
Ruby sudah kembali ke kantor, seperti biasanya setiap pagi dia membuatkan kopi untuk Dinan dan mengantarkannya ke ruangan Bos tampan itu.
Ruby berdiri di depan ruangan Dinan dengan secangkir kopi di tangannya, dia berusaha menenangkan diri sebelum mengetuk pintu. Meskipun sikap Dinan sudah biasa saja, tapi sejujurnya Ruby masih merasa canggung bila bertemu atasannya itu.
Ruby mengetuk pintu, tapi tak ada yang menyahut dari dalam. Begitu pun diketukkan berikutnya, tetap tak ada yang menjawab.
“Bos tidak ada!”
Ruby sontak berbalik dan mendapati Hanan sudah berdiri di belakangnya. “Mas Hanan?”
“Hari ini Bos tidak masuk, katanya sedang tidak enak badan.” Lanjut Hanan meski Ruby tak bertanya.
“Oh, begitu. Ya sudah, kopinya saya bawa lagi. Permisi, Mas.” Ruby hendak beranjak pergi tapi Hanan menahannya.
“Tunggu dulu!”
Ruby berhenti dan menatap Hanan. “Ada apa, Mas?”
“Ada berkas yang harus ditandatangani oleh Bos, kamu bisa tolong antarkan ke apartemennya?” Tanya Hanan.
Ruby terdiam, sesungguhnya dia ingin menolak tapi tidak berani.
“Hem, tapi saya tidak tahu di mana apartemennya, Mas.” Dalih Ruby, dia berharap Hanan urung menyuruhnya.
“Saya kasih alamatnya. Tolong, ya?” Harap Hanan.
Ruby menghela napas, dia tak ada pilihan lagi selain setuju. “Iya, baiklah, Mas.”
“Ini berkasnya.” Hanan memberikan dua buah map, kemudian mengambil uang dari dalam dompetnya dan memberikannya ke Ruby. “Ini tolong belikan buah dan bubur untuk Bos, dia tinggal sendiri, pasti tidak ada yang merawatnya. Sisa uang itu ambil buat ongkos kamu.”
“Maaf, Mas. Tangan saya cuma dua dan sudah penuh.” Seloroh Ruby sambil melirik kedua tangannya yang memegang map dan cangkir kopi.
Hanan tertawa. “Maaf, saya lupa. Kalau begitu ke sini kan kopinya! Buat saya saja.”
Ruby mengangguk dan memberikan kopi itu kepada Hanan, barulah dia bisa menerima uang yang disodorkan oleh lelaki itu.
“Kalau begitu saya pergi dulu, Mas.”
“Iya, hati-hati di jalan. Saya akan kirim alamatnya.” Balas Hanan dan segera mengirimkan alamat apartemen Dinan melalui chat.
Ruby hanya mengangguk, kemudian berlalu dari hadapan Hanan.
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa, Ruby meninggalkan gedung Unique Jewelry lalu singgah di sebuah restoran sederhana dan membeli seporsi bubur ayam untuk Dinan, dia juga membelikan apel serta pisang di mini market tak jauh dari restoran itu. Dengan menaiki taksi, dia segera meluncur ke alamat yang Hanan berikan.
Tak berapa lama, Ruby tiba di sebuah apartemen mewah, sesuai dengan alamat yang Hanan berikan, dia naik ke lantai 12 lalu mencari apartemen nomor 206.
“Ini dia!” Seru Ruby saat menemukan apa yang dia cari.
Ruby menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya, dia berusaha menenangkan diri sebelum bertemu Dinan. Dia menekan bel, tapi pintu sama sekali tak terbuka. Tak putus asa, dia kembali menekan bel hingga berkali-kali dan akhirnya pintu bercat coklat tua itu pun terbuka. Tampak Dinan mengenakan kaos dan celana panjang, wajahnya lesu dengan rambut acak-acakan.
“Selama pagi, Mas.” Sapa Ruby canggung.
“Selamat pagi, mau apa kamu ke sini? Kangen dengan aku?” Tanya Dinan percaya diri, tapi Ruby pura-pura tidak peduli dengan kalimat terakhirnya.
