
Ruby berjalan masuk ke gedung Unique Jewelry dengan tidak bersemangat, hari ini dia kurang enak badan karena semalaman tidak bisa tidur.
Setiap karyawan yang melewati Ruby selalu menatap sinis sambil berbisik-bisik dan mencibir wanita itu. Ruby bingung melihat kelakuan mereka, bahkan ada yang terang-terangan menyindirnya.
“Pantas saja bisa dapat posisi enak, ternyata mainnya kotor.”
“Namanya juga janda yang butuh uang dan kehangatan, dasar murahan!”
“Dasar penggoda!”
“Pelakor!”
Ruby merasa terganggu dengan setiap umpatan dan kata-kata yang keluar dari mulut beberapa karyawan yang melewatinya, dia mempercepat langkahnya agar segera bertemu Jojo dan Sinta untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Safira yang berjalan di belakang Ruby juga memandang kakaknya itu dengan sinis, dia sudah melihat video yang tersebar di grup dan itu membuatnya semakin marah pada sang kakak.
Begitu tiba di ruang administrasi, Jojo dan Sinta langsung menghampiri Ruby dan menarik wanita itu ke mejanya. Sedangkan karyawan lain masih bereaksi sama, mereka melirik sinis Ruby sambil berbisik-bisik.
“By, kamu harus konfirmasi!” Pinta Jojo.
“Konfirmasi apa, Jo? Sebenarnya ada apa ini?” Cecar Ruby bingung.
“Video di grup chat itu.” Jawab Jojo.
“Video apa?” Tanya Ruby semakin bingung.
“Loh, kamu tidak tahu? Jangan bilang kamu belum lihat isi grup pagi ini? Sudah ramai banget, By!” Sela Sinta.
“Aku belum lihat, ponselku terbawa oleh Mas ....” Ruby terdiam, hampir saja dia keceplosan menyebut nama Dinan.
Jojo dan Sinta mengerutkan keningnya dan bertanya dengan serentak. “Terbawa siapa, By?”
“Bukan, bukan siapa-siapa!” Ruby mendadak gugup, lalu dengan cepat mengalihkan pembicaraan. “Memangnya video apa, sih?”
Jojo menyodorkan ponselnya ke hadapan Ruby. “Video ini, By?”
__ADS_1
Ruby tercengang dengan mata melotot saat melihat video dirinya tengah berpelukan dengan Dinan di jembatan. “Ya, Tuhan! Siapa yang mengirimkan video ini?”
“Tidak tahu, By. Nomornya asing dan dia baru saja masuk ke grup tadi pagi, lalu mengirimkan video ini. Bahkan dia membeberkan statusmu sebagai janda, jahat sekali!” Sahut Jojo kesal.
“Iya, By. Dan sekarang satu kantor menghujatmu karena video itu, seluruh karyawan heboh.” Sinta menimpali.
Ruby terdiam dengan jantung berdebar, dia mendadak takut, bukan pada hujatan karyawan lain tapi pada Safira dan Surya. Dia takut adiknya itu semakin marah kepadanya dan jika video ini sampai ke Surya, maka kemungkinan besar dia dan sang adik akan dipecat dari Unique Jewelry.
“By, kamu jujur, ya! Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan Bos Dinan? Kalian pacaran?” Hati-hati Sinta bertanya.
Ruby mendadak canggung, dia menelan ludah berkali-kali dan bingung harus mengatakan apa. “A-aku, aku ....”
Belum sempat Ruby melanjutkan kata-katanya, Samara datang dengan gaya angkuhnya, membuat semua orang menjadi tegang, terutama Ruby.
“Kau ikut denganku!” Titah Samara.
Ruby terdiam menatap Samara.
“Kau tidak dengar? Ikut denganku!” Ulang Samara lagi.
Samara pun melenggang pergi dari ruang administrasi, disusul oleh Ruby yang berjalan di belakangnya.
Jojo dan Sinta memandang cemas rekan kerja mereka itu.
“Bagaimana ini, Jo?”
“Bagaimana apanya?”
“Nasib Ruby lah, pasti calon istrinya Bos sudah melihat video itu.”
“Kita doakan semoga Ruby baik-baik saja.”
Sinta mengangguk dengan wajah cemas.
“Habislah si pelakor, pasti setelah ini dia dipecat.” Celetuk salah seorang karyawan wanita.
__ADS_1
“Eh, nyinyir banget! Bukannya kerja, sibuk mengurusi hidup orang lain. Aku adukan ke Bu Yuka baru tahu rasa.” Sergah Jojo dengan nada mengancam.
Karyawan wanita itu hanya mencibir dengan wajah masam.
💘💘💘
Samara mengajak Ruby ke kamar mandi wanita, lalu mengunci pintunya dari dalam.
“Kenapa anda membawa saya ke sini?” Tanya Ruby cemas sekaligus penasaran.
Samara menarik lengan Ruby dan mendorongnya ke depan wastafel yang terdapat sebuah cermin besar. “Lihat dirimu di cermin itu!”
Ruby menatap pantulan dirinya di cermin, hatinya masih bertanya-tanya, mau apa wanita ini?
“Sepertinya kau tidak pernah bercermin, ya? Makanya kau tidak sadar bagaimana dirimu.” Ucap Samara dengan nada mengejek.
Ruby termangu, dia merasa tersinggung dengan ucapan wanita seksi itu.
“Kau berpikir Dinan akan semudah itu termakan rayuanmu lalu meninggalkan aku hanya demi janda gatal sepertimu? Jangan mimpi!” Lanjut Samara.
Ruby menatap tajam Samara. “Saya tidak pernah merayu Mas Dinan, justru dia yang terus mengejar saya!”
Samara tertawa mengejek. “Apa kau bilang? Dinan yang mengejar mu? Jangan konyol, Ruby!”
“Dia hanya ingin bermain-main saja, sebab kau terlihat gampangan, bukan berarti dia mau serius dengan wanita murahan sepertimu. Karena Dinan itu mencintai aku dan kami akan segera menikah.” Lanjut Samara.
Ruby merasa terluka atas penghinaan Samara itu, emosinya mulai terpancing. Dia sudah tidak peduli lagi dengan nasibnya di kantor ini.
“Kalau dia mencintai anda, dia tidak akan mendekati wanita lain apa pun alasannya. Dan asal anda tahu, dia mencintai saya bukan anda, itulah alasannya mengapa dia tidak mau menikah dengan anda.” Balas Ruby menohok dan penuh percaya diri, dia tak ingin diam saja dituduh yang tidak-tidak.
“Kau pikir Dinan akan melepaskan berlian hanya demi kerikil? Jangan naif, ini bukan kisah Cinderella.” Ejek Samara.
Ruby tersenyum sinis. “Tapi kenyataannya dia lebih memilih kerikil seperti saya dari pada berlian seperti anda ini. Jadi jangan terlalu percaya diri.”
Plak ....
__ADS_1
💘💘💘