Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 24.


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, lukisan yang dibuat Made Kris telah selesai. Ruby yang sudah lelah dan jenuh menjadi objek, langsung berdiri lalu meregangkan otot pinggangnya yang kaku karena kelamaan duduk.


“Pegal juga.” Gumam Ruby sembari memijat pinggangnya.


Made Kris tersenyum. “Ternyata saya masih bisa melukis seperti dulu.”


“Benar kan apa yang saya katakan, anda pasti bisa!” Sahut Ruby. “Saya mau lihat, dong.”


Ruby bergegas mendekati Made Kris untuk melihat lukisan dirinya. Tapi begitu melihat kanvas, Ruby tercengang karena wanita yang ada di lukisan itu sama sekali tidak mirip dengannya. Walaupun pose dan pakaiannya sama persis seperti Ruby, tapi siapa pun tahu itu bukan dia.


“Loh, kenapa bukan saya?” Tanya Ruby bingung.


Made Kris terkesiap, dia ikut memperhatikan kanvas dengan saksama.


“Astaga! Kenapa jadi Devi? Tadi saya memang seperti melihat dia dan tak disangka saya jadi melukisnya.” Ucap Made Kris. “Kalau begitu saya minta maaf, saya akan ulangi.”


“Oh, tidak usah, Pak. Tidak apa-apa, kok. Anda mau melukis saja, saya sudah senang sekali.” Tolak Ruby, dia tentu tak mau pinggangnya semakin pegal karena harus jadi model untuk kedua kalinya.


“Tapi saya jadi merasa tidak enak. Saya juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini?”


“Mungkin ini pertanda jika Devi selalu ada di dekat anda, dia akan terus mengawasi anda agar hidup dengan baik dan bahagia. Jadi mulai sekarang anda harus benar-benar bangkit dan buat dia bangga.” Imbuh Ruby.


Made Kris tiba-tiba meneteskan air mata, dia begitu terharu sekaligus sedih mendengar ucapan Ruby.


“Nak, boleh saya memelukmu?”


Ruby sempat terdiam, dia ragu untuk mengiyakan permintaan Made Kris, tapi melihat wajah tua yang sedih dan basah karena air mata itu, Ruby merasa tak tega.


Ruby pun mengangguk. “Iya, boleh, Pak.”


Made Kris langsung memeluk Ruby dan menangis tersedu-sedu.


“Terima kasih banyak, Nak. Terima kasih karena sudah menyadarkan dan menemani saya.” Ucap Made Kris lirih.


Air mata Ruby ikut jatuh menetes, dia merasa sangat terharu. “Sama-sama, Pak. Saya harap Anda selalu sehat dan bahagia.”


Made Kris melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ruby. “Sebagai tanda terima kasih, saya bersedia untuk bekerja sama dengan perusahaan tempat kamu bekerja.”


Ruby tercengang tak percaya. “Serius, Pak?”


Made Kris mengangguk dua kali.


“Syukurlah!” Seru Ruby. “Terima kasih banyak ya, Pak?”


“Sama-sama.” Balas Made Kris. “Kalau begitu datanglah kembali bersama Bos kamu, saya ingin membicarakan kerja sama ini dengannya.”

__ADS_1


Ruby seketika terdiam saat dia teringat Dinan.


“Ya ampun! Saya lupa menghubungi Bos saya, Pak! Ponsel saya juga masih mati, mana ini sudah sore lagi. Dia pasti marah.” Ruby mengoceh dengan heboh.


“Dia tidak akan marah jika kamu memberikan kabar baik ini.”


“Iya juga, sih?” Ruby membenarkan ucapan Made Kris. “Ya sudah, deh. Kalau begitu saya pulang dulu, Pak. Besok saya akan kembali lagi bersama Bos saya.”


“Iya, saya tunggu kedatangannya.”


“Sekali lagi terima kasih banyak ya, Pak.”


“Saya juga berterima kasih pada kamu.”


“Saya permisi, Pak. Selamat sore.”


“Selamat sore.”


