Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 57.


__ADS_3

Ruby masuk ke dalam kafe dan langsung disambut oleh Laura dan Keke, keduanya langsung memeluk sahabat mereka itu.


“Ruby, kami kangen banget dengan kamu.” Ujar Keke.


“Iya, rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Sambung Laura.


“Aku juga kangen banget dengan kalian berdua.” Balas Ruby.


Dinan pun masuk ke dalam kafe dan duduk di belakang Ruby, dia hanya memandangi wanita itu dari kejauhan. Sedangkan Samara secara sembunyi-sembunyi masuk dan duduk agak jauh dari mereka, tak ada yang menyadari kehadirannya.


“Kamu pesan apa, By?” Tanya Keke.


“Apa saja boleh, Ke.” Jawab Ruby.


Keke pun langsung memesan kopi untuk Ruby.


“Bagaimana pekerjaan kamu, lancarkan?” Laura bertanya.


Ruby memaksakan senyuman. “Lancar, kok.”


“Syukurlah.” Balas Laura.


“Oh iya, kemarin waktu papanya Arkan meninggal, kamu datang, By?”


Ruby mengangguk, lalu menjawab pertanyaan Keke. “Datang.”


“Jadi bagaimana reaksi keluarga Arkan saat melihat kamu?”


“Biasanya saja.”


“Eh, guys. Lihat deh cowok yang di sana itu, dari tadi dia lihat ke arah kita terus.” Bisik Keke sambil menunjuk Dinan dengan dagunya


“Dia tertarik mungkin dengan salah satu dari kita.” Celetuk Laura asal.


Ruby tersenyum, namun dia terlalu malas untuk memalingkan wajahnya ke arah pria yang dimaksud sahabat-sahabatnya itu.


“Tampan dan sepertinya kaya, pasti playboy, tuh.” Tebak Keke.


“Tapi kayaknya kejam, deh! Lihat saja tatapan matanya, tajam banget.” Sahut Laura.


Pembicaraan kedua sahabatnya itu akhirnya menarik perhatian Ruby, dia penasaran seperti apa pria yang sedang mereka bicarakan. Dia pun menoleh ke belakang dan terkejut saat mengetahui jika pria yang di maksud sahabat-sahabatnya itu adalah Dinan.


“Ya, Tuhan!” Seru Ruby dan sontak membalikkan badannya.

__ADS_1


Laura mengernyit heran. “Ada apa, By? Kau kenal dengan cowok itu?”


Ruby mendadak gugup. “Di-dia Bos aku, Ra.”


“OMG!” Pekik Keke sambil menutup mulutnya.


“Jadi itu Bos mu? Berarti dia cowok yang kamu temui di toilet bar waktu itu?” Laura memastikan dan Ruby mengangguk.


“Wah, Bos mu ganteng banget!” Seru Keke takjub.


“Pantas dari tadi dia lihat ke sini terus. Apa kamu tidak mau menyapanya, By?”


Ruby menggeleng. “Tidak.”


“Ih, kamu tidak sopan. Masa Bos sendiri tidak disapa, sih.” Sela Keke.


“Sudah, abaikan saja dia.” Ruby tak mau menggubris Dinan.


Laura menatap curiga.“Sepertinya ada sesuatu di antara kalian.”


“Iya, aku mencium aroma percintaan.” Sambung Keke sambil mengendus-endus tubuh Ruby.


“Apaan, sih? Tidak ada apa-apa, kok!” Bantah Ruby dengan wajah masam.


Laura dan Keke saling pandang lalu keduanya tersenyum samar, mereka yakin pasti ada sesuatu sehingga sikap Ruby seperti itu pada atasannya.


Tiba-tiba dua orang pria menghampiri Ruby dan kedua sahabatnya, ternyata sejak tadi dua pria itu sudah memperhatikan mereka.


“Hai, boleh kenalan?” Tanya seorang pria muda yang lumayan tampan.


