Izinkan Aku Menyentuhmu

Izinkan Aku Menyentuhmu
Sadar


__ADS_3

"Benar dugaanku, ternyata kamu pelakunya. Kenapa kamu melakukan hal jahat itu pada istriku? punya dendam apa kamu padanya, hah?!", Ezra berjongkok menatap marah wajah Gita yang tampak terkejut melihat kedatangannya.


"Mmm ... mmm", Gita bersuara dibalik lakban yang mengunci mulutnya.


Dion yang juga ada di ruangan itu kembali memberikan kode pada anak buahnya untuk membuka penutup mulut Gita.


"Ezra sialan, lelaki brengsek. Istrimu pantas mati ha ha ha", Gita mengeluarkan sumpah serapah dan tertawa jahat di hadapan Ezra.


Tatap mata Ezra semakin dipenuhi kemarahan, kedua tangannya terkepal kuat menahan emosi.


Dion yang berdiri tak jauh darinya segera menghampiri Ezra dan menepuk bahu sahabatnya itu. Dion menggelengkan kepalanya sedikit sebagai kode agar Ezra tidak bermain fisik pada sandera.


Ezra menarik nafas dalam berkali-kali untuk meredakan emosinya.


"Katakan, apa alasanmu meracuni istriku, hah?!", tanya Ezra dengan nada tinggi.


Gita tersenyum sinis memandang lelaki yang dulu begitu ia puja.


"Apa kamu lupa bagaimana dulu kamu memperlakukan aku? kamu seenaknya menolak dan membuangku di jalanan, padahal aku sangat mencintaimu, aku menginginkanmu, Ezra Hadinata", jawab Gita santai.


"Cih, wanita murahan. Kamu sendiri tahu bukan, sedari awal kita bertemu aku sama sekali tidak pernah tertarik dengan wanita sepertimu. Kamu harus membayar mahal kejahatanmu pada istri dan anakku!", tegas Ezra.


Lagi, Gita tersenyum sinis ke arah Ezra.


"Silahkan saja, aku tidak peduli. Setidaknya balas dendamku sudah tercapai. Jika aku tidak bisa memiliki kamu, maka wanita manapun tidak ada yang boleh memilikimu ha ha ha".


"Dasar wanita gila!", bentak Ezra.


Ezra berbalik, dia berjalan ke arah Dion.


"Gue percayakan urusan wanita sialan itu sama lo, Di. Thank's untuk bantuannya", ucap Ezra menatap sahabat karibnya itu.


Dion tersenyum, "Keep calm. Anak buah gue pasti mengurus Gita dengan baik. Sekarang lo bisa fokus sama kesembuhan Raya dan kesehatan bayi lo. Nanti sore, gue sama Aura datang berkunjung ke rumah sakit, ya", ucap Dion tulus.


"Gue tunggu", Ezra tersenyum pada Dion sebelum dia pergi dari tempat itu.


"Vicky, tolong urus dengan baik wanita jahat itu dan juga orang bayarannya. Pastikan dia membusuk di penjara. Semua barang bukti yang sudah aku berikan padamu, jaga dan gunakan dengan baik", perintah Dion pada Vicky, pria bertubuh kekar yang menjadi kepala seluruh anak buahnya.

__ADS_1


"Siap, boss. Kami akan mengurusnya dengan baik", ucap Vicky.


"Bagus. Kalau begitu, aku akan kembali ke rumah untuk membawa istriku mengunjungi istrinya Ezra di rumah sakit. Oh ya, pastikan kembali tempat ini bersih sebelum sandera di bawa ke kantor polisi".


"Baik, boss".


Vicky menatap kepergian bossnya dan segera menjalankan tugas yang tadi ia perintahkan.


Sementara itu di rumah sakit, Ezra bergegas menuju ruang ICU dan ia sempat berbincang dengan dokter yang selama ini merawat Raya.


"Istri Anda memang belum sadarkan diri, tapi kondisinya stabil, Tuan. Jika Tuhan berkehendak, dalam beberapa waktu ke depan, Istri Anda pasti akan segera sadarkan diri", terang Sang Dokter.


Ezra tersenyum tipis, "Iya, Dok. Lalu bagaimana dengan bayiku? apakah aku sudah bisa melihatnya?".


"Bayi Anda dalam kondisi sehat meskipun ia lahir prematur. Anda sudah bisa menemuinya di ruang NICU. Nanti saya tugaskan perawat untuk mendampingi Anda ke sana".


"Terima kasih, Dok".


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu memeriksa pasien yang lain".


Ezra menganggukkan kepala pada Sang Dokter tanda mempersilahkan.


