
Mobil Dinan tiba di depan sebuah rumah yang sudah dipenuhi para pelayat, Ruby buru-buru turun dan disusul oleh Bos tampan itu.
Beberapa pasang mata seketika tertuju kepada mereka, bahkan sebagian orang mulai berbisik-bisik. Sepertinya mereka itu mengenal Ruby sebagai menantu keluarga tersebut.
Dari kejauhan, Arkan yang melihat kedatangan Ruby, bergegas menghampiri mantan istrinya itu.
“Ternyata kamu datang juga, By. Aku pikir kamu tidak akan datang.” Ujar Arkan senang.
“Mana mungkin aku tidak datang, Papa sudah aku anggap seperti ayahku sendiri.” Sahut Ruby. “Aku turut berduka cita, ya.”
“Iya, terima kasih, By.” Balas Arkan lalu pandangan nya beralih ke Dinan yang berdiri di samping Ruby. “Dia siapa?”
“Oh, ini Mas Dinan, dia atasan aku.”
“Aku turut berduka cita.” Ucap Dinan dengan wajah datar.
“Terima kasih.” Balas Arkan, sejujurnya dia merasa tidak suka dengan kehadiran Dinan.
Ruby celingukan ke sana-kemari, “Mama mana? Aku ingin bertemu Mama.”
“Ada di dalam, mari aku antar!” Jawab Arkan.
Ruby mengangguk setuju.
“Dinan!” Seseorang tiba-tiba menepuk pundak Dinan dari belakang.
Dinan dan Ruby sontak berbalik, dan Bos tampan itu terkejut saat melihat Efendi yang tak lain adalah ayahnya Samara sudah berdiri di belakangnya, ternyata Efendi salah satu rekan bisnis Arkan.
“Om Efendi?” Gumam Dinan.
“Ternyata kau juga ada di sini?” Tanya Efendi.
“Aku menemani asistenku.” Sahut Dinan.
__ADS_1
Efendi bergeming menatap Ruby, sedangkan janda cantik itu hanya melempar senyuman.
Efendi lalu mengalihkan pandangannya ke Dinan, “Kebetulan sekali kita bertemu di sini, bisa kita bicara sebentar?”
“Tapi aku bersama asistenku, Om. Lain kali saja.” Dinan menolak sebab ingin menghindari Efendi, karena dia tahu apa yang akan dibicarakan lelaki itu nanti.
“Tidak apa-apa, Mas. Biar aku masuk sendiri saja, Mas silakan bicara dengan bapak ini.” Ucap Ruby, dan Dinan langsung memelototi wanita itu.
“Itu asisten mu saja tidak keberatan.” Ledek Efendi.
Dinan mengeraskan rahangnya, dia benar-benar kesal karena gagal menghindari Efendi.
“Ya sudah, aku masuk dulu, Mas.” Ruby segera berlalu bersama Arkan.
Dinan memandangi kepergian Ruby juga mantan suaminya itu, hatinya merasa cemburu melihat mereka bersamaan.
“Sebaiknya kita bicara di tempat yang lebih sepi.” Cetus Efendi.
Sementara itu di dalam rumah duka, Ruby melangkah mendekati wanita paruh baya yang sedang terduduk lemas di kursi sambil menatap nanar jenazah sang suami yang terbujur kaku, matanya sembab dan basah.
“Mama.” Sapa Ruby pelan sembari duduk di sampingnya.
Wanita paruh baya yang bernama Anna itu memutar pelan kepalanya menghadap Ruby dan langsung berhambur memeluk mantan istri putranya itu.
“Ruby, Papa sudah tidak ada. Papa sudah pergi meninggalkan kita.” Ucap Anna lirih sambil berlinang air mata.
Ruby tak kuasa menahan tangis, bagaimana pun juga, dia menyayangi orang tua dari mantan suaminya itu dan sudah menganggap mereka seperti orang tua sendiri.
“Mama yang sabar, ya. Ikhlaskan Papa agar tenang di sana.” Ruby mengusap lembut punggung belakang Anna.
Arkan yang melihat semua itu merasa senang sekaligus terharu, hatinya semakin bertekad untuk kembali memiliki Ruby lagi.
“Maafkan Papa kalau ada salah, maafkan Mama juga jika pernah menyakiti hatimu, Nak.” Imbuh Anna menyesal.
__ADS_1
“Iya, Ma. Aku sudah melupakan semua yang terjadi.”
“Terima kasih, Nak.” Anna semakin mengeratkan pelukannya.
Meskipun dulu Anna kerap kali menyalahkan dirinya karena tidak bisa memberikan anak untuk Arkan, tapi Ruby tak pernah membenci wanita itu. Dia tetap menyayanginya seperti ibu sendiri.
💘💘💘
Dinan duduk berdua dengan Efendi di sebuah bangku taman yang masih berada di pekarangan rumah Arkan, wajah keduanya tampak serius.
“Kau kan sudah tahu bagaimana Samara? Dia sudah sejak lama mencintaimu.” Ujar Efendi.
“Maaf, Om. Tapi jujur, aku tidak mencintainya, aku hanya menganggapnya teman sekolah, tidak lebih.” Jawab Dinan tegas.
“Dinan, cinta itu bisa datang belakangan, yang terpenting kalian berdua bisa saling menerima dan memahami satu sama lain.” Balas Efendi. Dia berusaha meyakinkan Dinan agar mau menikah dengan putrinya.
“Tapi aku mencintai orang lain, Om.”
“Asisten pribadimu itu?” Tebak Efendi.
Dinan terdiam, dia membuang pandangannya ke arah para pelayat yang datang silih berganti.
“Kenapa kau diam? Benarkan tebakan Om, kau mencintai asisten pribadimu itu?” Lanjut Efendi.
“Itu bukan urusan, Om!” Jawab Dinan ketus. Sebenarnya dia tidak terlalu menyukai Efendi yang terkenal arogan dan egois itu.
“Tentu ini menjadi urusan Om, karena kau itu calon menantu Om.”
Dinan sontak beralih memandang Efendi, “Sudah aku bilang jika aku tidak akan menikah dengan putri Om, aku tidak mencintainya. Jadi tolong berhenti memaksaku dan membahas masalah ini!”
Dinan beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Efendi begitu saja. Pria paruh baya itu memandang kepergian Dinan dengan tatapan yang sulit diartikan, dia merasa tersinggung dengan sikap dan ucapan anak dari sahabatnya itu.
💘💘💘
__ADS_1