Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 66.


__ADS_3

Setelah memastikan Ruby sudah lebih tenang, Dinan pun memutuskan untuk mendatangi rumah Efendi, karena dia yakin Samara pasti ada di sana.


Dinan menyelonong masuk tanpa permisi, dia langsung terang-terangan mencari wanita itu


“Samara! Keluar!” Teriak Dinan.


Seorang wanita paruh baya bernama Windi, yang tak lain adalah ibu tiri Samara, keluar dari kamarnya.


“Ada apa ini? Kenapa kamu teriak-teriak?”


“Suruh Samara keluar! Aku ingin bertemu dengannya.” Sahut Dinan.


“Iya, tapi bisa kah kamu sopan sedikit? Jangan berteriak seperti itu di rumah orang lain!”


“Jangan ajarkan sopan santun kepada orang lain, ajarkan saja pada anak tiri anda yang tidak waras itu!” Balas Dinan menohok.


Windi terkejut dengan sikap kasar Dinan itu, tapi belum sempat dia membalas, Samara turun dari lantai atas.


“Tumben sekali kau mencari ku? Apa sekarang kau mulai merindukan aku?” Samara bersikap sok manis.


“Jangan banyak basa-basi, kau pasti tahu apa tujuan aku datang ke sini.” Ucap Dinan dengan sorot mata tajam.


Samara tersenyum. “Memangnya aku cenayang apa?”


“Kenapa kau menyakiti Ruby?” Tanya Dinan tanpa basa-basi.


“Karena dia berani menggoda calon suamiku?” Jawab Samara santai.


“Kau dengar ini baik-baik! Pertama, Ruby tidak pernah menggoda ku, justru aku yang selalu mengejarnya. Dan kedua, aku ini bukan calon suamimu, karena sampai kapan pun aku tidak akan mau menikah denganmu.” Sahut Dinan.


“Dinan! Kedua orang tua kita sudah sepakat untuk menjodohkan kita, kau tidak bisa menolaknya. Dan asal kau tahu, aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan mu, termasuk melenyapkan Ruby jika perlu.”


“Tidak ada yang bisa mengatur hidupku, jadi aku tidak peduli dengan kesepakatan gila itu. Dan kau tahu kenapa aku tidak bisa mencintaimu? Itu karena kau memiliki hati yang busuk dan sikap yang buruk seperti iblis.” Ujar Dinan menohok.


Samara termangu dengan mata berkaca-kaca, sedangkan Windi hanya terdiam memandang iba kepada Samara.


“Dan satu lagi, aku peringatkan, jangan coba-coba menyakiti Ruby atau kau akan berurusan denganku.” Ancam Dinan, lalu bergegas pergi dari kediaman Efendi.


Samara pun tertunduk dan menangis, dia merasa sakit hati dengan semua kata-kata kasar Dinan itu. Dia pun berlari masuk ke dalam kamarnya, kemudian melemparkan semua barang-barang dan menjerit histeris. “Aaarrgghh!”


Samara terduduk di lantai lalu menangis sejadi-jadinya. “Dinan, sampai mati pun aku tidak akan melepaskan mu. Kau akan jadi milikku, hanya milikku!”


💘💘💘


Malam harinya, Ruby yang sedang berbaring di kamar tersentak saat terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Dia buru-buru bangkit lalu membuka pintu, dan terkejut melihat Arkan sudah berdiri di depan rumahnya.


“Mas Arkan?”


Arkan tersenyum.


“Ada apa Mas datang malam-malam begini?” Tanya Ruby.


“Aku ingin mengajak kamu makan malam bersama Mama.”


“Maaf, aku tidak bisa!” Tolak Ruby.

__ADS_1


Wajah Arkan berubah masam, dia kecewa atas penolakan Ruby.


“Apa karena lelaki itu?” Tebak Arkan.


Ruby menautkan kedua alisnya. “Maksud, Mas?”


“Kemarin malam aku menghubungi mu dan yang menjawab teleponku itu Dinan, dia mengatakan kalian akan segera menikah. Apa karena itu kamu menolak ajakan makan malam dariku dan Mama?”


Ruby terkesiap dan mengabaikan pertanyaan Arkan. “Mas menghubungi aku?”


Arkan mengangguk dan Ruby pun terdiam.


“Kenapa Mas Dinan tidak mengatakan hal itu tadi? Apa dia lupa?” Batin Ruby.


“By, apa benar kalian mau menikah? Tapi bukankah dia itu calon menantunya Pak Efendi?” Cecar Arkan.


Ruby termangu, dia bingung harus menjawab apa.


“By, jawab aku!” Desak Arkan.


“Maaf, Mas. Aku tidak harus menjawab pertanyaan Mas itu, karena ini urusan pribadiku. Sebaiknya sekarang Mas pergi, aku mau istirahat.” Ruby hendak menutup pintu, tapi Arkan menahannya dan memaksa ikut masuk.