"Dokter bilang kondisi Raya stabil, Ma. Kita tinggal menunggu dia sadar saja. Oh ya Ma, aku mau ke ruang NICU dulu untuk melihat anakku, dokter sudah memperbolehkan kita mengunjunginya di sana", terang Ezra.


"Benarkah? Mama juga ingin melihat cucu Mama. Tapi sebaiknya kamu dulu saja yang pergi ke sana, biar Mama di sini menjaga Raya".


"Iya, Ma. Aku titip Raya dulu ya, Ma. Suster sudah datang, aku akan ke ruang NICU sekarang".


Ezra berpamitan pada Mama Laura dan menghampiri suster yang baru saja tiba di ruang tunggu.


Setelah memastikan dirinya steril, suster mempersilahkan Ezra untuk masuk ke dalam ruang NICU setelah sebelumnya Sang Suster memberikan beberapa catatan yang harus diperhatikan oleh Ezra selama berada di dalam ruangan tersebut.


Ezra menganggukkan kepala tanda mengerti dengan segala hal yang boleh dan tidak boleh ia lakukan di ruang NICU.


"Silahkan, Tuan. Putri Anda ada di inkubator tiga", Suster menunjuk sebuah inkubator yang berada tak jauh dari jendela.


"Terima kasih, Sus", jawab Ezra.

__ADS_1


"Sama-sama, Tuan. Jika ada sesuatu, Anda bisa memanggil saya di ruangan ini", Suster menunjuk sebuah ruang kecil yang ada di dalam ruang NICU itu.


Ezra menganggukkan kepalanya dan perlahan tapi pasti, Ezra berjalan menghampiri inkubator yang tadi ditunjuk oleh Sang Suster.


Di dalam inkubator itu tampak seorang bayi mungil yang tengah tertidur lelap dengan berbagai peralatan medis yang menempel di tubuhnya.


"Hallo, sayang. Maaf ya Ayah baru bisa melihatmu sekarang. Bagaimana kabarmu hari ini, Nak? semoga keadaanmu baik dan sehat. Ayah ingin sekali menggendongmu", ucap Ezra perlahan.


Kedua matanya berkaca-mata menatap wajah polos nan mungil itu. Ezra memerhatikan setiap tarikan nafas bayinya.


Senyum tipis penuh haru terulas di bibir Ezra. Sungguh, saat ini hatinya berkecamuk antara sedih dan bahagia. Ya, Ezra merasa sedih karena istrinya belum sadarkan diri dan bayinya lahir prematur sehingga ia harus berada di inkubator seperti itu, tapi di sisi lain Ezra merasa bahagia karena kondisi Raya stabil dan anaknya pun tampak sehat meski tubuhnya harus dipenuhi banyak peralatan medis.


"Sayang, Ayah belum memberimu nama. Nanti kita tunggu Bunda kamu sadar ya, biar dia bisa melihat betapa cantiknya kamu dan bisa ikut memberikan nama yang indah buatmu", lanjut Ezra lagi di tengah rasa harunya.


Tak lama, Sang bayi bergerak, ia tampak menggeliat perlahan lalu membuka kedua matanya.


Ezra tersenyum manis melihat putri kecilnya bangun. Meski ia tahu Sang bayi belum bisa banyak merespon, tapi Ezra yakin putrinya itu mengetahui keberadaannya di sana.


"Kamu sudah bangun, Nak. Menggemaskan sekali. Ayah sungguh sangat ingin menggendong dan memelukmu", tanpa Ezra sadari air mata mengalir begitu saja dari kedua matanya.


Putri kecilnya mengedipkan kedua matanya seolah ia merespon ucapan Sang Ayah.


"Tuan, mohon maaf, baru saja saya mendapat kabar dari dokter kalau istri Anda sudah sadar", tetiba saja suster sudah berdiri di samping Ezra.


"Ah, benarkah itu?".


"Benar, Tuan. Jika Anda berkenan, Anda bisa segera memeriksanya di ruang ICU".


"Baik Suster, terima kasih. Saya berpamitan dulu pada putri kecil ini", ucap Ezra sambil melirik putrinya yang masih terjaga.


Suster menganggukkan kepala dan berlalu dari hadapan Ezra.


"Sayang, Bunda kamu sudah sadar. Ayah izin melihatnya dulu ya. Ayah janji nanti Ayah akan segera kembali ke sini dan datang membawa Bunda. Kamu harus jadi anak yang baik dan sehat, ok", ucap Ezra pada Sang putri.


Putri kecil yang belum diberi nama itu tersenyum seolah ia mengerti dengan ucapan Sang Ayah.


Ezra memanggil suster untuk berpamitan dari ruang NICU dan ia segera bergegas menuju ruang ICU.

__ADS_1


"Terima kasih Tuhan, kasih sayangmu sungguh besar bagi keluargaku", bisik Ezra salam hati.


__ADS_2