
Cuaca tampak cerah hari ini. Ezra dan Raya tengah berada dalam mobil, mereka menuju kediaman keluarga Wiratama.
"Mas, sebenarnya kita mau kemana sih?", tanya Raya yang sedari pagi bertanya-tanya dengan tujuan kepergian mereka.
Ezra melirik istrinya sambil tersenyum, "Sebentar lagi kita sampai, sayang".
Raya menghela nafas pendek. Dia akhirnya memilih untuk pasrah saja dengan perjalanan ini.
Mobil yang dikemudikan Ezra berbelok memasuki sebuah area rumah mewah bergaya modern. Kedatangan mereka disambut oleh beberapa orang yang tampaknya asisten rumah tangga di rumah itu.
"Mas, ini rumah siapa?", lagi, Raya bertanya. Kedua matanya masih menatap kemegahan rumah di depannya.
"Ayo, kita turun".
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Ezra terlebih dulu membuka pintu mobil.
Meski bingung, Raya tetap mengikuti ajakan suaminya.
"Selamat datang, Tuan, Nona. Tuan Besar sudah menunggu kedatangan Anda", seorang pelayan dengan tuxedo yang begitu rapi menyambut kedatangan Ezra dan Raya.
"Terima kasih", jawab Raya menundukkan sedikit kepalanya.
"Mari saya antarkan Anda ke dalam", ucap Sang pelayan lagi.
Ezra meraih tangan Raya. Tangan itu terasa dingin dalam genggamannya.
"Apa kamu gugup?", bisik Ezra melirik Sang istri yang berjalan di sampingnya.
Raya menganggukkan kepala, "Iya, Mas. Sebetulnya ini rumah siapa dan siapa yang akan kita temui?".
Ezra tersenyum tipis, "Tenang saja. Setelah ini semua pertanyaanmu akan terjawab".
Benar saja, tak lama Ezra dan Raya sudah sampai di sebuah ruangan yang tampak indah dengan berbagai interior modern yang menghiasinya.
"Silahkan duduk, Tuan, Nona. Sebentar lagi Tuan Besar turun untuk menemui Anda berdua", terang Sang pelayan.
"Baik, terima kasih", jawab Ezra pendek.
Dirinya dan Raya sudah duduk di sofa. Beberapa orang pelayan lainnya datang menyajikan jamuan.
"Maaf sudah membuatmu menunggu".
Tetiba saja terdengar suara dari arah tangga yang ada di ruangan itu.
"Om", Ezra beranjak dari tempat duduknya dan segera menghampiri lelaki paruh baya yang kini tersenyum ramah padanya juga Raya.
Daddy Ardi memeluk Ezra dengan erat lalu berjabat tangan dengan Raya.
__ADS_1
"Ini pasti Raya, ya. Senang sekali akhirnya kita bisa bertemu", ujar Daddy Ardi ramah.
"Iya, Om. Saya Raya. Senang bisa bertemu dengan Anda juga", jawab Raya santun.
"Ayo, kita duduk dan silahkan jamuannya dinikmati", Daddy Ardi menunjuk makanan dan minuman yang tersaji di meja.
"Terima kasih, Om", jawab Ezra, sedangkan Raya hanya tersenyum sambil menganggukkan sedikit kepalanya.
"Raya, kamu pasti bertanya-tanya ya aku siapa dan kenapa suamimu membawamu ke sini, benar?".
"Benar, Om".
Daddy Ardi tersenyum tipis, kedua matanya menatap Raya dengan lekat.
"Aku tidak biasa banyak berbasa-basi. Sebelumnya aku ingin minta maaf terlebih dahulu jika apa yang akan aku sampaikan dan apa yang akan kamu dengar di sini mungkin mengejutkanmu", Daddy Ardi mulai memasang mode serius.
Raya memperbaiki posisi duduknya. Dia bisa membaca ada hal penting yang akan disampaikan lelaki paruh baya itu. Sementara di sampingnya, Ezra lebih memilih untuk diam menunggu waktu dirinya bicara.
"Namaku Ardi. Aku adalah ayah dari Sindy. Dia putriku yang meninggal beberapa bulan lalu. Aku sudah lama mengenal Ezra dan keluarganya. Saat putriku masih ada, kami membuat kesalahan yang tentu sudaj menyakiti hati kamu", Daddy Ardi memulai pembicaraannya.
"Menyakiti? maaf Om, maksudnya bagaimana?", Raya menunjukkan ekspresi bingung. Dia sempat melirik sejenak ke arah suaminya, tapi Ezra hanya diam saja.
Daddy Ardi menarik nafas dalam. Dia tahu hari ini semua rahasia yang akan diungkapkan pasti menyakiti hati Raya. Tapi sesuai dengan yang sudah direncanakan, apapun resikonya, Daddy Ardi dan Ezra sudah menyepakati untuk mengatakan semuanya pada Raya.
"Raya, aku mewakili mendiang putriku ingin meminta maaf sama kamu. Jadi, putriku sudah bertahun-tahun menderita leukimia stadium lanjut dan permintaan terakhirnya waktu itu adalah menikah dengan Ezra, suamimu".
Daddy Ardi menganggukkan kepalanya. Dia sudah bisa menebak respon Raya akan seperti itu.
"Ya. Sebagai seorang ayah yang sangat menyayangi putri satu-satunya, aku akhirnya mengabulkan keinginannya saat itu. Berkali-kali aku berbicara dengan ayah mertuamu, memintanya bahkan memaksanya untuk membujuk Ezra agar bersedia menikah dengan putriku. Berkali-kali juga Ezra menolak, meski akhirnya pernikahan itu terjadi juga. Ya, suamimu menikahi mendiang putriku, Sindy", lanjut Daddy Ardi tanpa ragu.