“Tunggu, By!”


“Ada apa lagi, Mas?”


“By, kamu kan tahu aku ingin kita rujuk, tapi kenapa kamu tidak memberiku kesempatan? Dan kamu lebih memilih lelaki lain yang belum tentu baik untukmu.”


“Lalu apa Mas baik untukku? Mas sendiri tega mencampakkan dan menyakiti aku demi orang lain yang juga belum tentu baik untuk Mas, lalu kenapa sekarang Mas protes?” Balas Ruby menohok.


“Semua sudah terlambat, Mas. Kamu sudah menyia-nyiakan kesempatan bersamaku, dan sekarang aku sudah mencintai orang lain. Bagiku, kamu hanya masa lalu.”


Arkan tertawa. “Tidak semudah itu, Ruby! Setelah semua yang aku lakukan, aku tidak akan semudah itu membiarkanmu jadi milik orang lain. Kamu harus jadi milikku lagi.”


Arkan memandang Ruby dengan tatapan tak terbaca sembari melangkah mendekati wanita itu.


Ruby yang mulai takut pun mundur perlahan. “Mas mau apa?”


Arkan menyeringai, dan tanpa basa-basi langsung menarik Ruby lalu berusaha mencumbunya dengan kasar. Ruby memberontak dan berteriak, tapi Arkan tak peduli.


Safira yang mendengar suara gaduh, keluar dari kamarnya dan terperangah melihat kejadian tak senonoh di hadapannya.


“Kakak! Mas Arkan!” Seru Safira dengan mata melotot.


“Fira ... tolong!” Jerit Ruby.


Melihat sang kakak terancam, Safira spontan menarik lengan Arkan tapi lelaki itu justru mendorongnya hingga terjerembap ke lantai.


“Fira!” Teriak Ruby saat melihat sang adik terjatuh.


Safira meringis sambil memegangi bokongnya yang sakit.


“Mas sudah gila!” Jerit Ruby lagi.


“Iya, aku memang sudah gila! Dan itu semua karena kau!” Bentak Arkan, lalu kembali menyerang Ruby.

__ADS_1


“Mas, jangan!”


Safira bangkit dan ingin mendekati mereka lagi, tapi langkahnya terhenti karena Dinan tiba-tiba datang dan sontak menendang Arkan hingga tersungkur ke lantai.


Safira tercengang. “Bos Dinan?”


“Bangsat! Apa yang kau lakukan? Berani sekali kau menyentuhnya!” Hardik Dinan, dia memukuli Arkan dengan membabi-buta.


Ruby berteriak panik. “Mas sudah! Hentikan!”


Tak ingin tinggal diam, Arkan pun mendorong Dinan dan balas memukul bos tampan itu hingga dia terhuyung ke belakang.


“Mampus kau, bajingan!” Umpat Arkan sambil menyeringai.


“Berengsek!” Dinan hendak menyerang Arkan lagi, tapi Ruby menahan tangan lelaki itu.


“Mas, sudah! Aku mohon!” Ruby memandang Dinan dan Arkan dengan berlinang air mata.


“Tapi dia sudah kurang ajar terhadapmu, By.”


“Mas, aku mohon.” Ruby menggenggam tangan Dinan.


Dinan menghela napas dan menuruti permintaan Ruby itu.


Safira yang melihat semua itu merasa cemburu.


Ruby kemudian menatap Arkan yang sudah babak belur karena dihajar Dinan tadi.


“Aku pernah bertanya kenapa Tuhan memisahkan kita? Dan hari ini aku tahu jawabannya.” Ucap Ruby, air matanya jatuh menetes.


“By, aku minta maaf. Aku terbawa emosi.” Sesal Arkan.


“Maaf ku sudah habis untukmu, sebaiknya sekarang kau pergi dan jangan pernah mengganggu hidupku lagi!”


“Tapi, By. Aku seperti ini karena aku sangat mencintaimu, aku tidak rela kamu menjadi milik orang lain.”


“Aku mohon pergi dari sini!” Usir Ruby.


“By.” Arkan memelas.


“Pergi!” Bentak Ruby.


Dengan perasaan marah dan kesal, Arkan pun akhirnya meninggalkan rumah Ruby.


“Kamu tidak apa-apa, kan?” Dinan memandang cemas Ruby.


Ruby menggeleng. “Tidak, Mas.”


“Syukurlah.”


Ruby mengalihkan perhatiannya ke Safira yang masih terpaku menatap mereka. “Fira, kamu tidak apa-apa?”


Bukannya menjawab, Safira malah melenggang pergi, tapi suara Dinan menghentikan langkahnya.


“Tunggu! Kita perlu bicara.”

__ADS_1


💘💘💘


__ADS_2