
"Mbok, terima kasih untuk makan malamnya. Enak sekali", puji Raya setelah ia menghabiskan lauk pauk yang ada di piring.
"Nggih, Non. Mbok senang lihat Non Raya makan dengan lahap", ucap Mbok Nah penuh senyum.
Raya pun ikut tersenyum, "Maaf ya Mbok, belakangan ini makanku banyak".
Keduanya tertawa bersama-sama.
"Tak apa, Non. Oh ya ampun, Mbok lupa belum menyiapkan pakaian ganti untuk Tuan Ezra", Mbok Nah segera merapikan meja makan agar bisa bergegas mengerjakan pekerjaan itu.
"Mmm ... Mbok, malam ini biar aku saja yang menyiapkan pakaiannya. Mbok bisa merapikan meja makan dengan tenang, ya", tawar Raya.
"Baik, Non".
Raya segera menuju ke lantai atas. Meskipun dia tahu suaminya pasti akan marah jika sampai tahu pakaiannya disiapkan oleh Raya.
"Maaf ya Mas aku masuk kamar ini tanpa izin lagi", ucap Raya pelan di depan pintu.
Dia menatap seisi kamar bernuansa putih itu, lalu menghampiri lemari untuk mengambil pakaian ganti suaminya.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya Ezra tiba di rumah.
Pak Seno segera membukakan pintu gerbang.
"Pak, tolong masukkan mobil ke garasi. Aku lelah", Ezra memberikan kunci mobilnya ke Pak Seno.
"Nggih, Tuan", Pak Seno segera mengambil kunci tersebut.
Nafas Ezra masih terengah-engah. Rasa panas di tubuhnya tidak juga hilang, justru semakin menjadi-jadi.
Dia segera berjalan menuju kamarnya dan melihat pintu kamar yang tidak tertutup rapat.
Ezra membuka pintu kamar itu dan melihat Raya tengah menata pakaian gantinya di atas tempat tidur. Ia masuk dan mengunci pintu kamarnya tanpa disadari oleh Raya.
Saat itu, Raya tidak menyadari kedatangan suaminya.
"Sudah selesai, sebaiknya aku siapkan juga air mandi untuk Mas Ezra", ucap Raya senang.
Deg
Baru saja hendak Raya berbalik ke kamar mandi, tetiba saja dua tangan kekar melingkar di pinggang Raya.
__ADS_1
"Si ... siapa?", tanya Raya gugup dan takut.
Ezra menautkan dagunya di bahu Raya, "Ini aku. Sedang apa kamu di sini?", Ezra menjawab sambil menyusupkan wajahnya ke leher Raya. Suaranya terdengar lembut.
Meskipun Raya mengenakan jilbab dan piyama tertutup, tapi Ezra bisa menghirup aroma harum yang menyeruak dari tubuh istrinya itu.
"Tubuhmu wangi sekali", bisik Ezra tepat di telinga Raya.
"Ma ... Mas Ezra kapan datang?", Raya semakin gugup dengan sikap suaminya yang tak biasa.
Selama delapan bulan menikah, ini adalah kali pertama Ezra menyentuh istrinya.
"Diamlah sebentar saja", bisik Ezra lagi. Ia tak menjawab pertanyaan Raya. Tindakan Ezra kembali membuat Raya bergidik karena geli, malu, dan ada perasaan aneh yang menyeruak.
Ezra menyibakkan jilbab yang dikenakan Raya. Ia benar-benar menikmati aroma tubuh istrinya itu. Ezra menghirupnya dengan dalam.
"Mas ...", Raya terkejut. Dia berusaha membalikkan tubuhnya tapi tidak bisa karena pelukan Ezra terlalu kuat.
Nafas Ezra semakin memburu dan bahkan kini satu tangannya mulai menyentuh punggung Raya, mengusapnya dengan lembut, sedangkan satu tangannya yang lain menahan Raya agar tetap ada dalam dekapannya.
Di tengah rasa gugup itu, Raya merasakan gelanyar yang berbeda dari sentuhan suaminya. Terlebih Ezra semakin dalam menghirup aroma tubuhnya.
"Mas ... tolong lepas", pinta Raya hati-hati.
Raya terdiam. Dia tahu ini tidak salah dilakukan oleh seorang suami, tapi ini terlalu aneh dan tiba-tiba bagi Raya.
"Mas ... tolong, lepas. Nanti ada orang rumah yang melihat kita", pinta Raya lagi dengan asal beralasan.