“Boleh.” Sambut Keke girang.


Mereka pun saling berjabat tangan dan berkenalan, salah satu dari pria itu sepertinya tertarik dengan Ruby, terlihat dari tatapan matanya yang tidak lepas dari janda cantik itu.


“Boleh kami gabung?”


“Silakan.” Sahut Keke.


Dinan menatap tajam lelaki itu sembari mengeraskan rahangnya menahan geram, dia jelas cemburu.


Ruby dan sahabat-sahabatnya pun bercanda tawa bersama dua pria kenalan mereka itu, membuat hati Dinan semakin panas dan kali ini dia tak bisa menahannya lagi. Dinan beranjak dari duduknya lalu menghampiri Ruby, dan menarik lengan wanita itu dengan kasar.


Tentu saja Ruby juga semua orang terkejut dengan perbuatannya itu, tapi Dinan tak peduli. Sepertinya rasa cemburu sudah membuatnya tak bisa berpikir jernih lagi.

__ADS_1


“Mas, apa-apaan ini?” Protes Ruby.


“Ayo, pulang!” Pinta Dinan tegas.


“Aku tidak mau! Lepaskan!” Bantah Ruby, dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman atasannya itu.


Dinan tak menggubris bantahan Ruby, dia menarik wanita itu keluar dari kafe sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian pelanggan yang lain.


Laura serta Keke cemas melihat semua itu, mereka buru-buru menyusul Ruby dan Dinan. Begitu juga dengan Samara yang bergegas keluar dari kafe.


“Mas, lepaskan!” Ruby masih berusaha menarik tangannya dari cekalan Dinan, tapi lelaki itu semakin menguatkan cengkeramannya.


Tak habis akal, Ruby pun akhirnya menggigit tangan Dinan sekuat tenaga, tapi Dinan tetap tak mau melepaskannya.


“Kamu gigit sampai putus pun, aku tetap tidak akan melepaskannya.” Ujar Dinan dingin, membuat Ruby menyerah dan berhenti menggigit tangan bosnya itu.


“Mas lepaskan! Tangan aku sakit!” Keluh Ruby tapi Dinan tak peduli.


Dinan menyeret Ruby ke mobilnya dan bergegas membukakan pintu.


“Masuk!” Pinta Dinan.


“Aku tidak mau!” Ruby kembali membantah.


“Ini perintah!” Bentak Dinan tegas.


“Mas tidak bisa memerintah aku seenaknya, karena aku bukan asisten pribadi Mas lagi dan sekarang sudah di luar jam kantor.”


Dinan menghela napas, tanpa permisi dia mengangkat tubuh Ruby lalu memasukkannya ke dalam mobil, membuat semua orang yang melihat aksinya itu tercengang, terutama Samara dan juga kedua sahabat Ruby.


Dinan menutup pintu dan bergegas masuk, kemudian melesat pergi. Melihat lelaki yang dicintainya itu pergi, Samara pun buru-buru mengejarnya tanpa ada yang menyadari.


Sedangkan Laura dan Keke hanya bisa terbengong-bengong melihat semua itu.


“Bagaimana ini, Ra? Dia membawa Ruby pergi, kita harus mengejarnya. Aku takut dia macam-macam pada Ruby.” Ujar Keke panik.


“Sudah tidak usah! Aku yakin Ruby akan baik-baik saja bersama dia.” Balas Laura santai.


“Kamu kok yakin banget?”


“Aku bisa melihat kalau dia itu sebenarnya mencintai Ruby, dia cemburu karena Ruby didekati pria lain.”


“Iya, aku juga berpikir seperti itu. Tapi bukan berarti dia tidak bisa melakukan hal-hal yang buruk terhadap Ruby.”

__ADS_1


Laura menepuk pundak Keke. “Sudah, kamu tenang saja! Kita akan telepon Ruby untuk memastikan keadaannya.”


💘💘💘


__ADS_2