Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 58.


__ADS_3

Di dalam mobil, Ruby terus mengomeli tingkah Dinan.“Mas ini kenapa, sih? Kenapa menarik-narik aku seperti tadi? Aku malu dilihat orang, Mas!”


“Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan pria tidak jelas itu!” Jawab Dinan.


Ruby melongo mendengar jawaban Dinan itu. “Kami cuma mengobrol saja.”


“Iya, tapi aku tidak suka dia menatapmu.” Lanjut Dinan.


“Mata mata dia, terserah dia dong mau menatap siapa.”


Dinan mendadak menepikan mobilnya di bahu jalan, Samara yang masih mengikuti kedua insan itu juga ikut menghentikan mobilnya tak jauh dari mereka, tapi Dinan tak menyadari hal itu.


“Kenapa berhenti?” Tanya Ruby bingung.


Tanpa menjawab pertanyaan Ruby, Dinan langsung mendekati wanita itu dan mengecup singkat bibirnya. Ruby terkejut setengah mati, dia tak menyangka Dinan akan melakukan hal itu.


“Apa-apaan Mas ini? Berani sekali Mas melakukannya!” Sungut Ruby marah.


“Bibir bibir aku, jadi terserah aku dong mau mencium siapa.” Balas Dinan menirukan kata-kata Ruby tadi.


Ruby terperangah dengan mata melotot, dia benar-benar kesal pada Dinan. “Mas! Jangan mentang-mentang aku ini seorang janda, Mas bisa melakukannya sesuka hati! Itu sama saja seperti Mas merendahkan aku.”


“Aku tidak bermaksud seperti itu, kamu salah sangka.” Sanggah Dinan.


“Sudahlah, Mas itu memang selalu saja bertindak sesuka hati, menyebalkan!” Ruby merajuk dan hendak turun dari mobil Dinan, tapi tidak bisa membuka pintunya karena lelaki itu sudah menguncinya secara otomatis.


Ruby lalu menatap tajam Dinan. “Mas, buka!”


Dinan menggeleng. “Tidak akan!”


“Mau Mas itu apa, sih? Mengapa terus saja menggangguku? Padahal aku bukan lagi asisten pribadinya Mas, aku hanya karyawan biasa. Jadi tolong biarkan aku bebas seperti yang lainnya.”


“Kenapa kamu masih bertanya, padahal kamu sudah tahu jawabannya? Aku mencintaimu, jadi mana mungkin aku membiarkanmu begitu saja.” Balas Dinan.


Ruby terdiam dengan dada yang bergemuruh, dia selalu saja merasa lemah setiap kali Dinan mengatakan tentang cinta.


“Aku tidak bisa menjauh darimu, By. Aku akan terus memperjuangkan cinta ini, aku tidak akan menyerah.” Sambung Dinan.


“Mas harus berapa kali lagi aku katakan, kalau aku tidak mencintai Mas dan kita tidak mungkin bersama. Lagi pula Mas juga sudah mempunyai calon istri dan kalian akan segera menikah.” Ucap Ruby dengan air mata yang berlinang.


“Aku tahu kamu bohong, By! Sebenarnya kamu juga mencintaiku, kan? Kamu menjauhi aku karena kecewa dan cemburu. Tapi kamu berusaha menutupinya, iya kan?”


“Mas, bukankah sudah aku katakan bahwa aku hanya bersikap yang semestinya antara atasan dan bawahan, aku sadar posisiku. Aku hanya tidak ingin membuat gosip jika bersikap sok akrab dengan Bos ku, makanya aku berusaha menjaga jarak.” Sangkal Ruby.


Dinan tertawa.“Jangan membodohi aku, Ruby! Sebelumnya kamu tidak begini, tapi sejak Samara datang dan menggantikan posisimu di kantor, kamu jadi berubah. Kamu selalu menjaga jarak denganku dan bersikap tak acuh karena merasa tidak pantas berada terlalu dekat dengan calon suami orang, bukan karena aku atasanmu.”


“Tapi kamu harus tahu, aku tidak mencintai Samara dan itu berarti aku tidak akan menikah dengannya, aku akan cari cara untuk membatalkan perjodohan ini.” Lanjut Dinan.

__ADS_1


“Bukan itu alasannya, Mas.”


“Lalu apa?”


Belum sempat Ruby menjawab, tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata Laura menghubunginya. Ruby bergegas menjawab panggilan dari sahabatnya itu dan bermaksud meminta tolong agar dia bisa terbebas dari Dinan.


“Halo, Ra.”


Namun tanpa di duga, Dinan merebut ponsel Ruby dan langsung mematikan telepon dari Laura itu.


