Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 65.


__ADS_3

Dinan mencari-cari Samara, tapi wanita itu tidak ada di mana-mana, sepertinya dia juga meninggalkan kantor setelah melabrak Ruby tadi. Dinan menghubungi Samara dan sama sekali tidak ada jawaban, membuat emosinya semakin menjadi.


“Sialan!” Umpat Dinan. “Aku yakin dia pasti melakukan sesuatu pada Ruby.”


Dinan bergegas kembali ke ruangannya dengan perasaan dongkol.


“Bagaimana, kau sudah menemui Samara?” Tanya Hanan.


“Dia tidak ada, mungkin dia pulang dan sengaja menghindari aku karena dia telah melakukan kesalahan.” Tebak Dinan geram.


“Kalau begitu, sebaiknya sekarang kau temui Ruby dulu! Aku yakin saat ini dia pasti sangat sedih dan terluka.” Cetus Hanan memberikan saran.


“Iya, kau benar, Han. Aku titip kantor.” Dinan hendak pergi tapi suara Hanan menghentikan langkahnya.


“Lain kali kalau mau bermesraan jangan di tempat umum, sebaiknya sewa hotel saja, biar lebih aman!” Ledek Hanan.


“Berengsek kau, Han!” Maki Dinan, lalu melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa.


Hanan hanya tertawa mendengar makian Dinan, kemudian meminta salah seorang temannya untuk melacak nomor si pengirim video itu.


Tak butuh waktu lama, sebuah pesan masuk dari teman Hanan itu, dia sudah menemukan siapa pemilik nomor asing tersebut.


“Aku sudah menduga ini pasti ulahnya, dasar licik!” Ucap Hanan sembari mengeraskan rahangnya.


Dia pun beranjak keluar dari ruangannya dan memanggil beberapa orang karyawan yang tadi menghujat Ruby di grup, dia tak bisa tinggal diam melihat janda cantik itu dihina karena ulah seseorang yang licik.


Sementara itu, Samara justru sedang berada di rumah Surya, dia menunjukkan video itu dan mengadukan semua yang Ruby katakan kepadanya dengan penuh drama. Tentu dia tidak mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia telah menghujat dan bersikap kasar pada Ruby.


“Aku sedih banget, Om. Dia menghinaku. Padahal aku hanya bertanya tentang video itu, tapi dia malah bersikap kasar padaku.” Ucap Samara sambil berlinang air mata.


“Dari mana kamu mendapatkan video ini?” Tanya Surya.


“Ada yang mengirimkan video ini ke grup karyawan Unique Jewelry, Om. Semua karyawan jadi heboh dan ada yang menunjukkannya padaku, karena merasa prihatin.” Lanjut Samara dengan terisak-isak.


Surya merasa iba pada gadis itu, tapi Aliya justru menatap Samara dengan sinis. Dari awal dia sudah tidak tidak suka dengan Samara dan merasa kalau gadis itu bukan jodoh yang baik untuk Dinan, dia tidak setuju Surya memaksakan perjodohan ini. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa, karena Surya sangat keras kepala dan tidak bisa dibantah.


“Ini sudah keterlaluan! Wanita itu benar-benar kurang ajar!”


“Benar, Om. Aku tidak terima dia perlakukan seperti ini.” Sambut Samara.


“Kamu tenang saja, Om berjanji akan memecatnya dari kantor.”


Aliya tercengang mendengar keputusan suaminya itu.

__ADS_1


“Iya, Om. Pecat saja dia, biar tahu rasa!”


Aliya mengembuskan napas sembari geleng-geleng kepala.


“Hem, tapi aku boleh minta sesuatu tidak, Om?”


Surya mengernyit. “Apa?”


“Aku ingin agar pertunangan kami dipercepat, aku takut wanita itu kembali mengganggu Dinan.” Pinta Samara dengan tatapan memohon.


“Baiklah, Om akan bicarakan dengan Papa kamu kapan sebaiknya pertunangan itu dilaksanakan.”


Samara tersenyum seraya mengusap air matanya. “Terima kasih, ya, Om.”


Surya mengangguk. “Iya, sekarang kamu jangan sedih lagi.”


“Iya, Om. Kalau begitu aku permisi dulu.”


Surya kembali mengangguk.


Setelah berpamitan dengan Surya dan Aliya, Samara pun bergegas pergi dengan senyum penuh kemenangan.


