Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 71.


__ADS_3

Besoknya beberapa orang polisi mendatangi kediaman Efendi, mereka bermaksud menciduk pria paruh baya itu, sebab orang suruhannya yang dibekuk kemarin sudah mengakui jika Efendi lah dalang semua ini.


“Selamat pagi.” Sapa salah seorang polisi.


“Selamat pagi.” Balas Efendi.


“Dengan Bapak Efendi Aryawan?” Tanya si polisi.


“Iya, betul. Ada apa ini?”


“Anda kami tahan karena terlibat kasus percobaan pembunuhan terhadap saudara Dinan, ini surat penangkapannya.” Ujar polisi itu sambil menyodorkan sepucuk surat.


Efendi tercengang, dia bahkan tak mau menyentuh surat itu.


“Apa-apaan ini? Saya tidak melakukan apa pun, ini pasti fitnah!” Bantah Efendi.


“Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor, sekarang silakan ikut kami.”


“Tidak! Saya tidak mau! Kalian tidak bisa menangkap saya begitu saja.” Efendi masih berusaha menolak.


“Pak, mohon kerja samanya! Jangan mempersulit kerja kami!”


“Saya tidak mau!” Tolak Efendi.


“Bawa dia!” Pinta polisi itu tegas pada anak buahnya.


“Siap!”


Dua orang polisi langsung menyergap Efendi dan memborgolnya.


Efendi memberontak, berusaha melepaskan diri. “Lepaskan aku! Kalian tidak bisa seenaknya menangkap aku!”


Para polisi itu tidak menggubris ocehan dan teriakkan Efendi, mereka membawa pria itu secara paksa.


Efendi tak pernah menduga kalau rencananya untuk melenyapkan Dinan akan gagal total, dan malah berujung dengan penangkapan dirinya. Sebab dia yakin orang suruhannya itu sudah cukup mahir dalam melenyapkan seseorang tanpa meninggalkan jejak, namun kenyataannya kali ini orang itu gagal.


Windi yang sedang menjaga Samara di rumah sakit tak tahu jika suaminya itu ditangkap polisi.


Sementara itu, Dinan yang masih tidur dikejutkan dengan telepon dari Hanan.


“Halo, ada apa lagi?” Jawab Dinan malas.


“Kau sudah lihat berita?”


“Belum, memangnya ada apa?” Tanya Dinan.


“Acara kemarin viral dan ramai disiarkan di televisi.”


“Lalu apa urusannya denganku?”

__ADS_1


“Cckk, makanya kau lihat beritanya!”


“Iya-iya, baiklah!” Dinan segera mematikan telepon dan beralih menyalakan televisi.


Sebuah breaking news sedang menampilkan siaran ulang acara kemarin tepat di saat Dinan menolak pertunangan dan mengundurkan diri sebagai CEO Unique Jewelry, lalu menarik Ruby pergi dari sana.


“Ternyata aku keren juga.” Dinan memuji dirinya sendiri sambil tersenyum bangga.


Namun yang membuat Dinan tercengang, publik bukan saja menyoroti dirinya tapi juga perhiasan yang dipamerkan kemarin. Bahkan orang-orang langsung menyerbu marketing Unique Jewelry agar bisa membeli perhiasan yang dianggap unik dan memiliki nilai seni tinggi itu.


Rupanya apa yang terjadi kemarin benar-benar membawa berkah untuk perusahaan, dalam sekejap perhiasan-perhiasan itu sudah terjual sebanyak delapan puluh persen.


“Ini luar biasa!” Seru Dinan girang, dia langsung menghubungi Ruby untuk menceritakan semuanya.


Di tempat lain, Surya yang sedang menonton acara yang sama merasa tak percaya bahwa berkat ulah putranya itu, penjualan perhiasan mereka meroket tajam. Dia mendapatkan laporan dari dewan direksi jika ada beberapa investor baru yang ingin bekerja sama dengan perusahaan mereka.


“Tadinya aku pasrah jika perusahaan ini bangkrut karena Efendi menarik sahamnya, tapi ternyata dalam sekejap Tuhan memberikan pertolongan. Dia menggantikan yang hilang dengan yang lebih baik.”


“Ini semua berkat Dinan, Mas. Ulahnya membawa berkah.” Sambung Aliya.


Surya mengangguk. “Iya, kamu benar.”


“Sebaiknya sekarang Mas berdamai dengannya, minta maaf atas semua yang sudah Mas lakukan.”


Surya terdiam membisu.


“Kenapa? Mas gengsi?” Tebak Aliya.


“Dinan itu putra Mas, kalian memiliki sifat yang sama. Sama-sama egois dan keras kepala, tapi sebenarnya baik hati. Jadi dia pasti mengerti dengan semua ini. Lagi pula sebagai orang tua, tidak ada salahnya kalau kita mengalah dan meminta maaf pada anak jika memang kita bersalah.”