Deg
Jantung Raya berdegup. Kali ini bukan karena gugup, tapi karena lagi-lagi terkejut mendengar kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
"Mas ... apa itu benar?", Raya berbalik menatap suaminya. Kedua matanya tampak berkabut menahan tangis.
Ezra menghela nafas berat, "Benar, sayang. Maafkan aku karena selama ini tidak jujur padamu".
Air mata Raya pun jatuh begitu saja. Ada rasa sakit yang kini ia rasakan dan mengoyak hatinya.
"Raya, suamimu tidak salah. Dia menikahi putriku karena aku yang memaksanya. Ezra sudah menolak permintaanku berkali-kali, tapi aku tetap memaksanya karena ingin mendiang putriku bahagia".
Raya menundukkan kepalanya, dia menyembunyikan wajah dan kedua matanya yang kini sudah sembab oleh air mata.
"Sekali lagi aku minta maaf jika pada akhirnya kamu akan terluka seperti ini. Aku tahu mungkin ini sudah sangat terlambat, tapi aku harap kamu bisa memaafkan suamimu. Dia hanya korban keegoisanku dan putriku saja", ucap Daddy Ardi dengan suara bergetar.
Raya masih terdiam. Bahunya tampak berguncang. Ezra yang duduk di sampingnya segera memeluk tubuh Sang istri.
__ADS_1
"Maafkan aku, sayang. Sungguh, aku tidak bermaksud mengkhianati cinta dan kepercayaanmu. Aku ...".
"Cukup, Mas. Aku kecewa sama kamu!", tegas Raya dalam dekapan Ezra, dia sempat berontak dari dekapan itu tapi Ezra menahannya.
"Maafkan keegoisanku dan putriku, Raya. Sekali lagi aku tegaskan bahwa suamimu itu sama sekali tidak bersalah atas ini semua. Jangan membencinya, aku mohon", ucap Daddy Ardi lagi.
Suasana di ruangan itu berubah sendu. Rasa marah, kecewa, dan sakit bercampur menjadi satu dalam hati Raya. Daddy Ardi dan Ezra bisa melihatnya dengan jelas.
"Permisi, Tuan. Ini cucu Anda", seorang pengasuh bayi tiba-tiba saja masuk dengan menggendong seorang bayi dalam dekapannya.
"Terima kasih. Kamu bisa kembali", Daddy Ardi beranjak dari tempat duduknya dan mengambil alih bayi itu dari Sang pengasuh.
Bayi mungil yang baru saja datang masih tampak tertidur dengan lelap.
"Raya, tolong lihat sebentar", Daddy Ardi membawa Razka ke dekat Raya.
Ezra melepaskan pelukannya dan membiarkan istrinya yang masih menangis untuk melihat bayi mungil dalam gendongan Daddy Ardi.
"Aku tahu kamu masih marah dan sedih, tapi aku tidak akan menunda waktu untuk mengenalkan cucuku padamu".
Raya menatap bayi itu dengan tatapan bingung.
"I ... ini ...", kalimat Raya menggantung.
Daddy Ardi seolah tahu kalimat apa yang akan keluar dari mulut Raya.
"Ya, ini adalah anak Sindy dan Ezra. Namanya Razka Arsenio Wiratama Hadinata", jawab Daddy Ezra tanpa ragu.
Air mata kembali mengalir dari kedua mata Raya, bahkan kali ini lebih deras. Rasa sakit yang ia rasakan semakin menjadi-jadi.
"Mas ...", Raya beralih menatap suaminya untuk menemukan jawaban.
Ezra menganggukkan kepalanya perlahan. Rasa bersalah yang sedari tadi dia rasakan semakin dalam.
"Ja ... jadi selama ini kamu sudah menikahi wanita lain tanpa memberitahuku dan kamu memiliki seorang anak bersamanya?", tanya Raya penuh penekanan. Kedua matanya masih menatap tajam ke arah Ezra
"Maafkan aku, sayang. Sungguh, aku tidak bermaksud menyakitimu seperti ini", Ezra meraih tangan Raya dan memegangnya dengan erat. Ada perasaan takut dan frustasi dalam dirinya yang tak lagi bisa dia kendalikan.
Raya merasa kehabisan kata-kata. Dia tidak tahu harus berbicara apalagi di tengah situasi ini.
"Raya, dengar, suamimu mengambil resiko besar dengan mengakui segalanya padamu. Kelahiran anak ini sebenarnya bukanlah hal yang suamimu inginkan. Mendiang putriku lah yang justru merencanakan hal buruk pada suamimu hingga dia akhirnya mengandung bayi ini dan melahirkannya ke dunia".
"Sebelum Ezra setuju untuk menikahi putriku, dia sudah mengajukan syarat untuk tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dan aku menyetujuinya. Tapi ternyata putriku melakukan berbagai cara untuk menggagalkan itu semua. Jadi tolong, kamu maafkan Ezra dan bayi ini", Daddy Ardi menjelaskan panjang lebar.
Kedua mata tuanya beralih menatap cucunya yang masih terlelap dalam dekapannya.
Meski tidak ada keraguan pada diri Daddy Ardi untuk mengungkapkan semuanya, tapi dia merasakan rasa bersalah yang sama pada Raya. Dia bisa melihat luka yang begitu dalam pada diri Raya dan itu semua karena dirinya juga mendiang putrinya, Sindy.
__ADS_1