“Apa yang Mas lakukan? Kembalikan ponselku!”


“Tidak! Aku akan kembalikan ponsel ini jika kamu mengatakan yang sejujurnya, kenapa kamu tiba-tiba menjauhiku? Aku ingin mendengar alasanmu.”


Ruby kembali terdiam sambil menelan ludah, dia tak mungkin mengatakan jika Surya yang mengancamnya, sebab tak ingin Dinan marah kepada papanya itu.


“Kenapa diam? Ayo katakan!” Desak Dinan.


Ruby masih bergeming.


“Baiklah, kalau kamu tidak mau bicara, aku akan sita ponsel ini selamanya.” Ancam Dinan dan langsung memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya.


“Mas, aku mohon kembalikan ponselku! Atau aku akan ....”


“Akan apa? Marah? Atau lapor polisi? Silakan, aku tidak takut!” Sela Dinan memotong ucapan Ruby.


Ruby mengembuskan napas berat. “Baiklah, aku akan katakan. Tapi Mas harus janji, tidak akan marah jika tahu yang sebenarnya.”


“Ok, aku janji. Sekarang katakan!”


“A-aku menjauhi Mas karena ....” Ruby mengjeda kata-katanya karena merasa ragu untuk bicara.


“Karena apa?”


“Karena Pak Surya mengancam akan memecat ku dan juga adikku jika tidak menjauhi Mas.” Lanjut Ruby dengan sedikit takut.


Dinan mengeraskan rahangnya. “Sudah kuduga pasti ada yang tidak beres, ternyata Papa dalangnya.”


“Mas jangan marah! Kan tadi sudah janji.” Ruby memperingatkan.


“Apa aku boleh ingkar janji?”


“Mas!”


“Iya-iya, aku tidak akan marah. Tapi kalau menegur bolehkan? Agar Papa tahu kesalahannya.”


“Itu sama saja Mas membuat aku terancam, sebaiknya Mas pura-pura tidak tahu saja dan biar hubungan kita terus seperti ini, karena itu lebih baik.”

__ADS_1


“Aku setuju untuk pura-pura tidak tahu, tapi aku tidak mau hubungan kita terus seperti ini. Aku tersiksa karena kamu mengabaikan dan menjauhiku.” Ujar Dinan memelas.


“Tapi memang seharusnya seperti ini, kan?”


“By, kenapa kamu masih saja keras kepala? Padahal kamu sadar ada cinta di antara kita, aku mencintaimu dan aku yakin kamu juga merasakan hal yang sama.”


Lagi-lagi Ruby membisu, dia sendiri bingung dengan perasaannya saat ini.


“By, percayalah padaku! Aku akan segera menyelesaikan semuanya, jadi tolong berhenti menjauhiku!” Harap Dinan sembari menggenggam erat tangan Ruby.


Seketika Ruby teringat dengan Safira, dia pun menarik tangannya dari genggaman Dinan. “Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak ingin melukai perasaan orang lain.”


“Maksud kamu Samara? Jangan pikirkan dia, fokus pada hatimu saja.”


“Bukan.”


“Oh, jangan bilang kalau kamu sedang memikirkan perasaan mantan suamimu?” Tebak Dinan.


Ruby menggeleng pelan.


Dinan mengernyitkan keningnya. “Lalu siapa?”


“Adikku.”


Dinan terkesiap. “Adikmu?”


“Iya, sudah sejak lama adikku mencintai Mas. Aku tidak ingin melukai perasaannya, aku tidak ingin dia bersedih.” Ucap Ruby.


Dinan terkejut mendengar pengakuan Ruby, dia pun menatap lekat wajah wanita itu. “Sekarang aku tanya dan tolong jawab dengan jujur, apa kamu mencintaiku?”


Ruby kembali bergeming, dia tak tahu harus mengatakan apa.


“By, tatap aku!”


Ruby memandang mata Dinan, begitu pun sebaliknya.


“Apa kamu mencintaiku?” Tanya Dinan lagi.


“Aku tidak tahu harus menjawab apa, Mas. Aku bingung dengan perasaanku sendiri.” Ruby mengalihkan pandangannya ke lain arah.


Dinan menghela napas. “Baiklah, kalau kamu bingung, kita akan temukan jawabannya.”


Dinan pun kembali memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Ruby bingung dan ketakutan.


“Mas mau ke mana?” Tanya Ruby, tapi Dinan tak menjawab.


Melihat mobil Dinan pergi, Samara pun bergegas membuntutinya.

__ADS_1


💘💘💘


__ADS_2