Raya tampak terkejut mendengar pertanyaan suaminya.
Ezra menganggukkan kepala, "Tadi Dokter Ayu datang kemari untuk memeriksa keadaanmu karena kamu pingsan di taman komplek. Kata dokter, kamu sedang hamil dan kita harus segera memeriksakannya ke dokter kandungan", terang Ezra.
Raya terdiam. Dia masih tidak percaya dengan pendengarannya. Selama ini Raya hanya berpikir kondisi kesehatannya menurun karena aktivitas dan kesibukannya di rumah juga di toko.
"Serius Mas aku hamil?", tanya Raya lagi masih tak percaya.
"Iya, sayang".
Spontan, Raya segera memeluk suaminya dengan erat. Keduanya larut dalam rasa haru yang dalam.
"Tuhan Maha Baik. Aku hamil lagi, Mas", bisik Raya dalam dekapannya suaminya.
"Iya, sayang. Kita harus bersyukur dan menjaga anugerah ini dengan baik".
"Iya, Mas".
Ezra dan Raya masih berpelukan dengan erat dan pelukan itu baru saja lepas saat terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Bagaimana kondisi Raya?", Mama Laura menghambur masuk dengan wajah cemas.
"Seperti yang Mama lihat, aku baik-baik saja", Raya menjawab pertanyaan Mama Laura dengan wajah cerah.
"Tak apa, Ma. Terima kasih Mama sudah menggantikan aku untuk mengurus Razka".
Mama Laura tersenyum dan memeluk menantunya itu dengan hangat.
"Ma, kami punya kabar bagus buat Mama dan Papa", Ezra bersuara.
Mama Laura melepaskan pelukannya pada Raya dan beralih menatap Ezra yang sedari tadi duduk tak jauh dari samping tempat tidur.
"Apa?".
"Mmm ... sebentar, Papa mana?".
"Papa tadi gantian sama Mama ajak Razka main di taman belakang".
"Oh, ya sudah aku ajak Papa dulu untuk ke sini dulu".
Ezra segera berlalu dari kamar itu.
Mama Laura mengernyitkan dahinya, heran.
"Ada berita apa?", tanya Mama Laura pada Raya.
Raya tersenyum, "Biar nanti Mas Ezra saja yang menyampaikannya, Ma. Aku takut salah".
Mama Laura menghela nafas sambil membalas senyuman dari Raya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Ezra sudah kembali ke kamar bersama Papa Hadinata. Dia langsung mengajak Sang Papa untuk duduk bersamanya di sofa.
"Ada apa, Ezra?", tanya Papa Hadinata.
Ezra menatap semua orang yang ada di ruangan itu bergantian.
"Raya hamil, Ma, Pa", jawab Ezra to the point.
"Apa? hamil?", Mama Laura terkejut.
"Maksud kamu, cucu Papa dan Mama akan bertambah?", Papa Hadinata pun ikut terkejut.
Ezra menganggukkan kepala dengan wajah sumringah.
Mama Laura dan Papa Hadinata berbalik menatap Raya yang masih menyandarkan tubuhnya ke kepala tempat tidur. Kedua orang tua itu seolah meminta kepastian dari menantunya.
"Iya, Ma, Pa. Aku sedang hamil, secepatnya aku dan Mas Ezra akan memeriksakannya ke dokter kandungan", terang Raya.
"Ya Tuhan, Mama bahagia sekali mendengar kabar ini", lagi, Mama Laura memeluk Raya.
"Papa juga ikut bahagia. Kamu harus menjaganya dengan baik", Papa Hadinata menepuk bahu Ezra yang duduk di sampingnya.
"Iya, Ma, Pa", janji Ezra.
"Mulai detik ini juga, kamu harus pastikan istrimu jangan sampai kelelahan lagi dan urusan toko, sebaiknya biarkan Prita yang handle, ya. Mama tidak mau terjadi hal buruk pada Raya dan cucu Mama", Mama Laura mulai memberikan ultimatum pada Ezra dan Raya.
"Iya, Ma. Ezra pasti akan lebih menjaga Raya sekarang", lagi, Ezra berjanji.
"Jangan lupa luangkan lebih banyak waktu untuk istrimu juga. Jangan terlalu sibuk dengan urusan kantor", imbuh Papa Hadinata.
Ezra tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Suasana kediaman Hadinata dipenuhi dengan kebahagiaan, bahkan sore harinya Mama Laura menugaskan Mbok Nah untuk memasak banyak makanan enak dalam rangka syukuran keluarga atas berita kehamilan Raya.
"Mas ... apa ini semua tidak terlalu berlebihan?", Raya menatap suaminya sesaat setelah mereka tiba di meja makan.
Ezra tersenyum, "Tidak, sayang. Semua orang di rumah ini berbahagia untuk kita. Jadi, kita nikmati saja".
"Baiklah, Mas".
"Oh ya, aku sudah menghubungi dokter kandungan di rumah sakit. Besok pagi kita bisa menemuinya langsung".
"Iya, Mas".
Suasana di meja makan semakin meriah setelah Mama Laura juga Papa Hadinata turun sambil menggendong Razka yang tampak aktif.
"Aduh cucu Grandma pasti senang ya mau punya adik", ucap Mama Laura yang sedari tadi memerhatikan tingkah Razka dalam gendongan suaminya.
"Iya dong, nanti ada teman main", jawab Papa Hadinata.
"Kamu lihat, Razka juga ikut bahagia dengan kehadiran calon adiknya ini", Ezra mengelus perut Raya yang masih rata.
Senyum Raya terulas indah di bibirnya. Sungguh, dia merasa diberkati ada di tengah-tengah keluarga Hadinata.
__ADS_1