
"Sayang, kamu sedang apa?", Ezra menghampiri Raya yang tampak asyik mengabiskan petang di gazebo taman belakang.
Raya tersenyum melihat kedatangan suaminya.
"Aku sedang merangkai bunga untuk mengisi vas ini, Mas", Raya menunjukkan dua buah vas bunga baru yang tadi dibeli oleh Mama Laura dari swalayan.
"Jangan terlalu lelah, ya", Ezra mengelus lembut kepala Raya yang tertutup oleh jilbab.
"Iya, Mas. Kegiatan ini tidak melelahkan kok. Justru aku bosan kalau istirahat terus".
Ezra tersenyum menatap istrinya yang tampak begitu bahagia.
"Mas Ezra baru pulang ya? kemejanya belum diganti. Aku siapkan baju ganti dulu ya Mas sekalian air hangat buat Mas Ezra mandi", Raya bersiap beranjak dari tempat duduknya.
Ezra segera menahan tangan istrinya, "Tidak usah. Kamu di sini saja, biar aku mandi dan ambil baju ganti sendiri, ya", ucap Ezra lembut.
"Baiklah, Mas".
"Aku masuk dulu. Nanti kalau sudah selesai, aku ke sini lagi".
"Iya, Mas".
Raya melepas kepergian Ezra dengan senyum manis di bibirnya.
Ezra bergegas naik ke kamarnya di lantai atas. Dia segera mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah sekitar setengah jam, Ezra kini tampak segar dan wangi. Sesuai janjinya, dia turun lagi ke bawah, menuju gazebo di taman belakang.
"Ezra, kemari sebentar, Mama mau bicara", Mama Laura yang tengah duduk di ruang keluarga menahan langkah kaki putranya.
"Ya, Ma. Ada apa?".
"Duduk dulu", pinta Mama Laura.
Ezra duduk di samping Sang Mama dan fokus menunggu Mamanya bicara.
"Tadi Papa dapat telepon dari Om Ardi, katanya Razka sakit".
"Razka sakit, Ma?"
Mama Laura menganggukkan kepalanya.
"Om Ardi belum menghubungiku. Mama dapat kabar Razka sakit apa?", tanya Ezra mulai cemas.
"Tadi Om Ardi bilang Razka demam tinggi dan sempat kejang juga. Sekarang dia dirawat di rumah sakit. Apa kamu mau menjenguknya ke sana?".
__ADS_1
Ezra terdiam sejenak. Dia memikirkan Razka dan juga kondisi Raya.
"Kamu jangan khawatir dengan Raya. Mama dan Papa kan masih di sini. Kalau kamu mau pergi menjenguk Razka, biar kami yang menjaganya istrimu di sini", ucap Mama Laura seolah dia bisa membaca keresahan dalam diri Ezra.
"Iya, Ma. Tapi sebetulnya aku berpikir untuk mengajak Raya ke sana. Aku ingin mempertemukan Raya dengan Razka dan juga Om Ardi".
"Kamu yakin?", tanya Mama Laura memastikan.
Ezra menganggukkan kepalanya.
"Aku rasa kondisi Raya saat ini sudah jauh lebih baik, Ma. Aku sudah tidak tahan jika harus lebih lama lagi menyembunyikan semuanya dari istriku. Nanti aku coba berkonsultasi dengan Dokter Firman tentang kondisi Raya. Kalau aman, aku akan mengajaknya ke sana", tekad Ezra.
Mama Laura menghela nafas panjang. Dia sebetulnya mengkhawatirkan rencana putranya itu, tapi di sisi lain Ezra memang harus secepatnya menjelaskan semua keadaan ini pada Raya.
"Ya sudah kalau itu sudah jadi rencana kamu. Sebaiknya secepatnya kamu temui Dokter Firman untuk memastikan kondisi Raya, ya", Mama Laura menatap Ezra dengan lekat.
"Iya, Ma. Aku temui Raya dulu ya di belakang".
"Iya, sayang".
Ezra pun beranjak pergi dari hadapan Sang Mama.
Meski pikirannya cemas karena berita sakitnya Razka, tapi Ezra berusaha menyembunyikan hal itu di depan Raya.
"Kamu sudah selesai merangkai bunganya, sayang?", tanya Ezra yang kini sudah duduk di samping Raya.
"Bagus, kamu sepetinya berbakat merangkai bunga", puji Ezra tulus.
Senyum Raya kembali mengembang di bibirnya.
"Sayang, bolehkah aku bertanya sesuatu?", tanya Ezra serius.
