
Ruby sudah selesai makan, dia hendak menghubungi Dinan, untuk memberitahukan keberadaannya agar lelaki itu tidak mencarinya. Tapi apes, ternyata ponselnya dalam keadaan mati akibat habis baterai. Karena sibuk mengurusi Arkan, dia sampai lupa mengisi baterai ponselnya.
“Yaa, habis baterai, deh. Cckk, aku ceroboh banget, sih.” Gerutu Ruby.
Di saat bersamaan, Made Kris datang dan heran melihat wajah Ruby yang masam.
“Ada apa, Nak?” Tanya Made Kris.
“Hem, ponsel saya habis baterai, Pak. Jadinya mati.” Adu Ruby.
“Oh, ya sudah kamu bisa gunakan charger saya untuk mengisi baterai ponselmu.”
“Boleh, Pak?”
“Tentu saja boleh.” Balas Made Kris. “Kamu bisa menggunakan charger yang ada di ruang tengah itu.”
Made Kris menunjuk sebuah ruangan yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
“Iya, Pak. Sebelumnya terima kasih.”
Made Kris hanya mengangguk sambil tersenyum.
Ruby bergegas ke ruang yang ditunjuk Made Kris tadi dan segera mengisi daya baterai ponselnya.
“Semoga saja dia tidak menghubungiku sebelum ponsel ini menyala.” Ucap Ruby.
Sambil menunggu baterai ponselnya terisi, Ruby memutuskan untuk melihat-lihat koleksi lukisan Made Kris yang terpajang di dinding ruang tengah.
“Lukisannya bagus-bagus sekali.” Puji Ruby takjub.
“Kamu menyukainya?” Sela Made Kris tiba-tiba.
Ruby yang terkejut sontak berbalik memandang Made Kris yang sudah berdiri di belakangnya.
Ruby tersenyum. “Iya, saya suka sekali.”
__ADS_1
“Kalau begitu kamu boleh membawanya pulang.”
Ruby terkesiap. “Wah, tidak usah, Pak.”
“Tidak apa-apa, itu hadiah untuk kamu.”
“Terima kasih, tapi lukisannya terlalu besar, saya pasti kesulitan membawanya.”
“Iya, juga, ya.” Made Kris tertawa.
Ruby kembali melihat koleksi lukisan Made Kris dan kali ini matanya tertuju pada lukisan seorang wanita cantik berambut panjang, wanita yang sama seperti di dalam lukisan sebelumnya.
“Itu mendiang putri saya, namanya Devi. Dia seusia kamu.” Ujar Made Kris, meskipun Ruby tak bertanya.
“Dia cantik sekali, anggun lagi.”
“Iya, dia memang gadis yang cantik, baik dan juga lembut. Dia yang selalu membuat saya bersemangat dan bahagia, dia hidup saya. Tapi kecelakaan itu telah merenggutnya dari saya, dia pergi dengan membawa seluruh hidup saya. Saya seperti merasa mati meskipun masih hidup.”
Wajah Ruby berubah sendu mendengar curahan hati Made Kris.
“Hem, maaf, Pak. Kalau ibunya Devi ke mana?”
“Saat itu anda bisa bangkit, tapi kenapa sekarang tidak?”
“Karena saat itu ada Devi, dia yang membuat saya tegar dan tabah. Tapi ketika dia pergi, saya merasa kehilangan segalanya, termasuk hidup saya. Tidak ada lagi yang membuat saya kuat.”
Ruby merasa kasihan kepada Made Kris. Dia tahu, saat ini Made Kris membutuhkan motivasi dan penyemangat agar dia bisa kembali seperti dulu lagi.
Tiba-tiba Ruby mendapatkan ide cemerlang untuk membuat Made Kris bangkit kembali.
“Hem, Pak. Saya boleh minta sesuatu tidak?”
Made menautkan kedua alisnya. “Minta apa?”
“Saya ingin dilukis oleh anda.”
__ADS_1
Made Kris tertegun, wajahnya berubah keruh. “Saya tidak bisa!”
“Kenapa?”
“Sudah setahun ini saya tidak pernah melukis lagi.” Jawab Made Kris, dia tertunduk sedih.
“Tapi itu bukan berarti tidak bisa. Anda masih memiliki kemampuan itu, hanya saja anda tidak mau melakukannya lagi.”
Made Kris terdiam, hatinya masih berat untuk kembali melukis.
“Pak, bukankah Anda ingin bangkit dan bahagia?”
Made Kris hanya mengangguk.
“Sekaranglah saatnya! Anda harus mulai dan kembali menjadi anda yang dulu lagi, saya yakin anda pasti bisa!”
Made Kris mengembuskan napas berat. “Baiklah, saya akan coba.”
Ruby tersenyum.
Made Kris mulai menyiapkan kanvas, cat lukis, kuas, pensil dan semua yang dia butuh kan untuk melukis. Sedangkan Ruby duduk di hadapannya dengan senyum yang mengembang.
Mata tua Made Kris mulai mengamati sosok Ruby, lalu beralih ke kanvas. Tapi tangannya seolah kaku dan gemetar, dia memejamkan mata dan rasanya ingin menyerah. Tapi tiba-tiba suara Ruby seakan menggema di telinganya.
“Saya ingin menyadarkan anda, jika hidup masih berlanjut. Saat ini, andai putri anda tahu jika ayahnya terpuruk karena kepergiannya, dia pasti sangat kecewa. Tidakkah anda berpikir ingin membuat dia bangga karena memiliki seorang ayah yang kuat dan hebat?”
Made Kris menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Kemudian dia membuka mata dan menatap ke depan. Entah mengapa kini dia dapat melihat sosok Devi yang duduk di hadapannya, membuat pria berambut gondrong itu tersenyum lalu mulai menggoreskan pensil di kanvasnya untuk membuat sketsa wajah terlebih dahulu sebelum dia mulai melukis.
Dan di hotel saat ini, Dinan masih uring-uringan mencari keberadaan Ruby. Dia pusing tujuh keliling memikirkan ke mana janda cantik itu pergi?
“Ke mana aku harus mencarinya? Mana perutku lapar sekali.” Gerutu Dinan kesal.
“Apa aku lapor polisi saja? Tapi bagaimana kalau sebentar lagi dia kembali?”
“Cckk, kenapa aku pakai acara ketiduran segala, sih? Jadi pusing begini, kan!” Sesal Dinan.
__ADS_1
Dinan mengomel sendiri. Bingung, panik, cemas dan kesal berbaur menjadi satu. Belum lagi perutnya yang keroncongan minta diisi, membuat Dinan benar-benar dongkol minta ampun.
💘💘💘