
Sehabis mandi, Dinan mengajak Ruby keluar untuk menikmati suasana malam di Bali. Meskipun masih sedikit malu juga canggung, Ruby tetap mengikuti ajakan Bosnya itu dan berusaha bersikap biasa saja.
Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel yang jaraknya tak terlalu jauh dari pantai. Keduanya berjalan beriringan dengan langkah yang santai, membaur dengan pejalan kaki yang lain. Dinan ingin menggandeng tangan Ruby, tapi saat dia hendak meraih tangan wanita itu, tiba-tiba seorang pria bule menabrak mereka dari belakang dengan sangat keras.
“Aduh!” Pekik Ruby, dia sampai terdorong ke depan dan nyaris terjatuh, untung saja Dinan sigap menangkapnya.
“Kamu tidak apa-apa, By?” Tanya Dinan cemas.
Ruby menggeleng. “Tidak, Mas.”
“I’m sorry!” Seru si bule meminta maaf. “I’m in a hurry!”
Dinan menatap tajam pria bule itu dengan rahang mengeras. “Damn it! You ....”
Ruby yang menyadari kemarahan Dinan langsung membalas permintaan maaf pria bule itu. “That’s fine.”
Dinan seketika menatap Ruby dengan alis menaut.
“Ok, thanks.” Pria bule itu tersenyum lalu bergegas pergi.
“Kenapa kamu membiarkan dia pergi begitu saja?”
“Memangnya kenapa, Mas?”
“Kamu hampir saja terjatuh karena ditabrak olehnya.” Sungut Dinan.
“Dia tidak sengaja, lagi pula dia sudah meminta maaf.” Jawab Ruby enteng. “Ya sudah, yuk jalan lagi!”
Ruby kembali melanjutkan langkahnya, Dinan pun terdiam sambil menghela napas dan segera menyusul wanita itu.
Kedua insan itu kembali menyusuri jalanan yang cukup ramai, mereka memang sengaja tidak naik kendaraan karena ingin menikmati keindahan Nusa Dua dengan berjalan kaki.
“Kamu sudah lapar belum?” Tanya Dinan tiba-tiba.
“Sudah sih, Mas.”
“Kalau begitu kita cari makanan dulu.” Ujar Dinan. “Mau makan di mana ini?”
“Hem, di mana, ya?” Ruby mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari tempat yang kiranya cocok untuk mereka datangi.
Dinan pun ikut celingukan ke sana-kemari.
“Bagaimana kalau di sana aja, Mas?” Ruby menunjuk sebuah warung sederhana di pinggir jalan yang sepi pengunjung. Begitu kontras dengan warung di sekitarnya yang sangat ramai dan bahkan dipadati oleh pelanggan.
“Dia sana?” Dinan tampak ragu.
__ADS_1
Ruby mengangguk.
“Tapi warung itu sepi, berarti makanannya tidak enak. Makanya tidak ada pengunjung yang datang.”
“Justru itu, Mas. Kasihan penjualnya kalau tidak ada yang beli.” Sahut Ruby. “Lagi pula kita mana tahu makanannya enak atau tidak, jika belum mencobanya.”
Dinan terdiam menatap Ruby dengan sorot mata tak terbaca, membuat wanita itu bingung sendiri.
“Kenapa? Mas tidak mau?” Ruby memastikan. “Ya sudah, kalau begitu cari warung lain saja, deh.”
“Tidak usah! Kita ke warung itu saja!” Lagi-lagi Dinan menarik tangan Ruby tanpa permisi, membuat janda cantik itu terkejut dengan perlakuannya tapi anehnya dia tetap menurut dan tidak berani protes.
Mereka berdua masuk ke dalam warung sederhana itu dan langsung di sambut oleh seorang pria.
“Silakan, mau pesan apa?” Tanya pria itu ramah, dia terlihat begitu senang karena ada pelanggan yang datang.
“Sebentar saya tanya dulu.” Sahut Dinan, lalu beralih memandang Ruby. “Kamu mau pesan apa?”
