Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 48.


__ADS_3

Ruby dan Dinan pun pamit, sejujurnya Arkan merasa tidak suka mereka berdekatan, karena dia bisa melihat dari tatapan mata Dinan jika lelaki itu menyukai sang mantan istri. Tapi dia tak ada alasan untuk melarang mereka pergi bersama dan hanya bisa memandangi mobil Dinan yang melaju meninggalkan halaman rumahnya dengan perasaan kesal. Namun tanpa Arkan sadari, Rena sedang memperhatikannya dari kejauhan. Sebenarnya ada yang ingin dia katakan, tapi urung sebab melihat Arkan sedang berduka.


“Saya tidak tahu jika ternyata anda dan calon menantu saya saling mengenal.” Ujar Efendi tiba-tiba. Arkan sontak berbalik memandang lelaki paruh baya yang berdiri di belakangnya itu.


“Calon menantu? Maksud anda siapa?” Arkan bertanya dengan alis yang menaut.


“Dinan itu calon menantu saya.” Jawab Efendi.


“Oh, maaf. Tapi saya tidak mengenal dia sama sekali. Bahkan saya baru tahu namanya tadi.”


“Kalau begitu bagaimana dia bisa ada di sini?”


“Dia datang bersama mantan istri saya.” Sahut Arkan.


Efendi tercengang. “Jadi asisten pribadi Dinan itu mantan istri anda?”


Arkan mengangguk. “Iya, kami baru saja berpisah.”


“Maaf, saya tidak tahu.”


Arkan tersenyum.“Tidak apa-apa.”


“Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Sekali lagi saya turut berduka cita atas berpulangnya ayah anda.” Ucap Efendi sembari pamit undur diri.


“Iya, terima kasih banyak, Pak Efendi.”


Efendi pun berlalu pergi meninggalkan kediaman Arkan dengan senyuman sinis.


“Ternyata wanita itu seorang janda. Aku harus beritahukan hal ini pada Surya.” Batin Efendi.


💘💘💘


Di perjalanan, Dinan mengemudi sambil bersiul riang, dia lega dan senang karena akhirnya Ruby bisa menjauh dari mantan suaminya itu.


“Mas.” Tegur Ruby.

__ADS_1


“Hem.”


“Terima kasih, ya.”


“Terima kasih untuk apa?” Tanya Dinan tanpa memandang Ruby, dia tengah fokus memperhatikan jalanan.


“Terima kasih karena sudah mengantarkan dan menemani aku.”


“Tidak masalah, aku senang bisa melakukannya.”


“Tapi aku merasa tidak enak, karena Mas harus menunggu lama.”


“Tidak apa-apa, santai saja.” Balas Dinan. “Sekarang kamu mau langsung pulang atau singgah ke tempat lain dulu?”


“Langsung pulang saja, Mas. Soalnya sudah sore.”


“Baiklah, aku akan antar kamu pulang.”


Setelah itu keduanya pun terdiam dengan pikiran masing-masing, tak ada percakapan lagi. Hingga akhirnya mobil sedan mewah milik Dinan tiba di depan sebuah halte bus tak jauh dari rumah Ruby.


“Sekali lagi terima kasih sudah mengantarkan aku, Mas.” Ucap Ruby.


Ruby bergegas keluar dari mobil Dinan, dan tiba-tiba lelaki itu juga turun lalu menghampirinya.


“Ruby, tunggu!”


“Iya, ada apa, Mas?”


“Besok pagi aku jemput, ya?”


“Eh, tidak usah, Mas! Aku bisa pergi ke kantor sendiri.” Tolak Ruby.


“Ayolah, By! Besok aku jemput, ya? Please!” Rengek Dinan dengan wajah memohon.


“Maaf, Mas. Aku tidak enak jika dilihat karyawan lain datang bersama Mas, takut jadi gosip dan fitnah.”

__ADS_1


“Jadi gosip juga tidak apa-apa, aku ikhlas kalau digosipkan dengan kamu.” Seloroh Dinan.


“Ish, Mas!”


Dinan tertawa girang.


“Ya sudahlah kalau begitu, sampai bertemu besok di kantor.” Ujar Dinan.


Ruby mengangguk dan tersenyum.


Tanpa keduanya sadari, Safira yang sedang berada di dalam taksi melewati mereka.


“Itu kan Kakak dan Bos Dinan? Sedang apa mereka?”


“Tunggu! Bukannya tadi kakak bilang Bos Dinan sedang tidak enak badan? Kenapa sekarang mereka bisa bersama?” Safira bertanya-tanya dengan curiga.


💘💘💘


Setelah Dinan pergi, Ruby pun berjalan menuju rumahnya. Namun begitu tiba di depan rumah, dia sedikit terkejut, karena melihat Safira sudah berdiri di teras dengan wajah masam. Mendadak perasaan Ruby tidak enak.


“Fira?”Tegur Ruby.


“Kakak kenapa bisa pulang bersama Bos Dinan? Bukannya Kakak bilang dia sedang tidak enak badan tadi? Kakak bohong, ya?” Safira langsung memberondong Ruby dengan pertanyaan bernada curiga.


Ruby sudah menduga sang adik pasti memergoki mereka. “Fira, dengarkan Kakak dulu.”


Safira melipat kedua tangannya dan meletakkannya di depan dada sembari memandang Ruby dengan tatapan sinis.


“Tadi itu Kakak tidak sengaja bertemu dia di rumah Mas Arkan, dan dia mengantarkan Kakak pulang. Itu saja, kok.” Ujar Ruby bohong, dia tak ingin membuat Safira berpikiran macam-macam.


“Kakak bohong! Kakak pasti punya hubungan dengan Bos Dinan, iya kan?” Tuduh Safira, dia tidak bisa percaya alasan Ruby begitu saja.


Ruby menggeleng, “Tidak, Dek! Kakak berani bersumpah, kami tidak ada hubungan apa-apa. Kakak mohon percayalah!”


“Aku tidak percaya!” Safira melangkah masuk begitu saja. Dia yakin bahwa Ruby dan Dinan pasti punya hubungan yang bukan sekedar rekan kerja, itu bisa terlihat dari keakraban keduanya yang tidak wajar sebagai atasan dan bawahan.

__ADS_1


Ruby hanya menghela napas berat, apa yang dia takutkan akhirnya terjadi. Dia merasa sedih karena Safira tidak mau mempercayainya.


💘💘💘


__ADS_2