Surya tertegun mendengar nasihat sang istri.


Tiba-tiba ponselnya berdering, salah seorang rekan bisnisnya menelepon dan mengabarkan penangkapan Efendi.


💘💘💘


Dinan yang baru selesai mandi, dikejutkan dengan kedatangan Hanan, Surya dan juga Aliya di apartemennya.


“Mau apa lagi Papa datang ke sini?” Sergah Dinan.


“Ada yang ingin Papa bicarakan.” Sahut Surya.


“Sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.” Balas Dinan.


“Dinan, dengarkan dulu apa yang ingin Papa sampaikan, Nak!” Pinta Aliya lembut.


Dinan menghela napas dan akhirnya duduk di hadapan keluarganya itu.


“Papa sudah tahu semuanya, Papa tidak menyangka Efendi tega melakukan hal itu padamu.” Ujar Surya membuka percakapan.

__ADS_1


“Itulah sahabat yang selalu Papa bela.” Gerutu Dinan.


“Dinan, Papa minta maaf karena sudah egois dan memaksamu menuruti keinginan Papa.”


Dinan tak membalas ucapan sang ayah, dia hanya memalingkan wajahnya dan bersikap acuh tak acuh.


“Papa melakukan semua itu karena Efendi mengancam akan menarik investasi sahamnya dari perusahaan kita, makanya Papa menuruti keinginan dia untuk menikahkan kau dengan putrinya.” Lanjut Surya.


“Papa hanya memikirkan perusahaan, tapi tidak memikirkan bagaimana perasaanku!” Balas Dinan menohok.


Surya tertunduk menyesal. “Maka dari itu Papa minta maaf.”


Dinan kembali bergeming, hatinya masih sangat kesal dengan semua yang sudah dilakukan Surya kepadanya dan juga Ruby.


“Dinan, setiap orang pasti pernah khilaf dan melakukan kesalahan, tidak ada salahnya kita memaafkan dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Apalagi kalian ini ayah dan anak, hubungan darah di antara kalian harus dijaga dengan baik.” Aliya menyela bermaksud menengahi.


“Ibuku benar, aku saja selalu memaafkanmu walaupun kita tidak punya hubungan darah. Masa kau tidak mau memaafkan Papamu sendiri, anak macam apa kau ini?” Cibir Hanan, Aliya sontak memukul pundak sang putra sambil melotot memberi peringatan.


Dinan melirik sinis Hanan yang kini terkekeh, sahabatnya itu memang paling senang jika dia tersudut.


“Baiklah, aku maafkan Papa.” Ucap Dinan.


Surya mengangkat kepala menatap putranya itu, dia tersenyum lega. “Terima kasih, Nak.”


Dinan mengangguk. “Aku juga minta maaf karena sudah berkata kasar terhadap Papa.”


“Iya, tidak apa-apa, Papa tahu kamu seperti itu juga karena Papa.”


Dinan hanya tersenyum samar.


“Kalau begitu mulai besok kau akan kembali menjadi CEO lagi.” Sambung Hanan.


“Tidak, aku sudah memutuskan untuk berhenti. Aku berniat membuka usaha sendiri bersama Ruby, aku tidak berminat memimpin perusahaan lagi.” Balas Dinan.


Semua orang terkejut mendengar keputusan Dinan itu.


“Tapi, Nak ....” Surya hendak protes, namun Aliya melarangnya dengan menyentuh tangan lelaki itu sambil menggelengkan kepala.


“Kalau kau tidak mau, lalu siapa yang akan memimpin perusahaan?” Tanya Hanan bingung.


“Tentu saja kau, bukankah kau juga anak Papa? Kau pasti bisa menjalankan perusahaan lebih baik dari aku.” Jawab Dinan seenaknya.


Hanan menggeleng cepat. “Tidak, aku tidak mau!”


“Kau harus mau! Atau kau rela perusahaan jatuh ke tangan orang yang tidak berkompeten dan akhirnya hancur?” Dinan memaksa sambil provokasi Hanan.


Hanan menghela napas pasrah, dia tak pernah menang jika sudah melawan Dinan yang keras kepala itu.


Surya dan Aliya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua putra mereka itu. Sebagai pemilik perusahaan, Surya sendiri tidak keberatan jika Hanan menggantikan Dinan, karena dari awal dia tahu Hanan lebih berkompeten daripada putra kandungnya itu. Tapi Hanan selalu menolak jabatan tinggi yang dia tawarkan, dan justru ingin menjadi sekretaris Dinan saja. Namun kali ini sepertinya Hanan tidak ada pilihan lain lagi.

__ADS_1


💘💘💘


__ADS_2