“Apa saja boleh, Mas.
“Nasi dan ayam betutu, mau?”
“Boleh.”
“Es teh manis saja.” Jawab Ruby polos.
Dinan tertegun melihat kesederhanaan Ruby, dia hanya meminta makan di warung sederhana dengan menu yang juga sederhana, jelas dia tak ingin memanfaatkan Dinan agar bisa makan di tempat mewah, meskipun dia tahu Dinan mampu.
“Ternyata selain cantik, dia juga begitu baik dan bersahaja. Benar-benar paket komplit.” Batin Dinan sembari menatap wajah cantik Ruby.
Melihat Dinan melamun, Ruby melambaikan tangannya di depan wajah lelaki itu. “Mas! Lihat apa?”
Dinan tersentak. “Eh, maaf! Kalau begitu saya pesan dulu.”
Dinan pun segera memesannya kepada si pemilik warung.
Tak berapa lama, pesanan pun datang. Namun hanya satu porsi nasi dan ayam betutu serta segelas es teh manis.
“Loh, kenapa hanya satu? Memangnya Mas tidak makan?”
“Saya kan baru makan tadi, jadi masih kenyang.”
“Yaa, saya jadi tidak enak kalau makan sendiri. Masa Mas menunggu saya makan, sih?” Ujar Ruby segan.
“Tidak apa-apa, santai saja!” Sahut Dinan. “Ya, sudah kamu makan! Nanti keburu dingin.”
__ADS_1
“Iya, Mas. Kalau begitu saya makan dulu, ya?”
Dinan mengangguk sambil tersenyum.
Ruby pun mulai makan, karena menunya ayam betutu, dia harus menggunakan tangan untuk makan.
Sedangkan Dinan hanya memperhatikan Ruby, menikmati kecantikan dan tingkah pola wanita itu, yang telah membuat hatinya terpana sejak pertama kali melihatnya.
Ruby makan dengan lahap, karena dia memang sudah merasa lapar. Dinan tertawa sebab lucu melihat cara wanita itu makan yang terkesan rakus.
“Pelan-pelan saja makannya! Tidak usah buru-buru! Saya tunggu, kok.” Seloroh Dinan.
Ruby tersipu malu. “Habis enak, Mas.”
“Benar enak?”
Ruby mengangguk dengan antusias. “Iya, malah enak banget. Jadi heran kenapa warungnya sepi, padahal makannya enak begini.”
“Selera orang kan beda-beda.” Ucap Dinan. “Kalau begitu saya mau cicip, dong! Seenak apa, sih?”
“Sebentar saya ambil sendok.” Ruby hendak mengambil sendok, tapi Dinan melarangnya.
“Tidak usah! Pakai tangan kamu saja.”
Ruby tercengang. “Mas serius mau makan dari tangan saya?”
“Iya, memangnya kenapa? Kamu tidak mau menyuapi saya? Ya sudahlah!” Dinan merajuk.
“Eh, bukan begitu, Mas! Memangnya Mas tidak jijik?”
“Kalau jijik, mana mungkin saya minta kamu suap.”
“Ya sudah, deh. Ini saya suap.”
Ruby segera mengambil sepotong ayam betutu lalu menyuapkannya ke dalam mulut Dinan.
Dinan mengunyah ayam itu, lalu berujar. “Iya, benar. Enak banget! Saya mau lagi, dong! Sekalian sama nasi dan sambalnya.”
“Iya, Mas.” Ruby kembali mengambil potongan ayam betutu, nasi serta sambal dan menyuapkannya ke mulut Dinan lagi.
Bos tampan itu makan sembari tersenyum senang, dia juga berbagi es teh manis dengan Ruby. Sejenak suasana romantis tercipta di antara mereka, bak pasangan kekasih yang begitu harmonis.
Sebenarnya Ruby sendiri bingung dengan semua tingkah laku Bosnya itu, tapi seperti biasa, dia tak berani protes dan hanya menurut saja.
💘💘💘
__ADS_1