Ezra tersenyum penuh arti. Tapi setelah mendengar istrinya meminta hal yang sama dua kali, akhirnya Ezra melepaskan pelukannya. Kali ini dia membalik tubuh Raya, menariknya dalam dekapan yang lebih dalam hingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dengan istrinya itu.
Raya semakin terkejut, ia bahkan tak berani beradu tatap dengan Ezra, sedangkan saat ini hasrat Ezra semakin memuncak namun dia masih berusaha menahannya dan bersikap lembut pada Raya.
"Jangan menunduk, tatap aku", pinta Ezra sambil mencoba mengangkat dagu Sang istri.
Raya tidak bisa lari dari kondisi ini dan saat mata mereka beradu, Raya melihat kilatan yang berbeda dari kedua mata Ezra, tapi dia tidak bisa mengartikan itu.
"A ... apa Mas sakit?", pertanyaan polos itu meluncur begitu saja dari mulut Raya. Terlebih Raya melihat dahi suaminya yang basah oleh keringat.
Ezra tersenyum, dia menyentuh pipi lembut Raya.
"Buka jilbabmu", pinta Ezra tanpa menjawab pertanyaan Raya.
__ADS_1
"Tapi ... Mas ...".
"Buka", perintah Ezra lagi.
Raya terdiam, dia menundukkan lagi wajahnya.
"Aku ini suamimu, tidak menjadi dosa jika kamu membuka jilbabmu di depanku", lanjut Ezra.
Raya menekan salivanya dalam-dalam. Baginya membuka jilbab di depan Ezra adalah hal yang berat meski ia tahu lelaki itu adalah suaminya.
"Kamu yang buka atau ...".
"Sebentar, Mas".
Meski ragu, akhirnya Raya membuka jilbabnya. Ia merasa sangat malu saat ini. Berbeda dengan Ezra yang justru tersenyum senang melihat penampilan istrinya. Ia bisa melihat rambut Raya yang hitam, harum, dan terikat dengan rapi.
Ezra melepas ikatan rambut Raya dengan lembut dan berkali-kali dia menarik nafas dalam untuk menekan hasratnya yang semakin bergejolak. Meskipun dia ingin segera melampiaskan hasrat itu, tapi Ezra tidak ingin berlaku kasar pada Raya. Sikap dia yang tiba-tiba seperti ini saja sudah membuat istrinya ketakutan, apalagi jika dia langsung melakukannya pada Raya.
"Kamu cantik, kenapa selama ini aku tidak menyadarinya?", puji Ezra tulus sambil bertanya pada dirinya sendiri.
Ya, meski hasrat yang ia rasakan saat ini adalah karena ulah Gita, tapi akal sehat Ezra masih bisa digunakan dengan baik, dia baru menyadari betapa cantik istri yang selama ini tidak pernah ia lihat dengan baik.
Wajah Raya merona, dia benar-benar bingung dan tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya saat ini.
"Raya, malam ini aku menginginkan hakku sebagai suamimu. Izinkan aku menyentuhmu, ya", Ezra mengucapkan hal itu dengan sepenuh hati.
Deg
Debaran jantung Raya semakin tidak terkendali. Ia tidak tahu harus bersikap apa. Dia hanya menyadari bahwa sebagai seorang istri dia harus melayani suaminya dengan baik.
Malam semakin larut dan udara semakin dingin. Hujan gerimis yang turun sejak tadi sore semakin mendekatkan sepasang suami istri ini.
Ezra menatap lekat wajah dan kedua mata Raya yang indah. Di bawah cahaya lampu dengan jarak wajah yang sangat dekat, Ezra semakin melihat jelas rona merah di pipi istrinya. Raya berusaha menutupi wajahnya karena tak tahan dengan rasa malu yang menyeruak.
"Jangan tutupi wajahmu, aku suka melihatnya. Malam ini aku akan menyentuhmu lebih dari ini, aku harap tidak ada penolakan dan keterpaksaan", ujar Ezra dengan nafas yang semakin memburu.
Raya terdiam, dia merasakan degup jantungnya semakin kencang dan tak karuan.
"Kenapa kamu diam, hm?", tanya Ezra lembut.
Saat ini Raya ingin sekali bisa menghilang dari pandangan suaminya itu. Tapi apa daya, kini mereka begitu dekat.
__ADS_1
"Aku anggap diammu adalah persetujuan. Izinkan aku menyentuhmu, Raya", lanjut Ezra lagi karena ia tak jua mendapatkan jawaban dari istrinya.
Suasana kamar yang semula terang kini berubah menjadi temaram. Hasrat yang sedari tadi begitu menyiksa Ezra akhirnya berakhir pada tempat yang seharusnya.