Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 11.


__ADS_3

Keesokan paginya, Ruby berjalan dengan tergesa-gesa memasuki gedung Unique Jewelry, beberapa karyawan wanita masih meliriknya dengan sinis, tapi Ruby tak mau ambil pusing, dia hanya ingin fokus bekerja.


Dan hari ini janda cantik itu terlihat semakin memesona dengan pakaian yang lebih modis dan sedikit polesan make up di wajahnya. Rambut panjangnya dia biarkan tergerai indah.


Ruby langsung menuju meja kerjanya yang baru, tepat di seberang pintu ruangan CEO. Di atas meja sudah tergeletak selembar kertas yang dipenuhi dengan tulisan. Ruby mengambil kertas itu dan membacanya, ternyata itu ada tugas-tugas Ruby sebagai asisten pribadi CEO.


Sedang fokus membaca, tiba-tiba Ruby terkejut dengan suara langkah kaki, dia sontak menoleh ke samping dan sudah mendapati Dinan juga Hanan yang sedang berjalan ke arahnya.


Ruby seketika menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Dinan. ”Selama pagi, Pak.”


“Selamat pagi.” Balas Dinan. “Tolong buatkan saya kopi!”


“Baik, Pak.”


Dinan pun melenggang masuk ke ruangannya bersama Hanan setelah memberi perintah kepada Ruby.


Dengan senang hati Ruby bergegas ke Pantry untuk membuatkan kopi pesanan Bosnya itu, sebenarnya Ruby masih merasa malu saat bertemu Dinan, namun dia berusaha bersikap profesional.


Di Pantry Ruby merasa bingung, dia tentu tidak tahu selera Dinan seperti apa?


“Dia mau yang manis atau sedikit pahit, ya?” Ruby bertanya pada dirinya sendiri.


“Ah, yang sedang saja, lah!” Ruby pun meletakkan gula satu sendok teh.


Setelah selesai membuat kopi, dia bergegas mengantarkannya ke ruangan Dinan.

__ADS_1


“Ini kopinya, Pak.” Ruby meletakkan secangkir kopi yang dia buat di atas meja.


“Iya, letakkan di situ dan kamu boleh keluar!” Pinta Dinan tak acuh, dia sedang sibuk membolak-balik berkas di hadapannya.


“Baik, Pak.” Ruby pun keluar dari ruangan Dinan dan kembali ke meja kerjanya.


Selang beberapa menit, Ruby yang sedang menyusun barang-barangnya di atas meja kerja dikejutkan dengan suara bentakan Dinan yang tiba-tiba keluar dari ruangannya dengan membawa cangkir kopi yang Ruby antar tadi.


“Kamu sebenarnya bisa kerja tidak? Buat kopi saja tidak becus!”


Suara Bos tampan itu sangat kuat, hingga sampai terdengar ke ruangan administrasi yang tak jauh dari ruang CEO. Sinta dan beberapa karyawan lain sontak mengintip demi mencari tahu apa yang terjadi.


Ruby terkejut dan ketakutan. “Ma-maaf, Pak. Kopinya kenapa?”


“Saya sudah menambahkan gula, kok, Pak.” Jawab Ruby.


“Tapi kenapa masih pahit sekali?” Lanjut Dinan. “Buat kopi saja tidak bisa, bagaimana dengan pekerjaan lain? Kalau bukan karena dia yang merekomendasikan kamu, saya tidak akan menerima kamu menjadi asisten pribadi saya!”


Ruby tertunduk sedih. “Saya minta maaf, Pak.”


Tapi di dalam hatinya dia merasa bingung, siapa orang yang telah merekomendasikan dirinya untuk menjadi asisten pribadi Dinan?


Sementara Dinan memandang Ruby dengan tatapan menyesal, tapi dia tetap ingin menunjukkan kemarahannya.


“Sekarang buatkan kopi yang baru, jangan pahit seperti ini lagi!” Titah Dinan, kemudian bergegas kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Ruby mengembuskan napas berat, kalau saja dia tidak membutuhkan pekerjaan, mungkin saat ini dia sudah berlari pergi. Dengan langkah yang lemah Ruby kembali ke Pantry untuk membuatkan kopi baru, dia berjalan dengan kepala menunduk.


Sinta merasa kasihan kepada temannya itu, sedangkan karyawan administrasi lain yang juga mendengar dan melihat kejadian itu sontak saling berbisik.


“Oh, jadi si Ruby itu di rekomendasikan oleh seseorang? Tapi siapa, ya?” Seorang karyawan wanita berambut pirang bertanya-tanya.


“Mana aku tahu.” Seorang karyawati lainnya menyahut. “Kalau begitu berarti gosip kalau dia menggoda Pak Bos tidak benar, dong?”


Karyawan berambut pirang itu mengangguk. “Tapi tetap saja ini tidak adil, karena ada orang dalam, dia jadi dapat jabatan enak.”


“Lah, apa bedanya dengan Bu Yuka? Dia juga dapat jabatan enak karena ada hubungan keluarga.”


“Iya juga, sih! Pasti seseorang yang merekomendasikan Ruby itu bukan orang sembarangan, makanya dia bisa dapat jabatan enak dalam sekejap.”


Sinta yang mendengar ocehan mereka merasa kesal dan langsung menegur dua rekan kerjanya itu. “Hee, kalian ini hobi banget sih bergosip? Jangan suka iri dan mengurusi rezeki orang lain!”


“Sewot banget sih, Sin!” Sahut wanita berambut pirang.


“Kalian mau aku lapor ke Bu Yuka? Bukannya kerja, malah sibuk menggosip.” Ancam Jojo yang sedari tadi mendengar ocehan dua karyawati itu.


Dan ancaman dari Jojo itu berhasil membungkam mulut keduanya. Tapi meskipun mulut berhenti bicara, lagi-lagi jari jemari tak bisa diam jika sudah mendapatkan berita hangat, cerita tentang seseorang yang merekomendasikan Ruby seketika tersebar di grup karyawan dan menepis anggapan jika Ruby menggoda Dinan.


Tapi kali ini tidak ada hujatan dan tuduhan kejam seperti sebelumnya, hanya ada komentar yang mempertanyakan siapa seseorang yang telah merekomendasikan Ruby itu? Mereka sepertinya tidak terlalu antusias lagi jika tidak menyangkut Dinan.


💘💘💘

__ADS_1


__ADS_2