
Dinan membuka pintu dan terkesiap saat melihat Surya sudah berdiri di depan apartemennya, wajah tua sang Papa terlihat marah.
“Papa?”
Lelaki berwajah rupawan itu tahu maksud dan tujuan sang papa mendadak menyambangi tempat tinggalnya, ini pasti karena Samara sudah mengadu. Apalagi sedari tadi Surya terus menghubungi Dinan, tapi tak sekali pun lelaki itu menjawabnya.
Tanpa dipersilakan, Surya melangkah dengan angkuh memasuki apartemen sang putra. “Kenapa kau tidak menjawab telepon dari Papa?”
“Aku sedang sibuk.”
Di saat bersamaan Ruby muncul dari dapur sambil membawa sepiring potongan buah apel, dia sama sekali tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
Surya sontak menatap tajam janda cantik itu. “Sibuk bersama wanita ini?”
“Pa!”Tegur Dinan, tapi Surya tak menggubrisnya.
“Apa yang kau lakukan di sini?”Tanya Surya tidak suka.
“Ta-tadi saya mengantarkan berkas yang harus ditanda tangani, Pak.” Jawab Ruby gugup.
“Berkasnya sudah kau berikan?”
Ruby mengangguk. “Sudah, Pak.”
“Kalau begitu buat apa kau berlama-lama di sini? Mau makan gaji buta?”Ujar Surya ketus.
“Pa, jangan bicara begitu! Aku yang memintanya untuk tetap di sini, karena aku sedang tidak enak badan dan tidak ada yang mengurus ku.”Sanggah Dinan, dia membela Ruby.
“Dia itu hanya asisten pribadi, bukan istri atau perawat mu. Jadi tugasnya di kantor, bukan di sini!”
“Tapi aku membutuhkan dia, Pa.”
__ADS_1
“Kau bisa minta tolong pada Samara! Dia itu calon istrimu, sebentar lagi kalian akan menikah, jadi biarkan dia yang merawat mu.”
Ruby tertegun mendengar kata-kata Surya. Bukan hanya wanita bernama Samara itu saja yang mengaku sebagai calon istri Dinan, tapi papa bosnya itu juga mengatakan hal yang sama.
“Pa! Cukup!” Bentak Dinan, dia tak ingin Ruby salah paham karena mendengar ucapan sang papa.
Ruby yang terkejut melihat Dinan membentak papanya hanya bisa terdiam menatap Bosnya itu.
Surya mengabaikan bentakan Dinan itu dan beralih memandang Ruby. “Kau kembali ke kantor!”
“Iya, Pak!” Ruby mengangguk, kemudian meletakkan piring yang dia bawa dan buru-buru mengambil tasnya.
“Ruby tidak akan pergi ke mana-mana!”Bantah Dinan, membuat langkah Ruby terhenti.
“Jangan membantah!” Ujar Surya tegas, lalu kembali menatap Ruby. “Kau pergi sekarang juga!”
“Ba-baik, Pak.”
Surya melirik sinis tangan Dinan yang memegang lengan Ruby. “Siapa bilang? Kau lupa kalau Papa adalah pemilik perusahaan? Jangankan memerintah nya, memecat dia pun Papa bisa.”
Dinan terdiam sambil menelan ludah, dia merasa kalimat sang papa itu adalah sebuah ancaman.
Melihat semuanya, Ruby merasa tidak enak karena berada di antara perdebatan ayah dan anak itu. Dia pun memutuskan untuk menghindari situasi ini. “Sebaiknya saya permisi! Selamat siang.”
Ruby melepaskan tangannya dari genggaman Dinan, lalu bergegas keluar dari apartemen Bosnya itu. Dia tak menyangka begitu banyak drama yang terjadi, dan entah mengapa dia merasa kecewa mendengar ucapan Surya.
Dinan mengembuskan napas berat demi menahan geram, dia kesal minta ampun kepada Surya. Inilah alasan nya kenapa Dinan kurang cocok dengan sang Papa, itu karena mereka tak pernah sejalan dalam menilai sesuatu. Mereka selalu bertentangan dalam segala hal, kecuali sifat keras kepala yang Surya turunkan kepada anak semata wayangnya itu.
“Mau Papa itu apa, sih? Kenapa Papa selalu saja mengatur hidupku? Mengacaukan semuanya!” Sergah Dinan sesaat setelah Ruby pergi. “Aku bukan anak kecil lagi, Pa!”
“Papa ingin kau bersikap baik kepada Samara dan menikah dengannya!”
__ADS_1
“Harus berapa kali aku katakan, aku tidak mau menikah dengannya! Jadi tolong jangan terus memaksaku, Pa!”
“Papa sudah berjanji pada Efendi untuk menikahkan putrinya denganmu, Papa tidak mau Efendi sakit hati karena kau menolak perjodohan ini. Kau harus ingat, Efendi sudah banyak membantu perusahaan kita. Kalau bukan karena dia, mungkin perusahaan kita tidak akan sebesar ini.”
“Tapi bukan berarti Papa bisa menumbalkan aku dan merusak kebahagiaanku.”Bantah Dinan.
“Kau ini bicara apa? Samara itu gadis yang baik dan cantik, dia terpelajar dan dari keluarga terhormat. Kau pasti bahagia jika hidup dengannya.” Ujar Surya yakin.
“Pokoknya aku tidak mau!”
“Baiklah, kalau kau tidak mau, Papa akan memecat asisten pribadimu itu.”Ancam Surya, sebagai pemilik perusahaan, dia tentu saja berhak memecat karyawannya.
Dinan tercengang. “Papa apa-apaan, sih? Kenapa bawa-bawa Ruby segala?”
“Karena Papa tahu kau menyukai wanita itu.”Tuduh Surya.
Dinan kembali terdiam sambil menelan ludah, dia ingin mengatakan yang sejujurnya tapi takut itu akan membuat posisi Ruby semakin terancam di kantor.
“Kenapa diam? Ucapan Papa benar, kan?”
Dinan tetap bergeming.
Surya tersenyum sinis. “Sekarang keputusan ada di tanganmu. Kalau kau mau wanita itu tetap bekerja di perusahaan kita, turuti kata-kata Papa!”
Surya segera pergi meninggalkan apartemen putranya itu.
Dinan benar-benar kesal dan merasa serba salah. Dia tak ingin menikah dengan Samara, tapi dia juga tak mau Ruby dipecat dari perusahaan, karena kalau itu sampai terjadi, dia tak ada alasan lagi untuk tetap berada didekat wanita itu.
Dinan meremas kuat rambutnya, dia benar-benar frustasi dengan situasi ini. “Aku seperti makan buah simalakama.”
***
__ADS_1