Raya membalikkan tubuhnya menghadap Ezra.
"Tentu. Apa itu, Mas?".
Ezra menarik nafas sejenak sebelum dirinya berbicara.
"Mmm ... tentang anak", ucap Ezra hati-hati.
"Anak? maksudnya bagaimana, Mas?", Raya mengernyitkan dahinya karena bingung.
Ezra menatap dalam kedua mata Raya. Ada ragu di hatinya untuk menceritakan tentang Razka pada istrinya itu.
"Begini, sayang, kamu keberatan tidak jika misal kita merawat seorang anak?", tanya Ezra hati-hati.
__ADS_1
Raya terdiam sejenak, dia mulai paham arah pertanyaan suaminya.
"Mas Ezra mau mengadopsi seorang anak?", Raya balik bertanya untuk memastikan.
"Bukan adopsi, tapi mengurus seorang anak", jawab Ezra tenang.
Raya mengernyitkan dahinya lagi, "Mengurus seorang anak, ya berarti mengadopsi, Mas. Maaf ya Mas karena bayi kita tiada Mas Ezra jadi terpikir untuk mengadopsi anak lain".
Raut wajah Raya berubah sendu. Dia teringat lagi dengan peristiwa kecelakaan yang merenggut janinnya.
Ezra menarik Raya dalam pelukannya. Dia mendekapnya dengan erat. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak dalam hati Ezra.
"Bukan begitu, sayang. Tidak ada anak yang akan kita adopsi".
"Lalu apa maksud Mas Ezra dengan mengurus anak itu?", Raya menarik dirinya dari pelukan Ezra. Dia beralih menatap lekat Sang suami.
Ezra menghela nafas dalam, "Secepatnya kamu akan tahu maksudku. Oh ya, besok kita ke rumah sakit dulu untuk bertemu dengan Dokter Firman. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, tapi aku butuh kepastian dari dokter bahwa kondisi kamu sudah aman untuk bepergian jauh".
Lagi, Raya dibuat terheran-heran dengan ucapan suaminya itu.
"Aku belum paham, Mas. Sebetulnya ada apa ini?".
Ezra tersenyum menatap Raya, "Nanti kamu akan tahu, sayang. Pokoknya besok kita bertemu dokter dulu, ya".
"Hmm ... Baiklah", jawab Raya meski hatinya diliputi banyak pertanyaan.
Benar saja, keesokkan harinya Ezra mengajak Raya untuk bertemu dengan Dokter Firman. Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya Ezra mendapat kepastian dari dokter bahwa Raya sudah bisa diajak melakukan perjalanan jauh dengan beberapa catatan.
"Nah, lusa kita akan berangkat ke negara Y. Jadi, setelah dari sini kita mampir ke toko sebentar, lalu kamu minta Prita untuk menggantikanmu mengelola toko dan setelah itu kita pulang untuk beristirahat", ujar Ezra saat dirinya dan Raya sudah berada di dalam mobil.
Raya masih belum mengerti ada apa dengan suaminya itu?.
"Mas, dari kemarin aku terus terpikir dengan maksud dan semua rencanamu ini. Tolong beri tahu aku, ada apa sebetulnya?", tanya Raya penuh kebingungan.
"Aku janji secepatnya akan menjawab pertanyaan kamu. Tapi tidak di sini. Oh ya, kamu sepakat kan kalau pengelolaan toko dipindah tangankan pada Prita?", Ezra mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa, Mas? aku kan masih ingin mengurus tokoku sendiri", Raya keberatan.
"Sayang, aku tidak mau kamu kelelahan seperti waktu itu dan nanti aktivitas kamu akan jauh lebih sibuk daripada mengurus toko. Jadi tolong, kali ini kamu penuhi permintaanku, ya", Ezra mengusap lembut kepala istrinya.
Raya terdiam. Hati kecilnya tak setuju dengan rencana Ezra. Tapi jika mengingat kondisinya saat ini, mau tidak mau Raya harus menyetujui hal itu.
"Baiklah, Mas. Setelah dari sini aku akan berbicara dengan Prita. Tapi apa Masa yakin akan menyerahkan pengelolaan toko itu sepenuhnya sama dia?", Raya masih meminta kepastian.
Ezra tersenyum menatap Raya yang juga masih bersikukuh dengan urusan toko pastrynya.
__ADS_1
"I know, she was doing job so well at your store. So, please trust to her, dear", jawab Ezra yakin.
Pada akhirnya Raya menyetujui saja semua rencana Ezra untuknya.