
Mobil Dinan pun berhenti di halte bus tak jauh dari rumah Ruby, tempat biasa dia menurunkan wanita itu jika mengantarnya pulang.
“Kamu yakin mau turun di sini?” Dinan memastikan.
“Iya, di sini saja, Mas.”
Dinan terlihat cemas. “Bagaimana kalau ada orang jahat yang ingin mencelakakan mu? Lihatlah ini sudah gelap dan jalannya sangat sepi.”
“Mas tenang saja, di sini aman, kok. Lagi pula aku sudah sering lewat jalan ini, tidak ada yang perlu ditakutkan.”
“Tapi aku jadi tidak tenang, By. Bagaimana kalau aku antar kamu sampai rumah? Agar aku bisa memastikan kamu selamat dan aman.” Cetus Dinan.
“Tidak usah, Mas.” Tolak Ruby. “Aku pasti sampai di rumah dengan selamat.”
“Baiklah, kalau begitu.” Dinan pun mengalah.
“Hem, Mas. Aku minta maaf karena tadi menggigit tangan Mas, pasti sakit banget, ya?” Sesal Ruby.
“Tidak apa-apa. Aku rela kamu gigit, seluruh badan juga boleh.” Seloroh Dinan dengan tatapan genit.
Ruby memukul pundak Dinan sambil tersipu malu. “Ish, Mas ini!”
“Eh, kenapa wajahmu merah begitu? Pasti berpikir jorok, ya?” Goda Dinan.
“Tidak, kok!”
Lagi-lagi Dinan tertawa dengan riang.
“Sudah, ah! Aku mau turun.”
“Ya sudah, kamu hati-hati!”
“Iya, Mas juga hati-hati di jalan.” Balas Ruby, dia hendak keluar dari mobil Dinan, tapi pria tampan itu menarik lengannya.
Ruby berbalik menatap Dinan dengan bingung.
__ADS_1
“Terima kasih, ya, By.” Ucap Dinan.
Ruby mengernyitkan keningnya. “Terima kasih untuk apa, Mas?”
“Karena kamu sudah menerima aku.” Sahut Dinan. “Aku berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakanmu, aku harap kamu bersabar sebentar sampai aku menyelesaikan semua ini.”
Ruby hanya tersenyum. Keduanya pun saling mengunci pandangan, dengan perlahan Dinan mendekati Ruby dan hendak mencium bibirnya, Ruby pun memejamkan mata. Tapi Dinan mengurungkan niatnya dan malah mengecup kening janda cantik itu, sebab dia takut Ruby berpikiran buruk seperti tadi.
Ruby membuka matanya dan menatap Dinan yang juga sedang menatapnya.
“Selamat malam, By.” Ujar Dinan dengan senyum yang mengembang.
“Selamat malam, Mas.” Balas Ruby dengan wajah merona, dia pun bergegas keluar dari mobil Dinan dan berjalan menuju rumahnya.
Meskipun Ruby sudah turun dari mobilnya, Dinan tetap di sana, memandangi kepergian wanita itu sekaligus menjaganya dari jauh. Sampai dia melihat Ruby berbelok ke halaman rumahnya, barulah Dinan bergerak meninggalkan tempat itu.
Ruby yang baru tiba di depan rumahnya terkejut karena melihat ada mobil Laura terparkir, dia tahu sahabatnya itu pasti mencemaskan dirinya. Tapi Ruby mendadak panik, jangan-jangan kedua sahabatnya itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Safira.
Ruby bergegas masuk dan mendapati Laura, Keke juga Safira sedang duduk di ruang tamu. Begitu melihat Ruby, Laura dan Keke sontak menjerit heboh lalu memeluk sahabat mereka itu.
“Kamu baik-baik saja, kan? Bos kamu itu tidak melakukan hal yang buruk, kan, By?” Cecar Keke heboh.
Ruby terdiam menelan ludah, dia melirik Safira yang sedang menatapnya dengan sinis.
“Aku baik-baik saja.” Jawab Ruby, tapi tatapannya masih tertuju ke sang adik.
Keke dan Laura melepaskan pelukan mereka.
“Syukurlah! Kami jadi khawatir saat menelepon mu dan tiba-tiba terputus.” Ujar Laura.
Ruby tiba-tiba teringat ponselnya yang masih berada di saku celana Dinan, tapi dia diam saja sebab tidak ingin Safira dan sahabat-sahabatnya itu tahu.
“Iya, aku juga cemas banget, By.” Sela Keke.
“Memangnya tadi kamu ke mana, By?” Laura kembali bertanya.
__ADS_1
“Tidak ke mana-mana, kami hanya mengobrol sebentar.” Sahut Ruby yang berusaha menutupi rasa gugup karena Safira terus menatapnya sinis.
“By, sepertinya Bos mu itu menyukaimu, deh. Terlihat sekali dari sikapnya tadi, dia cemburu.” Celoteh Laura yang tak menyadari kegusaran hati Ruby.
Safira yang wajahnya sudah masam, beranjak dan masuk ke dalam kamarnya, Ruby benar-benar merasa tidak enak. Padahal dia sudah berusaha menutupi semuanya dari sang adik, tapi ternyata sia-sia.
“Hem, guys. Apa kalian menceritakan semuanya pada Safira?” Tanya Ruby.
“Iya, tadi kami ceritakan ke dia.” Sahut Keke.
“Lalu dia bilang apa?”
“Dia hanya diam saja, tidak berkomentar apa pun.”
Ruby mengembuskan napas berat, dia bisa menebak jika Safira pasti semakin marah padanya.
Laura menatap curiga. “Ada apa, By?”
“Tidak ada apa-apa, kok.” Sanggah Ruby.
Laura dan Keke tidak percaya begitu saja, mereka merasa ada yang disembunyikan oleh Ruby.
“By, kami ini sahabatmu, kamu bisa ceritakan apa pun masalahmu pada kami.” Kata Laura dan diikuti anggukan kepala Keke.
Ruby memaksakan senyuman. “Kalian tenang saja, aku tidak ada masalah apa-apa, kok.”
Laura dan Keke masih menatapnya penuh selidik.
“Hem, aku lelah banget, nih. Ingin istirahat.” Imbuh Ruby demi mengalihkan pembicaraan.
“Ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu.” Ucap Laura.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku.”
Laura dan Keke tersenyum, lalu mengangguk serentak. Keduanya pun meninggalkan rumah sederhana milik Ruby.
__ADS_1
💘💘💘