
Ruby mengembuskan napas lega, karena kali ini Dinan tidak memaksanya seperti tadi. Tapi tak disangka, ternyata ....
“Aku tunggu kamu selesai membereskan dapur saja.” Lanjut Dinan yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Ruby, membuat wanita itu terkejut setengah mati.
“Ya ampun, Mas!” Pekik Ruby. “Aku kaget!”
Dinan terkekeh geli melihat ekspresi terkejut Ruby. “Kamu lucu kalau kaget!”
Ruby tak menjawab, dia sedang sibuk menenangkan dirinya karena kembali berdekatan dengan Dinan.
Dinan memperhatikan wajah Ruby dari samping, terlihat titik-titik keringat di dahi wanita itu dan perlahan turun mengalir ke lehernya.
“Kamu pasti lelah, ya?” Dinan mengusap keringat di dahi Ruby dengan jemarinya.
Ruby lagi-lagi menelan ludah dan menghirup udara banyak-banyak untuk menenangkan diri, jantungnya serasa mau copot karena perlakuan Dinan itu. Sedari tadi Dinan terus saja memberi penyerangan tanpa ampun, membuat Ruby kewalahan mengendalikan perasaannya sendiri. Sekuat tenaga dia berusaha menahan diri agar tidak terbawa suasana.
“Maaf sudah menyusahkan.” Ucap Dinan lagi.
“Ti-tidak apa-apa kok, Mas.” Jawab Ruby gugup. “Ini memang sudah tugasku.”
Dinan tersenyum bahagia.
Pintu apartemen Dinan tiba-tiba diketuk dari luar.
“Cckk, siapa, sih?” Gerutu Dinan kesal karena ada yang mengganggu waktunya bersama Ruby.
“Mas makan saja, biar aku yang membukakan pintu.”
Ruby membuka pintu, dan tercenung saat melihat seorang gadis cantik dan seksi berdiri di depan apartemen Dinan.
Wanita itu memperhatikan Ruby yang masih memakai celemek dari bawah sampai atas dengan tatapan sinis.
“Siapa yang datang, By?” Tanya Dinan yang tiba-tiba muncul dari dapur, dan terkejut saat melihat tamunya. “Samara?”
“Dinan! Aku kangen banget dengan kamu!” Tanpa basa-basi, Samara langsung berlari dan memeluk Dinan.
Ruby terperangah melihat gadis itu memeluk Bosnya, dia sontak memalingkan wajah demi menghindari pemandangan tak mengenakkan itu. Entah mengapa dia merasa tidak suka melihatnya.
“Samara! Apa-apaan kau? Lepaskan!” Dinan melepaskan pelukan Samara dengan kasar.
Walau kesal, Samara tetap pura-pura bersikap manis, wanita itu kemudian berbalik memandang Ruby dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
“Sedang apa dia di sini?” Tanya Samara ketus.
“Dia ada urusan.” Jawab Dinan. “Kau sendiri mau apa ke sini?”
“Tadinya aku mau buat kejutan, aku mencarimu ke kantor, tapi kata Hanan kamu tidak masuk. Jadinya aku langsung saja ke sini.” Ujar Samara, dia bergelayut manja di lengan Dinan.
Dinan menarik lengannya dengan kasar. “Cckk, lepaskan!”
“Dinan, kamu kok begitu sih dengan calon istri sendiri?” Protes Samara dengan nada manja. “Memangnya kamu tidak kangen dengan aku? “
Ruby tercengang mendengar kata-kata Samara itu, dia baru tahu jika wanita itu lah calon istri Dinan yang dibicarakan oleh Jojo.
Dinan tertawa mengejek. “Calon istri?”
“Iya, kan sebentar lagi kita bertunangan lalu menikah, itu berarti aku ini calon istrimu.” Balas Samara sambil melirik Ruby yang terdiam canggung.
“Kau terlalu banyak berkhayal.”
“Dinan, aku serius!” Rengek Samara.
Ruby merasa serba salah, dia bingung harus tetap di sini atau pergi? Bahkan untuk beranjak dari posisinya sekarang saja dia ragu.
