
Setelah jam makan siang berakhir, Ruby menemui Hanan demi meminta izin pulang lebih awal, sebab dia ingin melayat ke rumah orang tua Arkan.
“Maaf, Mas. Saya boleh izin pulang lebih awal tidak?”
Hanan mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan permintaan Ruby. “Memangnya ada apa?”
“Orang tua mantan suami saya meninggal dunia, saya ingin melayat karena sore nanti akan dikebumikan.” Jawab Ruby.
Hanan terdiam menatap Ruby, dia masih menimbang-nimbang permintaan wanita itu sebab ragu untuk memberikan izin.
“Apa kamu tidak ada pekerjaan lagi?”
Ruby menggeleng. “Semua berkas yang harus ditanda tangani Bos sudah saya antar, dia juga tidak ada di sini. Jadi saya tidak ada pekerjaan lagi, Mas.”
Hanan menghela napas. “Baiklah, kalau begitu kamu boleh pulang.”
“Terima kasih, Mas. Kalau begitu saya permisi dulu.”
Hanan mengangguk. “Iya, silakan.”
Ruby pun keluar dari ruangan Hanan dengan tergesa-gesa, dia ingin tiba di rumah duka sebelum jenazah dimakamkan.
Namun Hanan mendapatkan ide jahil untuk membuat Dinan uring-uringan, dia bergegas menghubungi sahabat sekaligus saudara tirinya itu dan mengatakan ke mana Ruby akan pergi. Dan benar saja, Dinan langsung heboh tidak menentu.
Sementara itu, Ruby yang sedang berjalan keluar kantor terkejut karena tiba-tiba Dinan meneleponnya, janda cantik itu pun segera menjawab panggilan masuk dari sang atasan.
“Halo, Mas.”
“Aku akan ke kantor, kamu tunggu di ruanganku!”
“Loh, bukannya Mas sedang tidak enak badan?”
“Aku sudah sehat!”
__ADS_1
“Tapi aku sudah izin pulang, Mas. Aku mau melayat.”
“Siapa yang memberi izin?”
“Mas Hanan.” Jawab Ruby apa adanya.
“Yang Bos kamu itu aku, bukan Hanan! Jadi hanya aku yang boleh memberikan izin, bukan dia! Sudahlah, aku lagi di perjalanan.”
Dinan langsung memutus panggilan tanpa Ruby sempat menjawab apa pun.
“Dasar aneh! Selalu saja buat pusing!” Gerutu Ruby.
Dia seketika merasa kesal pada Bosnya itu, dengan wajah cemberut dia berbalik dan berjalan ke ruang Dinan.
Saat akan masuk ke dalam ruangan CEO, Ruby berpapasan dengan Hanan. Pria bertubuh tinggi itu mengernyitkan keningnya melihat Ruby kembali lagi.
“Loh, kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?” Cecar Hanan pura-pura tidak tahu.
“Tadi Bos menelepon, katanya dia sedang di perjalanan menuju kantor dan saya diminta untuk menunggu dia dalam ruangannya.” Jawab Ruby masih dengan wajah yang masam.
“Padahal tadi kan Mas Hanan sudah mengizinkan saya pulang lebih awal.” Lanjut Ruby.
“Ya, mau bagaimana lagi? Kita hanya bawahan dan jika Bos sudah memberi perintah, kita tidak bisa membantah.”
Ruby menghela napas berat. “Ya sudahlah, saya tunggu di ruangannya.”
Hanan mengangguk. “Baiklah, saya tinggal dulu.”
Hanan pun berlalu sambil tersenyum lebar tanpa sepengetahuan Ruby, sementara wanita itu sudah masuk ke dalam ruangan CEO dan duduk manis di sana dengan wajah ditekuk.
Beberapa saat kemudian, Ruby yang sedang duduk termenung di sofa terkejut karena pintu ruangan CEO tiba-tiba terbuka dan muncullah sosok Dinan yang memakai kemeja hitam juga celana hitam. Dia tidak mengenakan setelan jas formal seperti biasanya, bahkan bos tampan itu memakai kaca mata hitam.
Dengan langkah yang lebar, Dinan berjalan mendekati meja kerjanya dan sibuk membongkar berkas-berkas yang tersusun di atasnya. Dia bahkan mengabaikan keberadaan Ruby yang sedang menatapnya dengan bingung.
__ADS_1
Ruby mengerutkan keningnya melihat penampilan Dinan itu. “Mas kenapa berpakaian serba hitam begini? Pakai kaca mata hitam segala lagi.”
“Memangnya kenapa? Ada larangan?” Dinan balik bertanya tanpa memandang Ruby.
“Tidak, sih. Tapi aneh saja.”
“Apanya yang aneh? Kalau aku ke kantor tidak pakai baju, itu baru aneh.” Balas Dinan.
Ruby terdiam, dia tak melanjutkan kata-katanya meskipun hatinya masih bertanya-tanya dengan penampilan tak biasa atasannya itu.
Dinan masih sibuk membolak-balikkan lembaran berkas di hadapannya, sementara Ruby menunggu dengan gelisah. Dia berulang kali melirik arloji di pergelangan tangannya, hari semakin sore dan menurut kabar yang dia dapatkan, ayahanda Arkan akan dikebumikan sebentar lagi.
Akhirnya Ruby memberanikan diri untuk bertanya. “Mas, masih lama, ya?”
“Sebentar lagi. Kenapa?”
“Hem ... aku boleh tidak izin pulang sekarang? Soalnya aku mau melayat dan sebentar lagi jenazahnya akan dimakamkan.” Sahut Ruby hati-hati, berharap Dinan mengizinkan dirinya pulang, karena dia sendiri juga tidak ada pekerjaan dan hanya menunggu Bosnya itu.
Dinan akhirnya menatap Ruby. “Baiklah, kamu boleh pulang.”
“Benar, Mas?”
Dinan mengangguk, lalu menutup berkas di hadapannya.
“Terima kasih, Mas. Aku permisi.” Ruby beranjak dan hendak pergi, tapi langkahnya terhenti saat Dinan juga bangkit dan berjalan menghampirinya.
“Aku antar kamu melayat!” Ujar Dinan tegas.
Ruby tercengang dan dengan cepat menolaknya. “Eh, tidak usah, Mas! Aku bisa pergi sendiri.”
“Aku tidak menerima penolakan! Yuk!” Dinan berjalan mendahului Ruby.
Ruby mengembuskan napas berat, dia kesal dengan sikap Dinan yang selalu saja memaksakan kehendaknya, dan akhirnya mau tak mau dia pun pasrah lalu bergegas menyusul Dinan.
__ADS_1
💘💘💘