
Di sebuah kamar apartemen mewah di tengah kota Paris, seorang wanita cantik dan seksi sedang duduk di atas ranjang sambil memandang kesal layar ponselnya. Baru saja seseorang mengirimkan rekaman video Dinan dan Ruby yang sedang berada di Bali.
“Aaarrgghh! Berengsek!” Teriaknya geram, sembari melemparkan ponselnya ke cermin meja hias, hingga membuatnya pecah.
Seorang wanita paruh baya bernama Lena berlari tergopoh-gopoh menghampirinya karena mendengar suara cermin pecah itu.
“Samara! Ada apa?” Tanya Lena cemas.
“Aku kesal, Ma.” Jawab wanita bernama Samara itu.
“Kesal kenapa?”
“Dinan bersama seorang wanita di Bali, dia bahkan membawa wanita itu ke hotel.” Adu Samara.
“Kamu tahu dari mana, Nak?”
“David mengirimkan rekaman video Dinan bersama wanita itu.”
Lena mengernyitkan keningnya. “David teman SMA kalian itu, ya?
Samara mengangguk dengan wajah cemberut.
“Sayang, bisa saja itu hanya rekayasanya David untuk merusak nama baik Dinan. Sebab mereka kan tidak akur, jadi kamu jangan percaya begitu saja!”
“Tidak, Ma. Aku yakin itu bukan rekayasa.” Sanggah Samara. “Pokoknya aku mau pulang ke Indonesia dan secepatnya menikah dengan Dinan.”
“Sayang, tenanglah dulu!”
“Aku tidak bisa tenang, Ma. Aku tidak mau Dinan jatuh ke tangan wanita lain, dia itu milikku dan hanya akan jadi milikku. Aku lebih baik mati daripada harus kehilangan dia.”
Lena mengembuskan napas berat melihat sikap posesif dan keras kepala putrinya itu jika sudah menyangkut tentang Dinan. Dia tahu sudah sejak SMA putrinya memang sangat menyukai anak dari sahabat suaminya tersebut, bahkan Samara sangat terobsesi pada lelaki itu.
__ADS_1
“Aku akan minta Papa untuk bicara dengan Om Surya, pokoknya aku harus bisa memiliki Dinan. Harus!”
“Terserah kamu saja!”
Lena tak ada pilihan lagi selain mengalah, dia tak ingin putrinya bersedih. Lena memang sudah berpisah dari suaminya beberapa tahun yang lalu dan memilih pindah ke Paris, dan Samara yang mengidap gangguan kepribadian ambang tinggal bersamanya karena sedang menjalani psikoterapi.
Keluarga Samara dan Dinan memang sangat dekat. Kedua keluarga sudah sepakat akan menjodohkan mereka, tapi Dinan selalu beralasan jika dia belum ingin menikah. Padahal yang sebenarnya, Dinan sama sekali tidak tertarik dengan Samara yang angkuh, impulsif dan emosional.
💘💘💘
Keesokan pagi, Ruby mulai terbangun dari tidurnya. Dia mengerjap, berusaha memfokuskan pandangan yang masih mengabur, kepalanya juga masih terasa berat.
“Kepalaku pusing sekali.” Ujar Ruby sembari memegangi kepalanya.
Dengan perlahan Ruby bangkit dan duduk di atas ranjang, membuat selimut yang menutupi tubuhnya melorot. Ruby sontak melirik ke bawah saat menyadari ada sesuatu yang tidak beres, matanya seketika melotot.
“Astaga! Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak pakai baju?” Pekik Ruby sambil menarik selimut menutupi dadanya, mendadak dia mencurigai sesuatu. “Ya Tuhan, apa jangan-jangan dia melakukannya?”
Setelah berpakaian, Ruby bergegas menggedor pintu kamar mandi dengan penuh emosi. “Mas! Keluar kamu!”
Tapi tak ada sahutan, pintu juga tak terbuka.
Ruby kembali menggedor pintu dan berteriak. “Mas, keluar! Kita harus bicara! Aku tidak terima dengan semua perlakuan kamu, jangan mentang-mentang aku seorang janda, kamu bisa seenaknya.”
Pintu tetap tertutup dan tidak ada tanda-tanda seseorang di dalam kamar mandi, Ruby yang penasaran pun memutar handle perlahan lalu membuka pintu, dan ternyata Dinan memang tidak ada di dalam sana.
“Loh, tidak ada. Lalu ke mana dia?” Ruby bertanya-tanya. “Apa jangan-jangan dia kabur?”
Ruby mengedarkan pandangannya dan terfokus pada koper Dinan yang masih teronggok di sudut ruangan.
“Tapi kopernya masih ada.”
__ADS_1
Ruby pun bergegas meraih ponselnya dan menghubungi nomor telepon Dinan, tapi sama sekali tidak ada jawaban.
“Berengsek! Dia pasti ingin menghindari aku, dasar laki-laki pengecut, tidak bertanggung jawab!” Gerutu Ruby kesal.
Ruby benar-benar marah, sedih dan kecewa karena merasa terhina, dia tak menyangka Bosnya itu akan berbuat hal serendah ini. Ruby pun keluar dari kamar dan mencoba bertanya ke resepsionis hotel.
“Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?” Sapa resepsionis itu ramah sembari tersenyum geli.
“Selamat pagi. Saya mau tanya, Pak Dinan yang menghuni kamar 132 ke mana, ya? Apa dia titip pesan sebelum pergi?” Cecar Ruby.
“Oh, yang kemarin cek in bersama Ibu, ya?”
Ruby mengangguk.
“Tadi malam sekitar pukul sebelas, dia memesan satu kamar lagi.”
Ruby tercengang. “Memesan kamar lagi?”
“Iya, Bu.”
“Kenapa?”
“Wah, kalau alasannya saya kurang tahu, Bu.”
Ruby menghela napas. “Kalau begitu, sekarang dia berada di kamar berapa?”
“134, Bu.”
“Baiklah, terima kasih.” Ruby berlalu dengan tergesa-gesa.
“Pasti telah terjadi sesuatu kepada mereka, sampai dia keluar kamar seperti itu.” Ucap resepsionis itu sambil terkekeh memandangi kepergian Ruby.
__ADS_1
💘💘💘