Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 70.


__ADS_3

Dinan pulang ke apartemennya. Saat berjalan di basemen, Dinan merasa seperti ada seseorang yang mengikutinya, tapi saat dia menoleh, tak ada siapa pun. Dinan akhirnya mempercepat langkahnya, dan baru saja dia masuk ke dalam apartemen, Hanan menghubunginya.


“Halo, ada apa?” Tanya Dinan.


“Kau di mana?”


“Aku di apartemen.” Jawab Dinan.


“Aku ke sana sekarang.”


Hanan langsung mengakhiri pembicaraan mereka tanpa sempat Dinan berkata apa-apa.


“Dasar tidak sopan!” Gerutu Dinan, dia pun melangkah ke dapur untuk mengambil minum.


Tak lama kemudian, pintu apartemennya diketuk dari luar.


“Cepat sekali dia sampai.” Ujar Dinan, tapi kemudian dia tersadar. “Hanan kan tahu kode pintuku, kenapa dia tidak masuk saja? Apa jangan-jangan bukan Hanan?”


Dinan meletakkan gelas bekas dia minum dan berjalan mendekati pintu.


Tanpa curiga sedikit pun, Dinan membuka pintu, terlihat seorang pria berpakaian serba hitam serta memakai masker berdiri di hadapannya dan langsung menendang perut Dinan, sampai membuatnya mundur beberapa langkah.


Si pria misterius itu bergegas masuk, dan menutup pintu dengan kakinya sambil mengacungkan senjata api ke arah Dinan.


Dinan terkesiap sambil menelan ludah. “Siapa kau? Apa mau mu?”


“Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang pasti aku akan mengirimmu ke neraka.” Sahut pria misterius itu dingin.


Dinan semakin takut, jantungnya berdebar kencang dengan wajah yang tegang.


Pria itu menarik pelatuk pistol yang dia pegang, tepat bersamaan Hanan datang dan membuka pintu. Karena terkejut, pria itu sontak menoleh ke arah Hanan.


Melihat pria itu lengah, Dinan dengan cepat mengarahkan pistolnya ke langit-langit.


Dooorr ....


Pistol itu memuntahkan pelurunya.


Hanan yang baru masuk dan belum mengerti situasi ini terkejut sekaligus kebingungan.


“Han, tolong aku! Dia ingin membunuhku.” Teriak Dinan yang masih berusaha merebut pistol dari tangan pria misterius itu.


Hanan tercengang dan langsung bertindak, dia sigap memiting leher pria itu dari belakang, sehingga membuat pria itu sulit bernapas dan akhirnya menyerah karena dikeroyok dua orang.

__ADS_1


“A-ampun!” Ucap pria itu.


Dinan berhasil merebut pistol itu dan mengarahkannya ke si pria misterius, sedangkan Hanan menarik masker yang dikenakan pria itu, kini terlihat wajahnya yang asing.


“Siapa kau? Kenapa kau ingin membunuhku?”


“A-aku disuruh.” Jawab pria itu terbata-bata.


“Siapa yang menyuruhmu?” Tanya Dinan lagi.


Pria itu terdiam sembari menahan sakit di lehernya.


“Katakan!” Bentak Hanan, dia semakin kuat memiting leher pria misterius itu.


Pria itu masih bergeming, sepertinya dia ingin menutupi siapa yang menyuruhnya.


“Kalau kau tidak mau mengatakannya, aku akan menembak kepalamu.” Ancam Dinan.


“Ja-jangan!” Ucap pria itu takut.


“Kalau begitu cepat katakan!” Desak Hanan.


“Tu-tuan Efendi.”


Dinan dan Hanan terkesiap, tak menyangka Efendi dalang dari semua ini.


“Sebaiknya sekarang kita lapor polisi.” Cetus Hanan.


“Iya, tapi sebelumnya kita ikat dulu si berengsek ini!”


Hanan mengangguk. “Kalau begitu cepat cari tali atau sesuatu untuk mengikat dia, aku sudah lelah begini terus.”


Dinan bergegas mengambil lakban kemudian melilitkannya di tangan dan kaki si pria misterius itu, sementara Hanan segera menghubungi polisi.


Tak berapa lama polisi pun datang, pria misterius itu langsung dibawa ke kantor, mereka juga sempat meminta keterangan dari Dinan dan Hanan, sebelum akhirnya meninggalkan apartemen tersebut.


Melihat banyak polisi yang datang, pihak keamanan apartemen juga menyambangi unit milik Dinan.


“Kami minta maaf karena telah lalai, sehingga kecolongan seperti ini.” Ucap kepala sekuriti apartemen.


“Tidak apa-apa, tapi saya harap keamanan di apartemen ini lebih ditingkatkan, agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Untung saudara saya ini datang tepat waktu, kalau tidak mungkin sekarang saya sudah mati ditembak.” Sahut Dinan.


“Iya, Mas. Sekali lagi kami minta maaf yang sebesar-besarnya.”

__ADS_1


Dinan mengangguk.


“Kalau begitu kami permisi dulu. Selamat malam, Mas Dinan.”


“Iya, terima kasih. Selamat malam.” Balas Dinan.


Kepala sekuriti itu dan anak buahnya meninggalkan apartemen Dinan.


“Aku masih tidak menyangka Pak Efendi sanggup melakukan hal sekejam ini.” Ujar Hanan.


“Aku juga, apa begitu marahnya dia sampai ingin melenyapkan aku?”


“Mungkin saja! Kau telah menyakiti putrinya dan membuat dia malu, di pasti sangat marah.” Kata Hanan.


“Bapak dan anak sama saja, tidak waras.” Gerutu Dinan.


Hanan menghela napas. “Hampir saja kau pindah dunia, untung aku datang.”


Dinan melirik sinis Hanan. “Jadi aku harus berterima kasih padamu?”


“Tentu, kau berhutang nyawa padaku.”


“Kalau begitu terima kasih, sudah puas?”


“Sudah.” Balas Dinan lalu tertawa.


“Jadi mau apa kau datang ke sini?”


“Mau memarahimu karena sudah membuat kekacauan di acara penting perusahaan, semuanya berantakan gara-gara ulahmu.”


“He, kau tidak dengar apa yang dikatakan Papa tadi? Jadi aku harus diam saja menerima pertunangan itu?” Sungut Dinan.


“Iya, tapi kau bisa bicarakan itu lagi setelah acara selesai, paling tidak Papa dan Pak Efendi tidak malu di depan publik.”


“Biar kau tahu, ya. Aku sebenarnya memang ingin mengklarifikasi hubunganku dengan Ruby di depan semua orang, tapi belum sempat aku bicara, Papa sudah terlanjur mengatakan hal itu. Ya sudah, sekalian saja.”


“Tapi ulahmu ini berimbas pada nama baik perusahaan, dan ada kemungkinan perhiasan baru kita gagal dipasarkan.” Hanan memperingatkan.


“Aku tidak peduli! Lagi pula aku bukan CEO nya lagi.” Jawab Dinan enteng.


“Dasar keras kepala! Egois! Ayah dan anak sama saja.” Gerutu Hanan kesal.


Dinan melotot marah. “Kau bilang apa? Kau sudah bosan hidup, ya?”

__ADS_1


“Bodoh amat!” Hanan beranjak dan melenggang pergi meninggalkan apartemen Dinan, dia benar-benar kesal dengan tabiat Dinan itu.


💘💘💘


__ADS_2