“Mas, kenapa Mas begitu mudah menyetujui permintaan Samara? Bukannya Mas tahu kalau Dinan tidak menyukai gadis itu? Seharusnya Mas bicarakan dulu dengan Dinan?” Aliya memprotes sikap suaminya yang terlalu egois itu.


“Percuma bicara dengan anak itu, dia pasti membantah aku.” Sanggah Surya.


“Kamu tenang saja! Biar aku yang urus semuanya.” Sahut Surya, kemudian berlalu pergi dari hadapan sang istri.


Aliya kembali mengembuskan napas dengan berat, dia tak habis pikir dengan sikap egois dan keras kepala suaminya itu. Walaupun dia bukan ibu kandung Dinan, tapi dia sangat menyayangi Dinan sama seperti dia menyayangi Hanan, dia juga ingin anak sambungnya itu hidup dengan bahagia.


💘💘💘


Dinan mengetuk pintu rumah Ruby dengan tidak sabar, pintu pun dibuka oleh Ruby. Terlihat mata wanita itu sembab dan pipinya masih merah.


Ruby terkesiap. “Mas Dinan?”


Dinan yang melihat keadaan Ruby itu mendadak cemas.


“Kamu baik-baik saja, kan?” Tanya Dinan.


“Iya, Mas.”


Dinan meraba pipi Ruby yang merah. “Apa ini perbuatan Samara?”

__ADS_1


Ruby sempat terdiam, namun akhirnya mengangguk pelan.


“Apa yang dia lakukan padamu?”


“Dia menampar dan mendorongku hingga terjatuh. Dia juga menghinaku dan meminta aku untuk menjauhi Mas.” Adu Ruby.


Dinan mengeraskan rahangnya. “Kurang ajar! Ini namanya penganiayaan, aku akan melaporkannya ke polisi.”


“Sudahlah, Mas. Aku tidak ingin masalah ini semakin membesar.”


“Tapi dia sudah keterlaluan, By. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya.” Sungut Dinan.


“Mas, tolong jangan buat aku semakin sulit! Aku sudah cukup stres dengan semua hujatan dari orang lain, aku tidak ingin mereka semakin menyudutkan dan menyalahkan aku.” Ujar Ruby, dia kembali meneteskan air mata.


“By, tidak seharusnya Samara dan semua orang memperlakukanmu seperti ini, kamu harus melawan dan mereka harus mendapatkan pembalasan!”


“Percuma, Mas. Semua orang tahu kalau Mas dan Samara akan menikah, di mata mereka, aku ini hanya orang ketiga yang berada di antara kalian. Mau sekuat apa pun aku membela diri, mereka tetap akan mengecap aku buruk.” Ujar Ruby lalu menangis sesenggukan.


Dinan mengusap air mata Ruby. “Baiklah kalau begitu, besok di acara ulang tahun perusahaan, aku akan umumkan ke semua orang, jika selama ini aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Samara dan aku hanya mencintaimu.”


Ruby tercengang. “Mas, sebaiknya jangan lakukan itu! Pak Surya bisa marah besar.”


Dinan memegangi kedua pipi Ruby dan menatapnya. “Aku tidak peduli lagi dengan Papa, yang terpenting sekarang kamu ada bersamaku dan setelah ini kita akan menikah.”


Ruby tertegun. “Menikah?”


“Iya, kita akan menikah dan hidup bahagia.”


Ruby merasa terharu, namun tiba-tiba dia teringat dengan Safira.


“Tapi, Mas ....”


Dinan mengernyitkan keningnya. “Tapi apa?”


“Bagaimana dengan adikku? Sampai sekarang dia masih marah padaku.”


“Kita akan bicara padanya, lagi pula kalau dia memang menyayangimu, dia pasti ingin kamu bahagia.” Ucap Dinan. Ruby pun mengangguk.


Dinan menarik Ruby ke dalam pelukannya. “Sudah, sekarang kamu tenang! Semuanya akan baik-baik saja.”


Ruby tak menjawab, dia tengah menikmati pelukan hangat Dinan yang begitu menenangkan.


“Maafkan aku karena lalai dan tidak bisa melindungi mu. Aku janji, mulai sekarang aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, aku akan selalu menjagamu.”

__ADS_1


Dinan semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup kepala Ruby dengan penuh kasih sayang.


💘💘💘


__ADS_2