“Aku di suruh Mas Hanan mengantarkan berkas yang harus Mas tanda tangani.” Jawab Ruby sembari menyodorkan berkas yang dia bawa.
“Oh. Ya sudah, masuk!”
Ruby terkesiap, bukannya menerima bekas yang dia berikan, Dinan malah menyuruhnya masuk sambil melenggang pergi. Tadinya dia berpikir jika tugasnya hanya mengantarkan titipan Hanan lalu segera pergi, dia tidak menduga kalau harus masuk ke dalam apartemen bosnya itu.
Dengan perlahan Ruby melangkah masuk ke dalam apartemen Dinan, sedangkan lelaki itu sudah duduk di atas sofa.
“Mana berkasnya?” Dinan menadahkan tangannya.
Ruby menyerahkan berkas yang dia bawa. “Ini, Mas.”
Dinan melirik bungkusan yang Ruby letak di hadapannya. “Apa itu?”
“Bubur ayam dan buah-buahan, tadi Mas Hanan menyuruh aku membelikannya untuk Mas.” Sahut Ruby.
Dinan pun menutup map itu dan meletakkannya di atas meja. “Nanti saja aku tanda tangani, aku mau pelajari dulu isinya.”
“Oh, ya sudah. Kalau begitu aku akan kembali ke kantor.” Ruby hendak pergi.
“Enak saja! Kamu itu asisten pribadiku, masa aku lagi tidak enak badan begini, kamu tinggal.” Protes Dinan. “Kamu harus tetap di sini!”
Ruby tercengang. “Tapi aku kan harus bekerja, Mas.”
“Pekerjaan kamu itu menuruti perintahku dan mengurus semua keperluan ku selama jam kerja, jadi mau itu di kantor ataupun di luar kantor, kamu tetap harus melakukannya.”
Ruby menghela napas, dia tak ingin berdebat lagi dengan Dinan. “Baiklah, jadi sekarang aku harus ngapain?”
“Aku belum sarapan, kebetulan kamu bawa bubur, jadi tolong siapkan untukku.” Pinta Dinan.
__ADS_1
Ruby mengangguk dan segera meraih bungkusan yang dia letak di atas meja tadi, lalu membawanya ke dapur.
Beberapa saat kemudian, Ruby kembali dengan semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih. Dia meletakkannya di hadapan Dinan.
“Ini, Mas. Silakan makan.”
Dinan memandang Ruby dengan wajah memelas. “Aku sedang tidak enak badan, tanganku lemas sekali. Jadi tolong suap kan!”
Ruby terkesiap mendengar permintaan Dinan.
“Bukankah tadi tangannya baik-baik saja?” Batin Ruby.
“Kenapa melamun? Aku sudah lapar sekali, cepat suap!” Desak Dinan.
Ruby kembali menghela napas, mau tak mau dia pun menuruti permintaan Dinan.
Ruby duduk di samping Bosnya itu lalu menyuapinya dengan telaten.
Dinan makan dengan lahap, matanya terus menatap Ruby, membuat wanita itu merasa risi.
“Kalau begini, aku mau sakit saja.” Ujar Dinan
“Mas ini bicara apa, sih? Mana ada orang mau sakit.”
“Aku serius, By. Aku rela sakit, asal bisa dekat kamu terus kayak gini.” Lanjut Dinan.
Ruby terdiam menatap Dinan dengan jantung yang berdebar, begitu pun dengan Dinan yang memandangnya dengan penuh arti.
Ruby tersentak dan buru-buru beranjak dari duduknya, sebab tak ingin terbawa suasana.
“Kamu mau ke mana?”
Tanya Dinan.
“Mau meletakkan mangkuk ini ke dapur, buburnya kan sudah habis.”
Ruby segera ke dapur untuk meletakkan mangkuk kosong itu, sebenarnya dia ingin menghindari tatapan mata Dinan yang entah mengapa belakang ini sering membuat jantungnya berdegup kencang.
Sedangkan Dinan tersenyum senang, karena bisa menikmati kebersamaan ini bersama Ruby.
“Aku harus berterima kasih pada Hanan.” Gumamnya.
__ADS_1
💘💘💘