Melihat Ruby masih terpaku di depan pintu, Dinan pun berjalan menghampiri janda cantik itu dan menarik lengannya.
“Tapi Mas ....” Ruby ragu dan merasa tidak enak hati.
“Tidak ada tapi-tapi!” Sela Dinan sebelum Ruby sempat melanjutkan kata-katanya.
Dinan menyeret Ruby ke meja makan dan melewati Samara begitu saja, membuat wanita cantik nan seksi itu merasa kesal dan marah. Dia tak bisa menahan emosinya lagi.
“Dinan!”
“Apalagi?” Sahut Dinan malas. “Aku lapar, mau makan.”
Ruby bingung melihat sikap Dinan kepada Samara yang sama sekali tidak terlihat harmonis.
“Ya sudah, sini aku yang temani.” Samara mendekati meja makan.
“Tidak usah! Sudah ada Ruby yang menemaniku.” Tolak Dinan tanpa memandang Samara sedikit pun.
“Kamu lebih memilih ditemani dia dari pada aku?” Sungut Samara seraya menunjuk Ruby yang duduk di hadapan Dinan.
__ADS_1
“Iya.” Jawab Dinan enteng.
“Kamu bisa tidak sedikit saja menghargai aku? Aku jauh-jauh datang dari Paris, tapi kamu malah bersikap seperti ini! Aku kecewa!” Ucap Samara dengan air mata berlinang.
Dinan tak menggubris ocehan Samara, sementara Ruby semakin merasa tidak enak. Mungkin dia harus meninggalkan kedua insan ini agar tidak merasa seperti orang ketiga di antara mereka.
“Hem, maaf. Sebaiknya aku pergi dari sini.” Ruby hendak beranjak, tapi Dinan menahannya.
“Kamu tetap di sini!” Pinta Dinan.
“Mas ....” Ruby memandang Dinan dengan tatapan memohon.
“Ini perintah!” Pungkas Dinan tegas, membuat Ruby sontak terdiam sambil menelan ludah.
Samara tercengang, dia tak menyangka Dinan akan menahan Ruby agar tidak pergi.
“Kenapa kamu tidak biarkan saja dia pergi?” Protes Samara.
“Aku rasa sebaiknya kau saja yang pergi, karena aku tidak membutuhkanmu di sini.” Balas Dinan. “Kau hanya mengganggu.”
Ruby terkejut karena Dinan bersikap dan berbicara dengan begitu kasar terhadap Samara.
“Dinan! Aku ini calon istrimu!” Bentak Samara.
“Sayangnya aku tidak menganggapmu seperti itu.”
“Kamu jahat!” Samara bergegas pergi meninggalkan apartemen Dinan dengan air mata berderai.
Dia benar-benar kesal melihat sikap Dinan, pria itu sangat peduli terhadap Ruby, sementara dirinya diabaikan dan di tolak mentah-mentah. Semua ini membuatnya semakin curiga kedua orang itu memiliki hubungan spesial.
Sekarang Ruby merasa kasihan dan prihatin kepada Samara, sedangkan Dinan terlihat tidak memedulikan wanita yang mengaku sebagai calon istrinya itu.
Ruby hanya memandangi Dinan, dia masih merasa bingung dengan semua ini. Sebenarnya dia ingin sekali bertanya, tapi tidak punya keberanian.
“Kamu jangan berpikir macam-macam! Semua yang dikatakan Samara itu tidak benar!” Ujar Dinan tiba-tiba, dia seolah bisa membaca pikiran Ruby.
“Kalau benar juga tidak apa-apa, kok.” Sahut Ruby pelan.
“Aku bersumpah, By! Itu tidak benar!”
“Mas tidak perlu meyakinkan aku! Karena aku tidak peduli.” Balas Ruby ketus.
__ADS_1
Dinan terdiam menatap Ruby yang wajahnya masam, sepertinya dia menyadari sesuatu yang membuat hatinya bahagia.
💘💘💘