Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 34.


__ADS_3

Dinan mengajak Ruby makan malam di sebuah restoran mewah di daerah Nusa Dua, restoran di tepi pantai dengan suasana romantis dan tak jauh dari hotel yang mereka tempati.


Sesuai permintaan Dinan, malam ini Ruby mengenakan dress hitam selutut dengan polesan make up natural. Rambutnya tergerai indah, membuat janda cantik itu terlihat anggun. Sedangkan Dinan hanya mengenakan kaos hitam yang dipadukan dengan jas berwarna navy.


Keduanya menikmati makan malam ditemani embusan angin dan suara deburan ombak, sungguh romantis.


“Kadang hidup ini lucu, ya?” Ujar Dinan sambil tersenyum.


“Lucu kenapa, Mas?”


“Lucu saja. Pertemuan pertama kita di toilet bar sungguh tidak mengenakkan, tapi siapa sangka sekarang kita berteman.”


Ruby membelalakkan matanya. “Jadi Mas masih ingat kejadian di bar waktu itu?”


“Mana mungkin aku lupa.”


“Lalu kenapa selama ini Mas bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa?” Tanya Ruby.


“Aku hanya tidak ingin kamu takut dan kabur lagi dariku.” Kelakar Dinan sembari tertawa.


“Apa Mas akan tetap meminta pertanggung jawaban?”


“Tentu saja tidak, lukanya juga sudah sembuh.”


Ruby menghela napas lega. “Syukurlah. Aku minta maaf atas kejadian itu, Mas.”


“Aku sudah maafkan, kok.” Dinan mengibaskan tangannya.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Dinan berdering, dia mengeluarkan benda pipih itu dari dalam sakunya, tapi begitu melihat Samara yang menelepon, Dinan langsung mematikannya dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.


Ruby memperhatikan tingkah Dinan, tapi dia tak berani bertanya, meskipun penasaran mengapa Bosnya itu tidak menjawab teleponnya.


“Hem, By!”


“Iya, Mas.”


“Sebenarnya ada yang ingin aku katakan.”


Ruby menautkan kedua alisnya. “Apa itu, Mas?”


Dinan menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskannya, dia berusaha menenangkan diri sebelum bicara.


“Aku mencintaimu.” Ucap Dinan tanpa basa-basi.


Dinan meraih tangan Ruby dan menatapnya. “Aku serius, By. Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu dan aku ingin hubungan kita lebih dari ini.”


Ruby tertegun, tapi seketika dia teringat pada Safira dan hatinya juga mendadak dipenuhi rasa minder. Ruby pun menarik tangannya lalu tertunduk demi menghindari tatapan Dinan.


“Maaf, Mas. Aku tidak bisa!”


“Kenapa, By? Apa kamu masih mencintai mantan suamimu itu?”


“Ini tidak ada hubungannya dengan dia, Mas.” Bantah Ruby.


“Lalu?”

__ADS_1


Ruby mengangkat kepalanya, memandang Dinan dengan wajah sendu. “Mas, aku ini tidak pantas untuk kamu! Aku hanya seorang janda, sedangkan kamu pria lajang yang punya segalanya. Kamu seharusnya mendapatkan wanita yang sepadan denganmu, wanita yang memang pantas kamu cintai.”


“Aku tidak peduli dengan status dan juga masa lalu mu! Aku tidak peduli dengan apa pun, karena aku sungguh-sungguh mencintaimu, By.” Ujar Dinan.


Ruby merasa terharu mendengar ucapan Dinan, tapi dia tetap tak bisa menerima lelaki itu.


“Mas, sadarlah! Kita ini berbeda! Lagi pula ini terlalu cepat, mungkin saja ini hanya perasaan sesaat. Mas hanya terbawa suasana.” Sanggah Ruby.


“By, tolong percaya padaku. Aku yakin dengan perasaanku ini.” Ucap Dinan, dia berusaha meyakinkan Ruby.


Ruby terdiam, kemudian menghela napas berat. “Maaf, Mas. Aku benar-benar tidak bisa! Lagi pula aku sudah cukup nyaman dengan hubungan kita sekarang. Hubungan sebatas teman antara atasan dan bawahan.”


“Tapi aku ingin lebih dari ini, By!”


“Sekali lagi aku minta maaf, Mas. Aku sungguh tidak bisa.” Pungkas Ruby, kemudian beranjak dan bergegas pergi.


“By, tunggu! Ruby!” Teriak Dinan, tapi Ruby tak menggubrisnya sama sekali. Janda cantik itu tetap pergi meninggalkan Dinan seorang sendiri.


Sebenarnya Ruby sudah mulai menyadari gelagat Dinan dari sikapnya yang tak biasa, tapi dia berusaha mengabaikan semua itu, sebab tak ingin terbawa perasaan jika menanggapinya. Meskipun tak dipungkiri, ada getaran aneh saat dia berada di dekat lelaki itu.


Namun dia tak menyangka, malam ini Dinan akan mengungkapkan perasaannya. Tentu saja Ruby harus menolaknya, karena berbagai alasan. Selain status dan masa lalunya yang membuat dia merasa tak pantas untuk Dinan, dia juga tak ingin melukai perasaan Safira yang sangat menyukai Bosnya itu.


Sementara Dinan hanya bergeming memandang kepergian Ruby, dia tak menyangka jika cintanya akan bertepuk sebelah tangan. Ini rekor baru baginya, karena seumur hidup dia belum pernah sekalipun ditolak oleh wanita. Dan penolakan ini membuat Dinan merasa semakin tertantang untuk menaklukkan hati janda cantik yang telah memikatnya itu.


Dinan menyeringai. “Aku tidak akan menyerah begitu saja! Aku pastikan kau akan berubah pikiran dan menerima cintaku, kita lihat saja nanti.”


Dia pun beranjak dan segera menyusul Ruby dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


💘💘💘


__ADS_2