
Sementara itu, Ruby memandang malas Arkan yang sedang tersenyum menyambut kedatangannya.
“Akhirnya kamu pulang juga, By. Aku sudah dari pagi menunggu di sini.” Ujar Arkan.
“Mas ngapain ke sini lagi?” Tanya Ruby ketus.
“Aku ingin bertemu kamu, aku kangen, By.”
Ruby tertawa mengejek. “Kangen?”
Arkan mengangguk.
“Kamu masih bisa kangen denganku? Bukankah sejak berkhianat, kamu sudah lupa cara merindukan aku, Mas?” Jawab Ruby menohok.
“By, aku kan sudah minta maaf. Saat itu aku khilaf, aku termakan rayuan Rena. Sekarang aku sudah sadar, aku menyesal.”
Ruby menghela napas. “Sudahlah, Mas. Sebaiknya kamu pulang!”
Ruby benar-benar malas meladeni Arkan, hatinya masih sakit dan belum bisa melupakan pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan suaminya itu.
“By, tolong beri aku kesempatan sekali lagi! Kita akan mulai lagi dari awal, aku janji akan memperbaiki semuanya.”
“Mas, sudah aku katakan, aku butuh waktu untuk menyembuhkan luka ini. Jadi tolong jangan memaksaku!”
“Tapi, By. Aku masih mencintaimu dan aku yakin kamu juga sama.”
“Cukup, Mas! Aku lelah dan ingin istirahat, jadi tolong jangan menggangguku!” Tukas Ruby, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah, meninggalkan Arkan begitu saja.
Mantan suami Ruby itu hanya mematung dengan perasaan kesal, dia tak menyangka akan sesulit ini meluluhkan hati Ruby. Padahal dulu dia tahu jika wanita itu sangat mencintainya, tapi sekarang seolah perasaan itu tak ada lagi untuknya.
“Aku tidak akan menyerah begitu saja, By. Aku pasti akan mendapatkan mu lagi, bagaimanapun caranya.” Tutur Arkan. Dia kemudian beranjak pergi meninggalkan rumah Ruby.
__ADS_1
Di dalam rumah, Safira langsung menyambut kepulangan sang Kakak.
“Kakak sudah pulang?” Safira lalu mengintip dari jendela. “Mas Arkan sudah tidak ada, ya?”
“Sudah Kakak usir.”
“Jadi tadi Kakak sempat bertemu dia?”
Ruby mengangguk.
“Mas Arkan itu memang benar-benar keras kepala, dia menunggu Kakak sejak pagi, sudah aku usir, tapi tetap tidak mau pergi. Ya sudah, aku biarkan saja dia di luar.” Safira menggerutu.
“Kan kamu sudah tahu dari dulu, kalau dia itu memang keras kepala dan egois. Jadi jangan heran!” Sahut Ruby sembari menjatuhkan dirinya di atas sofa.
“Iya, sih.”
Safira kemudian duduk di samping Ruby dan bertanya dengan heboh. “Kalau begitu sekarang ceritakan apa yang terjadi di Bali! Kakak dan Bos Dinan ngapain saja di sana?”
Ruby terdiam, seketika dia teringat kejadian semalam. Dia tak mungkin menceritakan semuanya kepada Safira, sebab tak ingin membuat adiknya itu terluka jika tahu apa yang Dinan lakukan.
Ruby tersentak dan berusaha bersikap tenang. “Hem, tidak. Tidak terjadi apa-apa, kok. Kami hanya mendatangi seorang desainer perhiasan dan mengajaknya bekerja sama dengan perusahaan.”
“Itu saja? Jadi selama di sana kalian hanya melakukan itu? Tidak ada hal lain, misalnya jalan-jalan atau apalah?” Tanya Safira dengan tatapan menyelidik.
Ruby menelan ludah, dia mendadak gugup. “I-iya, hanya itu. Tidak ada hal lain lagi, karena desainer itu agak sulit diajak kerja sama, kami jadi harus bolak-balik ke rumahnya untuk membujuk dia.”
Safira menghela napas lega. “Syukurlah, aku sempat takut Kakak dan Bos Dinan berduaan di sana terus jadi cinlok seperti di film-film itu.”
“Kamu ini apa-apaan, sih? Kakak ke sana itu buat kerja, kamu malah berpikir yang tidak-tidak!” Sungut Ruby.
“Namanya juga cemburu, Kak.” Jawab Safira asal.
__ADS_1
“Sesuka itu ya kamu dengan dia?”
Safira mengangguk. “Aku sangat menyukainya, Kak. Meskipun dia tidak tahu, aku tidak peduli.”
“Bagaimana kalau dia menyukai wanita lain?”
“Aku akan pasrah, Kak. Mau gimana lagi?”
“Kalau begitu, kamu yang akan sakit sendiri, Dek! Sebaiknya mulai sekarang kamu membuka hati untuk orang lain!”
“Mungkin pada akhirnya itu yang akan aku lakukan, Kak. Tapi saat ini, aku belum mau, soalnya belum ada yang membuat aku terpesona seperti Bos Dinan.”
Ruby tertegun mendengar penuturan Safira dan sikap keras kepalanya, namun dia juga merasa kasihan dengan adiknya itu.
“Kasihan Safira.” Batin Ruby iba.
“Kakak kenapa melamun?” Tegur Safira, membuat Ruby tersadar.
“Eh, tidak, Kakak tidak melamun, kok.” Bantah Ruby. “Ya sudah, Kakak ke kamar dulu, ya. Mau istirahat.”
“Iya, Kak.”
Ruby beranjak dan menarik kopernya ke kamar, dia ingin menutupi kegugupannya sebab merasa bersalah terhadap adiknya itu.
Safira hanya memandangi kepergian Ruby, dia bingung melihat sikap sang kakak yang terlihat aneh.
“Kakak kenapa, sih? Apa karena baru bertemu Mas Arkan? Atau ada sesuatu yang dia sembunyikan dari aku?” Safira mendadak curiga.
Sementara itu di dalam kamar, Ruby berjalan mendekati meja hias, dia memandangi pantulan dirinya di dalam cermin. Ada sebuah perasaan bersalah dan sedih di hatinya mengingat kata-kata Safira tadi, dia tak menyangka sang adik sangat menyukai Dinan.
“Bagaimana kalau Safira sampai tahu jika Mas Dinan baru saja menyatakan perasaannya padaku? Dia pasti sangat terluka dan sedih, aku tak ingin itu terjadi.” Ucap Ruby.
__ADS_1
Ruby mengembuskan napas berat dan memejamkan matanya dengan kuat. “Kenapa aku harus terjebak di dalam situasi rumit seperti ini, Tuhan?”
💘💘💘