Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 8.


__ADS_3

Ruby berjalan dengan lemah menuju meja kerjanya, Jojo dan Sinta yang melihat wajah lesu teman mereka itu pun merasa cemas.


“Kamu kenapa, By? Sakit?” Tanya Jojo sedikit khawatir.


“Perutku lagi tidak enak, sejak tadi malam mules melulu.” Adu Ruby. Tapi tentu dia tak berniat untuk menceritakan kejadian memalukan di lift tadi.


“Memangnya kamu makan apa?” Sinta ikut bertanya.


“Seblak super pedas.” Jawab Ruby. “Padahal sebelumnya tidak pernah begini.”


“Mungkin lambung kamu sudah bermasalah, By. Makanya jadi sakit begitu.” Ujar Sinta.


“Iya, jadi sebaiknya kamu jangan makan yang pedas-pedas lagi.” Sambung Jojo.


Ruby mengangguk. “Iya, aku jera makan pedas.”


“Ruby!” Tiba-tiba Hanan memanggil janda cantik itu.


Ruby seketika menoleh ke arah Hanan. “Eh. Iya, Pak.”


“Bisa ikut saya sebentar?”


“Bisa, Pak.” Ruby segera mengikuti Hanan pergi.


Jojo dan Sinta saling pandang, mereka bertanya-tanya kenapa sekretaris CEO itu memanggil Ruby? Begitu pun dengan karyawan yang lainnya.


Hanan mengajak Ruby ke ruangannya, meskipun bingung, Ruby tetap menurut tanpa berniat untuk bertanya apa pun.


“Perkenalkan saya Hanan, sekretaris Chief Executive Officer. Saya mengajak kamu ke sini karena ada yang ingin saya sampaikan.”


“Apa, Pak?”


“Jangan panggil Bapak! Panggil Mas saja, umur kita hanya terpaut dua tahun, kok.”


Ruby tersenyum. “Baik, Mas.”


“Begini, asisten pribadi CEO tiba-tiba mengundurkan diri dan kami membutuhkan pengganti secepatnya. Maka dari itu kami mengangkat kamu menjadi asisten pribadi Bos yang baru.” Ujar Hanan to the point.


Ruby tercengang. “Apa? Tapi ... tapi saya tidak paham ....”

__ADS_1


“Jangan khawatir, kamu hanya perlu menyiapkan semua keperluan Bos dan mengikuti perintahnya.” Potong Hanan. “Itu saja, kok.”


Ruby terdiam, dia masih ragu dengan keputusan mendadak ini.


“Gaji kamu akan dinaikkan dua kali lipat dari gaji sebagai staf administrasi, kamu juga akan mendapatkan bonus jika bekerja dengan baik. Bagaimana?”


Lanjut Hanan.


Apa yang ditawarkan Hanan itu cukup menggiurkan buat Ruby, gaji menjadi staf administrasi saja sudah lumayan, apalagi jika dua kali lipat, ditambah lagi bonus yang akan dia dapat. Semua itu membuat keraguan Ruby seketika runtuh.


“Iya, Mas.”


Hanan tersenyum lega. “Baiklah, saya akan tunjukkan meja kerja kamu yang baru. Jadi besok kamu sudah bisa pindah.”


Hanan mengajak Ruby ke depan ruangan CEO, di mana ada sebuah meja dan kursi kerja lengkap semua perlengkapan kerjanya.


“Ini meja kamu, dan area ini akan menjadi tanggung jawab kamu. Tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruangan Bos tanpa izin darinya. Jadi kalau ada tamu, kamu harus tanya dulu, dia diizinkan masuk atau tidak. Mengerti?”


“Mengerti, Mas.”


“Ya sudah, kalau begitu kamu boleh kembali ke mejamu dan selesaikan pekerjaanmu sebelum kamu pindah!” Imbuh Hanan.


“Iya, silakan.”


Ruby pun meninggalkan Hanan dan kembali ke meja kerjanya.


Hanan mengembuskan napas lega kemudian mengirim pesan kepada Dinan.


“MISI SELESAI.”


💘💘💘


Ruby kembali ke meja kerjanya, seperti biasa, Jojo dan Sinta langsung mencecarnya dengan pertanyaan.


“Ada apa, By? Kenapa kamu dipanggil Pak Hanan?” Tanya Jojo penasaran.


“Kamu dimarahi lagi? Memangnya kamu buat salah apa?” Sinta juga ikut bertanya.


“Tidak, aku tidak dimarahi. Tadi itu aku ....”

__ADS_1


“Kalian di sini buat bekerja, bukan bergosip!” Bentak Yuka yang tiba-tiba datang dan menghampiri meja Ruby, membuat wanita cantik itu tak jadi melanjutkan kata-katanya.


Ruby, Jojo dan Sinta seketika menoleh ke arah Yuka dengan raut terkejut.


“Maaf, Bu.” Ucap ketiganya serentak.


Yuka menatap Ruby dengan sinis. “Kamu masih baru di sini, jadi jangan malas-malasan! Atau kamu bisa dipecat saat ini juga!”


“Iya, Bu. Sekali lagi saya minta maaf.” Sahut Ruby patuh.


Sedangkan Jojo dan Sinta hanya tertunduk takut bercampur kesal.


Yuka meletakkan tiga berkas di atas meja Ruby. “Pindahkan data-data ini! Dan kirim ke email saya!”


Ruby mengangguk. “Baik, Bu.”


“Harus selesai sebelum jam makan siang!” Imbuh Yuka membuat Ruby tercengang.


“Tapi, Bu, mana mungkin selesai.” Protes Ruby.


“Saya tidak mau tahu, pokoknya harus selesai!” Tukas Yuka, kemudian melenggang pergi dengan angkuh.


Ruby mengembuskan napas berat melihat kepergian Yuka, dia lantas melirik arloji di pergelangan tangannya.


“Astaga, ini sudah hampir pukul sebelas, mana mungkin selesai sebelum jam makan siang.” Gerutu Ruby.


“Nenek lampir itu memang keterlaluan! Hobi banget menyusahkan orang lain.” Bisik Sinta hati-hati.


“Sudah-sudah, nanti kita bisa dimarahi lagi.” Jojo mengingatkan.


Ketiga orang itu pun memilih untuk diam dan mengerjakan tugas mereka masing-masing. Untung saja perut Ruby sudah tidak berulah lagi, jadi dia bisa bekerja dengan tenang.


Dan di sebuah tempat, seorang wanita cantik nan seksi sedang berdiri di balkon kamarnya sambil memegang segelas wine, dia menatap menara Eiffel yang menjulang tinggi di hadapannya dengan bibir yang menyeringai.


“Aku akan segera datang untukmu, Dinan.” Ujar wanita itu, kemudian menenggak anggur merah di tangannya.


Baru saja dia menghubungi Dinan, meskipun sikap lelaki itu selalu dingin dan tak bersahabat terhadapnya, tapi dia tak pernah menyerah untuk mendapatkan hati Dinan. Baginya Dinan adalah cinta pertama dan terakhir, Dinan adalah segalanya. Dan cita-cita terbesar dalam hidupnya adalah bisa menikah dengan lelaki itu, dia tak peduli meskipun Dinan selalu menolak dan mengabaikannya.


💘💘💘

__ADS_1


__ADS_2