Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 39.


__ADS_3

Setelah selesai makan, Dinan menyendiri di tepi kolam renang kediaman Surya. Sebenarnya perasaan Bos tampan itu sedang tidak tenang mengingat Arkan yang tadi berada di rumah Ruby, dia terus-terusan memikirkan janda cantik itu.


“Kira-kira mantan suami Ruby itu sudah pulang belum, ya? Mau apa dia datang?” Dinan bertanya-tanya sendiri.


“Apa sebaiknya aku telepon saja? Tapi alasannya apa aku menghubungi dia? Masa to the point menanyakan mantannya itu, sih?”


Dinan terus memandangi layar ponselnya yang tertera nomor telepon Ruby, hatinya galau dan bimbang.


“Kalau rindu, telepon saja! Tidak ada yang larang, kok!” Ledek Hanan yang tiba-tiba datang, membuat Dinan terkejut.


“Bangsat kau, Han! Mengagetkan saja!” Umpat Dinan.


Hanan tertawa.


“Pasti lagi memikirkan Ruby, iya kan?” Tebak Hanan.


“Kalau sudah tahu, buat apa bertanya lagi?” Sahut Dinan malas.


Hanan duduk di depan Dinan dan menatapnya curiga, membuat Bos tampan itu risi sendiri.


“Kenapa menatapku begitu?”


“Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan, tapi karena tadi ada Papa dan Mama, tidak jadi.”


“Mau tanya apa? Jangan banyak basa-basi!”


“Kau benar tidak macam-macam dengan Ruby?”


Dinan sontak menatap tajam Hanan. “Kau meragukan penjelasan ku?”


“Tentu saja! Siapa yang bisa percaya dengan playboy sepertimu?”


“He, aku ini pria baik-baik dan terhormat! Aku tidak akan berbuat sembarangan, apalagi kepada wanita yang aku cintai.” Sungut Dinan.


Hanan masih memandang curiga Dinan. “Benarkah? Orang sepertimu masa tidak tergoda dengan wanita secantik Ruby?”


“Sempat tergoda, sih. Tapi aku berusaha menahan diri, karena aku tidak ingin dia membenciku.” Jawab Dinan dengan wajah memelas, dia teringat penderitaannya tadi malam yang tidak bisa tidur.


“Kalau begitu ajak saja dia menikah, jadi kau tidak perlu menahan diri lagi.” Seloroh Hanan.


“Bagaimana mau menikah? Menyatakan cinta saja ditolak.” Gerutu Dinan pelan.


Hanan tercengang mendengar kata-kata Dinan. “Jadi kau sudah ditolak?”

__ADS_1


Dinan mengangguk malas. “Hem.”


Hanan sontak tertawa terpingkal-pingkal, membuat Dinan kesal.


“Sialan kau, Han! Aku lagi patah hati, kau malah ketawa girang!” Protes Dinan sembari menendang kaki Hanan.


“Ini rekor baru dalam sejarah, seorang Afdinan Ibrahim ditolak wanita. Sungguh memalukan!” Ejek Hanan.


“Diam, kau!” Bentak Dinan kesal.


Lagi-lagi Hanan tertawa terbahak-bahak, membuat Dinan semakin cemberut.


Hanan pun berusaha menghentikan tawanya, karena melihat wajah masam sahabatnya itu.


“Memangnya apa alasan dia menolak mu?” Tanya Hanan setelah tawanya reda.


“Dia merasa tak pantas untukku, karena dia seorang janda, sedangkan aku lajang. Padahal aku tidak peduli dengan status dan masa lalunya.”


“Dia pasti minder dan berkecil hati.”


“Sepertinya begitu.” Sahut Dinan. “Dia juga meragukan cintaku. Katanya ini terlalu cepat.”


“Makanya jangan terburu-buru! Baru juga mulai pendekatan, sudah main sosor saja! Ya jelaslah dia ragu, apalagi dia sudah pernah gagal, pasti dia trauma dengan laki-laki.” Tutur Hanan sok tahu.


“Iya, tapi seharusnya kau lebih sabar. Lakukan dengan perlahan, sentuh hatinya dulu dan buat dia benar-benar jatuh cinta padamu. Bukan main tancap gas saja.”


