
Setelah mendapatkan pesan dari Ruby, Arkan memutuskan untuk datang ke kafe yang tadi disebutkan oleh mantan istrinya saat itu juga, Emosinya sudah sampai ke ubun-ubun, dia tak terima dikhianati seperti ini.
Begitu tiba di kafe tersebut, Arkan segera masuk dengan langkah yang lebar, matanya tajam menatap Rena yang sedang duduk dan menggelayuti seorang lelaki sembari tertawa riang, bahkan lelaki itu mengecup kepala Rena dengan begitu mesra, membuat darah Arkan semakin mendidih.
“Rena!” Teriak Arkan, kakinya berayun mendekati Rena dan seketika dia menjadi pusat perhatian.
Rena terkesiap melihat kedatangan Arkan, matanya melotot nyaris keluar.
“Mampus aku! Kenapa Mas Arkan bisa ada di sini?” Batin Rena, hatinya mendadak diselimuti rasa takut.
“Ternyata ini yang kau lakukan di belakangku?” Ujar Arkan dengan sorot mata tajam.
“Aku bisa jelaskan ....”
“Aku tidak butuh penjelasan darimu! Apa yang aku lihat ini sudah cukup menunjukkan, betapa murahannya kau! Dasar pelacur!” Hardik Arkan penuh kemarahan.
“Hei, jaga bicaramu!” Bentak lelaki yang sedang bersama Rena itu.
“Diam kau!” Arkan yang sudah tersulut emosi langsung melayangkan pukulan keras ke wajah lelaki itu, hingga dia tersungkur. Kemudian menghajarnya dengan membabi-buta.
“Mas Arkan, jangan!” Jerit Rena panik. Tapi Arkan tak menggubrisnya, dia masih ingin melampiaskan kemarahannya.
Tak ingin tinggal diam, lelaki itu pun membalas pukulan Arkan, sehingga keduanya bergumul dan saling hantam.
Beberapa orang karyawan kafe sontak berlari dan melerai mereka.
“Jason, kamu tidak apa-apa!” Rena yang panik pun membantu lelaki itu berdiri, hati Arkan semakin sakit melihatnya. Sikap Rena itu sudah jelas menunjukkan jika dia lebih peduli kepada selingkuhannya alih-alih Arkan yang notabene masih kekasihnya.
“Berengsek!” Seru lelaki itu seraya mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
“Kenapa kau lakukan ini, haa? Apa salahku?” Teriak Arkan penuh emosi. “Aku rela bercerai dari Ruby hanya karena kau, tapi apa yang ku dapat?”
Seketika pelanggan kafe yang lain berbisik karena mendengar perkataan Arkan itu, bahkan beberapa pelanggan wanita seketika menatap sinis ke arah Rena karena menganggap dia seorang pelakor.
__ADS_1
Sedangkan Rena hanya tertunduk diam sambil menahan lengan selingkuhannya itu.
“Aku benci kau! Pengkhianat!” Sambung Arkan, kemudian bergegas pergi dari kafe itu, membawa rasa marah, sakit hati dan kecewa karena dikhianati.
Rena hanya terdiam menatap kepergian Arkan tanpa berniat mengejarnya.
💘💘💘
Hari sudah beranjak malam, Ruby sedang memasukkan beberapa potong pakaian dan juga keperluannya yang lain ke dalam koper kecil. Safira yang duduk di samping Ruby sedari tadi terus memasang wajah masam, dia merasa iri karena sang kakak bisa pergi ke Bali bersama pria yang dia sukai.
“Kak, aku ingin ikut.” Rengek Safira.
“Tidak bisa, Dek.” Tolak Ruby.
“Kakak enak banget bisa pergi ke Bali berdua dengan Bos Dinan, aku kan juga mau.”
“Enak apanya? Kalau bisa memilih, Kakak juga malas ikut, lagi pula ini perjalanan bisnis, bukan liburan.” Sahut Ruby.
“Tetap saja aku iri, Kak.” Safira kembali merengek seperti anak kecil.
“Ya karena Bos Dinan, aku suka dengan dia, Kak. Jadi wajarlah kalau aku iri dan cemburu jika ada wanita lain dekat dengannya.” Jawab Safira polos.
“Termasuk dengan Kakak juga?”
“Iya, kakak kan juga wanita. Aku takut saja dia kepincut dengan Kakak.”
Ruby geleng-geleng kepala dan lanjut menyusun barang-barangnya ke dalam koper. “Kamu ini ada-ada saja! Mana mungkin Bos kesayangan kamu itu kepincut dengan wanita seperti Kakak, yang seorang janda lagi.”
“Ya siapa tahu, Kak. Apalagi kalian kan sering bersama.”
“Iya, tapi dia juga bisa memilih, Dek. Di luar sana banyak wanita yang lebih segala-galanya.” Bantah Ruby. “Contohnya kamu, cantik dan masih gadis lagi.”
“Hem, tapi kalau seandainya suatu saat Bos Dinan benar-benar jatuh cinta dengan Kakak, gimana?”
__ADS_1
“Kamu ini kenapa, sih?” Ruby kembali berbalik dan menatap Safira dengan alis yang menaut. “Kemarin Mas Hanan, sekarang Pak Bos. Besok siapa lagi yang kamu anggap akan memiliki perasaan kepada Kakak? Heran, deh!”
“Aku kan hanya bertanya?” Safira menggerutu dengan wajah cemberut.
“Kamu bertanya untuk hal yang tidak mungkin!”
“Mungkin saja!” Balas Safira pelan.
Ruby kembali geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya itu, tapi tiba-tiba keduanya tersentak saat mendengar suara ketukan pintu.
“Kak, ada mengetuk pintu.”
Ruby melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Siapa yang datang malam-malam begini?”
“Kita lihat, yuk, Kak!”
Ruby mengangguk. Kedua kakak beradik itu pun bergegas keluar kamar dan melangkah mendekati pintu masuk.
Pintu kembali di ketuk dan kali ini diiringi suara teriakkan seseorang yang tidak asing ditelinga mereka.
“Ruby! Buka!”
Ruby membuka pintu dan terkejut saat melihat Arkan sudah berdiri di depan rumah dalam keadaan berantakan, dengan wajah babak belur serta bau alkohol yang menyengat.
“Mas Arkan?” Ucap Ruby dengan mata mendelik.
Safira yang sama terkejutnya sontak melayangkan pertanyaan. “Mau apa lagi Mas Arkan ke sini?”
Arkan menatap Ruby dengan mata yang sayu. “Ruby, aku ....”
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Arkan sudah ambruk dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
“Ya ampun, Mas Arkan!” Pekik Ruby dan Safira bersamaan.
💘💘💘