Ruby mengambil ponsel dan tasnya, lalu buru-buru pergi dari kediaman Made Kris. Dia memesan taksi, dan di perjalanan Ruby pun menyalakan ponselnya. Seperti yang dia duga, ada banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari Dinan dan juga pesan yang menanyakan keberadaan wanita itu.


“Mampus aku! Dia pasti marah besar.” Gumam Ruby takut.


Dia pun buru-buru menghubungi Dinan, tapi kali ini nomor telepon lelaki itu yang tidak bisa dihubungi.


“Ya ampun, saking marahnya, dia sampai mematikan ponselnya.” Ruby semakin ketakutan.


💘💘💘


“Mas!” Teriak Ruby sambil berjalan cepat ke arah Dinan.


Dinan sontak berbalik dan terkejut melihat seseorang yang sedari tadi dia cari-cari kini sedang berjalan ke arahnya.


“Akhirnya dia pulang juga!” Gerutu Dinan, matanya menatap Ruby dengan tajam.


“Mas, maaf. Tadi sa ....”


“Kamu ini dari mana saja? Pergi tidak bilang-bilang, dihubungi juga tidak bisa! Dari tadi saya capek mencari dan nungguin kamu! Hampir saja saya lapor polisi!” Sela Dinan dengan nada suara yang meninggi, Ruby sampai tak jadi melanjutkan ucapannya.


Ruby tertunduk dengan wajah sedih. “Maaf, Mas. Tadi Mas tidur, jadi saya tidak bisa pamit.”


“Kamu kan bisa banguni saya.”


“Saya tidak mau mengganggu istirahatnya Mas, jadi saya pergi saja.”


Dinan menghela napas.

__ADS_1


“Terus kenapa nomor kamu tidak bisa dihubungi?”


“Ponsel saya habis baterai, Mas.”


“Dasar ceroboh! Harusnya pastikan baterai ponsel selalu terisi penuh kalau mau bepergian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kamu?!” Sungut Dinan.


“Iya, Mas. Maaf ....”


“Memangnya tadi kamu ke mana?” Tanya Dinan ingin tahu.


“Ke rumah Made Kris.”


Dinan mengernyitkan keningnya. “Ngapain kamu ke sana?”


“Mengajak dia bekerja sama dengan perusahaan kita.” Jawab Ruby polos.


“Kamu kan sudah lihat tadi, dengan angkuhnya dia menolak untuk bekerja sama dengan kita. Buat apa kamu ke sana lagi?”


“Tapi kali ini dia menyetujuinya, Mas.”


Dinan terkejut. “Apa kamu bilang? Dia menyetujuinya?”


Ruby mengangguk.


“Kok bisa? Memangnya apa yang kamu lakukan sampai dia bisa berubah pikiran begitu?”


Ruby pun menceritakan apa yang dia lakukan sehingga Made Kris akhirnya mengubah keputusannya.


“Good Job! Kamu hebat!” Dinan mengusap pucuk kepala Ruby sembari tersenyum, membuat janda cantik itu terkejut dengan aksinya namun tak berani protes.


“Baiklah, kali ini saya maafkan kamu. Tapi jangan ulangi lagi!”


“Iya, Mas.”


“Gara-gara kamu saya jadi tidak makan siang.” Dinan mengomel dengan wajah yang masam.


“Loh, jadi Mas belum makan siang?”


“Bagaimana saya bisa selera makan, kalau saya tidak tahu keberadaan kamu. Saya khawatir tahu!” Dinan mengomel dengan kesal.


Ruby tertegun mendengar ucapan Dinan.


“Segitunya dia khawatir padaku?” Batin Ruby.


“Kalau begitu sekarang temani saya makan! Saya lapar banget!” Dinan menarik tangan Ruby dan menyeret wanita itu ke restoran terdekat.

__ADS_1


Ruby merasa sedikit risi karena Dinan memegang tangannya, tapi lagi-lagi dia tak berani protes dan hanya pasrah mengikuti Bosnya itu.


💘💘💘


__ADS_2