“Kau tahu apa, sih? Pacar saja tidak punya, terakhir kali putus juga dengan tali pusar.” Cibir Dinan.


“Berengsek, kau!” Maki Hanan. “Setidaknya aku belum pernah ditolak wanita.”


Wajah Dinan semakin masam.


“Jadi kau akan menyerah?” Hanan bertanya lagi.


Dinan menggeleng. “Tentu saja tidak! Aku akan tetap berjuang, aku akan buat dia yakin dan mau menerima cintaku.”


“Aku akan membantumu!” Imbuh Hanan.


“Baiklah, aku akan menerima bantuan mu seperti biasa.” Balas Dinan dengan senyuman penuh arti.


“Kalian di sini rupanya! Pantas Papa cari di dalam rumah tidak ada.” Suara Surya tiba-tiba mengagetkan Dinan dan Hanan, keduanya sontak menoleh ke arah pria paruh baya itu.


“Ada apa, Pa?” Tanya Dinan.

__ADS_1


“Tadi Papa sudah menjelaskan semuanya pada Efendi, dan syukurnya dia mau percaya.”


Dinan memalingkan wajahnya sembari menghela napas, sebenarnya dia tidak peduli orang yang bernama Efendi itu mau percaya atau tidak. Tapi dia tak ingin membuat sang Papa kecil hati.


“Tadi kami juga sudah membicarakan tentang perjodohan kalian, dan kami sepakat akan mengadakan pertunangan mu dengan Samara secepatnya.” Lanjut Surya sambil memandang Dinan.


Dinan sontak menatap tajam Surya, dia terkejut bukan main mendengar penuturan papanya itu, begitu juga dengan Hanan.


“Aku kan sudah bilang, kalau aku belum mau menikah! Jadi buat apa tunangan?” Dinan langsung melayangkan protes.


“Papa tahu itu hanya alasanmu saja!” Bantah Surya. “Lagi pula mau sampai kapan kau terus melajang? Usiamu sudah cukup, kau juga sudah mapan. Jadi apa lagi yang kau tunggu?”


Dinan mengembuskan napas berat, dia berusaha menahan emosinya.


“Samara itu gadis yang baik dan cantik, dia juga dari keluarga baik-baik. Kau tidak akan menyesal menikah dengannya.”


“Tapi aku tidak mencintainya, Pa!”


“Cinta itu bisa datang belakangan seiring berjalannya waktu. “ Balas Surya. “Lagi pula zaman sekarang, orang-orang sudah biasa menikah tanpa cinta. Mereka juga tetap bahagia, kok.”


“Tapi aku tidak bisa, Pa! Aku tidak mau bertunangan apalagi menikah dengan Samara!”


“Dinan!” Bentak Surya. “Papa dan Efendi sudah sepakat akan menjodohkan kalian, jadi jangan buat Papa malu!”


“Aku tidak peduli! Kan Papa yang berjanji, bukan aku!” Sahut Dinan, kemudian beranjak pergi dari kediaman Surya.


“Dinan! Dinan tunggu!” Teriak Surya, tapi Dinan mengabaikannya. “Dasar anak kurang ajar!”


Surya beralih memandang Hanan yang masih terpaku di tempatnya. “Han, tolong bujuk dia!”


“Akan aku coba, Pa. Tapi jangan terlalu berharap.” Jawab Hanan sarkas.


Surya menautkan kedua alisnya. “Kenapa?”


Hanan menggeleng cepat. “Tidak apa-apa, Pa. Kalau begitu aku pulang dulu.”


Surya mengangguk.


“Sampaikan ke Dinan, kalau besok Samara pulang ke Indonesia, Papa harap dia mau menemui gadis itu.”


“Iya, Pa.”


Hanan buru-buru pergi demi menghindari pembicaraan dengan Surya, karena sebenarnya dia malas untuk ikut campur dalam hal ini. Apalagi dia tahu, Dinan tidak mencintai Samara, melainkan Ruby.

__ADS_1


💘💘💘


__ADS_2