
Keesokan paginya, Ruby berjalan dengan gontai, dia tak bersemangat hari ini sebab semalaman tak bisa tidur nyenyak memikirkan sikap Safira yang tidak mau bicara kepadanya. Ruby tak mengerti mengapa sang adik bersikap kekanak-kanakan seperti itu, padahal dia sudah menjelaskan semuanya, tapi Safira tetap saja marah.
Ruby masuk ke dalam lift, dan tiba-tiba seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Surya juga ikut masuk. Ruby yang mengenalinya, langsung menundukkan kepala dan menyapa pemilik Unique Jewelry itu.
“Selamat pagi, Pak.” Sapa Ruby canggung, sebab hanya ada dia dan Surya di dalam lift.
Namun bukannya menjawab salam dari Ruby, Surya langsung melontarkan kata-kata yang tidak mengenakkan.
“Aku tidak mau tahu ada hubungan apa antara kau dan putraku, aku hanya ingin tegaskan bahwa Dinan akan segera menikah dengan Samara, dan kau jangan pernah bermimpi untuk bisa masuk ke dalam kehidupannya, karena itu tidak akan pernah terjadi! Aku harap kau sadar siapa dirimu, dan berhenti mendekati putraku!” Ujar Surya sinis.
Ruby sontak menatap Surya dan tersinggung mendengar kata-kata menohok pria itu.
“Tapi, Pak, saya dan Mas Dinan tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya rekan kerja. Saya juga tahu diri bahwa saya tidak pantas untuk dia, jadi anda jangan khawatir!” Balas Ruby dengan bibir bergetar.
“Baguslah kalau kau sadar! Ingat ucapan ku, jauhi Dinan atau kau akan menyesali segalanya! Karena aku akan memecat kau dan juga adikmu.” Lanjut Surya dengan nada mengancam.
Ruby terdiam menahan kesal sekaligus sedih atas ancaman Surya itu.
Pintu lift pun terbuka dan Surya bergegas keluar meninggalkan Ruby yang masih termangu menatap kepergian lelaki paruh baya itu, tanpa sadar air matanya jatuh menetes, namun buru-buru dia hapus sebelum ada yang melihatnya.
Ruby juga segera keluar dari lift dan berjalan pelan menuju meja kerjanya.
Begitu Ruby tiba di meja kerjanya, dia sudah dikagetkan dengan suara Dinan.
“Selamat pagi, Ruby.” Sapa Dinan dengan senyum mengembang.
“Selamat pagi, Mas.” Jawab Ruby dengan kepala tertunduk, dia berusaha menyembunyikan matanya yang merah karena habis menangis.
“Buatkan kopi dan antar ke ruangan ku seperti biasa!” Pinta Dinan.
“Iya, Mas.” Ruby mengangguk dan bergegas pergi, tanpa sedikit pun menatap Dinan yang berdiri di hadapannya.
Dinan bingung melihat sikap dingin Ruby, wanita itu tidak ramah seperti biasanya. “Dia kenapa? Sikapnya aneh sekali.”
__ADS_1
Dinan pun segera masuk ke dalam ruangannya sambil terus memikirkan sikap Ruby itu.
Beberapa saat kemudian, Ruby masuk ke ruang CEO sambil membawa secangkir kopi pesanan Dinan. Dia meletakkan cangkir itu di atas meja, kemudian buru-buru hendak pergi, tapi Dinan menahannya.
“Ruby tunggu!”
“Ada apa, Mas?” Sahut Ruby dengan kepala tertunduk.
“Kamu kenapa? Sakit?” Tanya Dinan penasaran.
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” Sahut Ruby.
“Tapi sikap kamu tidak seperti biasanya.”
“Itu perasaan Mas saja.” Balas Ruby. “Kalau begitu aku permisi dulu.”
Ruby hendak menghindari Dinan tapi lagi-lagi lelaki rupawan itu menahannya.
“Tunggu dulu!”
Dinan beranjak dan melangkah mendekati Ruby, lalu menyodorkan sebuah dasi berwarna maroon. “Kamu lupa memakaikan dasi ku.”
Ruby bergeming memandangi dasi di tangan Dinan.
“Kenapa diam? Ayo, pakaikan!”
Ruby meletakkan nampan yang dia pegang di atas meja, lalu dengan sedikit ragu dia meraih dasi yang disodorkan oleh Dinan. Namun baru saja Ruby hendak memakaikan dasi itu, pintu tiba-tiba terbuka dan Samara menyelonong masuk.
“Sedang apa kalian?” Sergah Samara yang langsung berjalan mendekati mereka.
Wajah Dinan sontak berubah masam, dia kesal melihat kedatangan Samara.
“Mau apa dia ke sini? Mengganggu saja!” Batin Dinan jengkel.
__ADS_1
Samara melirik dasi yang dipegang Ruby dan spontan merebutnya dengan kasar lalu mendorong wanita itu agar menjauh dari Dinan. “Sini! Biar aku saja yang pakaikan! Kau keluar sana!”
Dinan langsung melotot marah. “Apa-apaan kau ini? Jaga sikapmu!”
“Aku kan hanya ingin memakaikan dasi untukmu, memang ada yang salah?”
“Kau bersikap kasar terhadap Ruby, jelas itu salah!” Sungut Dinan.
Ruby merasa tidak enak melihat Dinan marah kepada Samara, dia berusaha menengahi. “Tidak apa-apa, Mas. Kalau begitu aku permisi.”
Ruby hendak pergi tapi Dinan menarik lengannya. “Kamu tetap di situ, By!”
Samara melirik tangan Dinan yang menggenggam lengan Ruby, hatinya semakin merasa panas.
Dinan menatap tajam Samara. “Minta maaf pada Ruby sekarang juga!”
Wajah Samara berubah kesal, dia ingin sekali meluapkan emosinya saat ini, tapi sekuat tenaga dia tahan.
“Eh, tidak usah, Mas.” Ruby semakin merasa tidak enak.
“Tidak apa-apa, By. Biar dia tahu sopan santun dan menghargai orang lain.” Sahut Dinan dengan masih menatap tajam Samara.
“Dinan! Aku ini calon istri kamu, tapi kamu malah perlakukan aku seperti ini di depan bawahan mu.” Protes Samara.
“Harus berapa kali aku katakan, jangan bicara omong kosong! Sekarang juga minta maaf pada Ruby!”Balas Dinan.
Samara terdiam sembari mengepalkan tangannya dengan kuat, dia benar-benar merasa geram dan marah.
“Minta maaf!” Bentak Dinan.
Tiba-tiba pintu ruangan CEO terbuka.
“Dinan!”
__ADS_1
💘💘💘