
Ruby kembali ke kantor, dia berjalan sambil melamun memikirkan kejadian di apartemen Dinan tadi, entah mengapa kata-kata Surya masih mengganggu pikirannya dan membuat dia sedikit kecewa.
Hanan yang kebetulan melihat Ruby segera memanggil wanita itu. “Ruby, tunggu!”
Ruby sontak menoleh ke arah Hanan yang kini berjalan menghampirinya. “Mas Hanan?”
“Kamu sudah kembali?” Tanya Hanan heran. “Saya pikir kamu akan menemani Bos di apartemennya.”
“Tadinya sih begitu, Mas. Tapi ....”
Hanan menautkan kedua alisnya. “Tapi apa?”
“Tapi papanya Mas Dinan datang, dan saya di suruh kembali ke kantor oleh beliau.”
Jawab Ruby dengan wajah yang masam.
Hanan terperangah mendengar ucapan Ruby. “Apa? Jadi Papa ... hem, maksudnya Pak Surya datang ke apartemen Bos?”
Ruby mengangguk. “Iya, Mas. Bukan hanya papanya, tapi calon istrinya Mas Dinan juga.”
Hanan termangu, kalau yang itu dia sudah menduganya. Dia tahu Samara pasti akan mendatangi apartemen Dinan, namun dia tak menyangka Surya juga akan datang di saat Ruby sedang berada di sana.
“Pasti Samara yang mengadu ke Papa.” Batin Hanan.
“Mas Hanan!” Tegur Ruby karena melihat Hanan melamun.
Hanan tersentak. “Eh, iya.”
“Mas, saya boleh tanya sesuatu tidak?”
“Apa itu?”
“Hem ... apa benar Mas Dinan akan segera menikah?” Tanya Ruby ragu, sejujurnya dia merasa malu dan tidak enak pada Hanan karena menanyakan hal seperti ini, tapi entah mengapa hatinya begitu ingin mendapatkan kepastian.
__ADS_1
“Kamu seharusnya tanyakan hal ini langsung ke Bos, bukan ke saya. Karena ini masalah pribadinya dan dia yang paling tahu kebenarannya seperti apa.” Sahut Hanan.
Ruby tertunduk, dia semakin merasa tidak enak hati. “Maaf, Mas.”
“Tidak apa-apa.” Balas Hanan sambil tersenyum.
“Kalau saya boleh tahu, kenapa kamu menanyakan hal ini?”
Ruby mendadak gugup. “Oh, sa-saya cuma ingin tahu saja, Mas.”
Hanan memandang curiga. “Bukan karena cemburu?”
“Eh, ti-tidak! Mas ini bicara apa, sih? Ada-ada saja.” Sanggah Ruby yang semakin gugup.
Hanan tertawa. “Saya hanya bercanda, kenapa kamu jadi gugup begitu?”
Ruby terdiam sambil merutuki dirinya karena tidak bisa menyembunyikan kegugupannya dari Hanan.
“Ya sudah, kamu istirahat! Ini sudah waktunya makan siang.”
Hanan memandangi kepergian Ruby sambil tersenyum penuh arti, dia pun segera menghubungi Dinan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ruby langsung pergi ke kantin kantor, suasana di sana cukup ramai, suara beberapa karyawan dan karyawati yang mengobrol menggema saling bersahutan. Di tempat inilah seluruh karyawan dari berbagai divisi akan berkumpul untuk beristirahat, makan siang dan saling berbagi cerita.
Ruby celingukan mencari keberadaan Safira dan teman-temannya, rasanya sudah lama sekali dia tidak menikmati suasana kantin yang ramai dan makan bersama mereka. Karena sejak menjadi asisten pribadinya Dinan, dia praktis tak ada waktu bersama teman-temannya di kantor.
“Ruby!” Teriak Jojo, lelaki itu memanggil Ruby sambil melambaikan tangan.
Melihat keberadaan Jojo yang sedang duduk bersama Sinta, Safira dan beberapa karyawan lain, Ruby pun bergegas berjalan ke arah mereka.
“Hai, semuanya.” Sapa Ruby.
“Tumben makan di kantin? Memangnya tidak menemani Pak Bos?” Tanya Jojo.
__ADS_1
“Dia tidak masuk, lagi tidak enak badan.” Jawab Ruby yang sudah duduk di hadapan Jojo dan Sinta.
“Pak Bos sakit, Kak? Sakit apa?” Safira bertanya dengan antusias. Beberapa karyawati yang duduk di dekat Ruby juga menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“Kayaknya cuma kelelahan saja.” Sahut Ruby santai, sebab Dinan tak terlihat seperti orang sakit.
“Kelelahan habis bertempur, tuh!” Ledek Sinta sembari melirik Ruby.
Janda cantik itu sontak melotot dan menendang kaki Sinta dari bawah meja.
“Aduh!” Pekik Sinta.
“Kenapa, Sin?” Jojo menatap Sinta kebingungan.
Sinta meringis. “Tidak apa-apa.”
Safira mengernyitkan keningnya, memandang Sinta dan Ruby bergantian. “Bertempur? Maksudnya?”
Sinta tertawa. “Aku hanya bercanda.”
Safira terdiam, dia merasa ada yang aneh dengan sikap gugup Sinta itu.
Ponsel Ruby tiba-tiba berdering, dia buru-buru mengambil alat komunikasi itu dari dalam tasnya dan menghela napas saat melihat Arkan yang menelepon, Ruby pun segera mematikan panggilan itu.
Tapi sepertinya Arkan tak menyerah begitu saja, dia kembali menghubungi Ruby, tapi lagi-lagi janda cantik itu menolak panggilannya. Hal itu membuat Safira, Jojo dan Sinta merasa bingung.
“Siapa yang menelepon, Kak? Kenapa tidak dijawab?” Tanya Safira penasaran.
“Mas Arkan, Kakak malas bicara dengannya.” Jawab Ruby.
Karena teleponnya tidak dijawab oleh Ruby, Arkan pun mengirimkan pesan singkat pada mantan istrinya itu.
“AKU HANYA INGIN MENGABARKAN, PAPA MENINGGAL DUNIA.”
__ADS_1
Ruby terkejut setengah mati saat membaca pesan itu, dia tak menyangka akan mendapatkan kabar duka dari sang mantan suami.
💘💘💘