Janda Kesayangan CEO Bucin

Janda Kesayangan CEO Bucin
Episode 38.


__ADS_3

Dinan melangkah gontai memasuki rumah Surya, diikuti oleh Hanan yang berjalan di belakangnya. Melihat sang putra datang, Surya beserta istrinya yang bernama Aliya bergegas menghampirinya.


“Akhirnya batang hidungmu kelihatan juga!” Sindir Surya. “Kenapa kau baru datang sekarang? Bukankah Papa menyuruhmu pulang kemarin?”


“Urusanku baru selesai, Pa.” Jawab Dinan malas sembari membanting tubuhnya di sofa.


“Urusan apa? Urusan pribadimu?” Hardik Surya.


“Mas, tenanglah. Jangan marah-marah!” Aliya mengusap lengan Surya untuk menenangkan suaminya itu.


“Pa, aku ke Bali bukan untuk urusan pribadi. Aku ke sana demi menyelamatkan perusahaan kita.” Sanggah Dinan.


Surya mengambil ponselnya dan memutar sebuah video, lalu melemparnya ke pangkuan Dinan. Bos tampan itu sontak terkejut melihat rekaman dirinya sedang menggendong Ruby masuk ke kamar hotel. Begitu pun dengan Hanan yang sama terkejutnya.


“Lalu itu apa? Itu yang kau sebut menyelamatkan perusahaan kita?” Bentak Surya. “Yang ada kau malah akan menghancurkan reputasi perusahaan kita jika orang-orang tahu kelakuanmu ini!”


“Dari mana Papa dapat rekaman ini?”


“Dari Efendi”


Dinan menautkan kedua alisnya. “Om Efendi?”


“Iya, Efendi mendapatkan rekaman itu dari Samara.” Jawab Surya.


Dinan terkesiap. “Dari mana Samara mendapatkannya?”


“Papa tidak tahu dan tidak peduli dari mana dia mendapatkannya!” Sungut Surya. “Yang pasti saat ini Papa benar-benar malu karena punya anak tidak bermoral seperti mu!”


“Papa salah paham, ini tidak seperti yang Papa pikirkan! Aku tidak melakukan apa pun.”


“Kau masih saja tidak mau mengakui, padahal buktinya sudah jelas.” Hardik Surya.


“Papa dengarkan dulu penjelasan ku!”


“Iya, Mas. Sebaiknya Mas dengarkan dulu penjelasan Dinan.” Sela Aliya.


Surya mengembuskan napas panjang. “Baiklah! Kalau begitu cepat jelaskan!”


“Pa, wanita yang aku gendong itu adalah asisten pribadiku yang sedang mabuk. Karena tujuan kami untuk menjalin kerja sama dengan salah satu desainer perhiasan di sana tercapai, aku mengajaknya merayakan keberhasilan itu. Dia tidak biasa minum makanya dia mabuk, aku terpaksa menggendongnya sampai ke kamar hotel karena dia tak bisa berjalan. Tapi demi Tuhan, kami tidak melakukan apa pun. Setelah mengantarkan dia ke kamar, aku langsung keluar.” Terang Dinan, dia berusaha meyakinkan sang Papa.

__ADS_1


Surya menatap Hanan. “Han, benar wanita di video itu asisten pribadinya?”


Hanan mengangguk. “Iya benar, Pa.”


Surya kembali mengalihkan pandangannya ke Dinan. “Benar kau tidak melakukan apa pun dengannya?”


“Aku berani bersumpah, Pa. Kalau Papa tidak percaya, Papa bisa cek hotel tempat kami menginap. Aku memesan dua kamar di sana dan aku juga bisa membuktikan surat kontrak kerja sama dengan desainer perhiasan itu.” Lanjut Dinan.


Surya kemudian menadahkan tangannya ke hadapan Dinan. “Mana surat kontraknya?”


Dinan pun memberikan surat kontrak kerja sama dengan Made Kris yang memang sudah dia siapkan sebagai bukti untuk meyakinkan sang papa.


Surya memperhatikan isi surat kontrak itu dengan saksama, kemudian kembali menghela napas.


“Apa Papa juga ingin mengecek hotel tempat aku menginap?


“Tidak usah, kali ini Papa percaya padamu.”


Dinan tersenyum lega.


“Tapi lain kali, hal seperti ini jangan terulang lagi! Bagaimana kalau sampai video ini beredar ke publik? Kita bisa malu dan nama baik keluarga serta perusahaan akan tercemar.” Lanjut Surya.


“Iya, Pa. Lain kali aku akan lebih berhati-hati.”


Dinan mengangguk.


“Sekarang kau urus masalah ini!”


“Baik, Pa. Aku akan tangani semuanya.”


“Ya sudah, Papa akan menghubungi Efendi untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, agar dia dan keluarganya tidak salah paham.” Surya berlalu pergi dari hadapan Dinan dan Hanan.


Dinan hanya menghela napas melihat kepergian sang papa.


Aliya mendekati Dinan dan Hanan, lalu memandang mereka bergantian. “Kalian berdua pasti belum makan?”


Kedua lelaki itu menggeleng bersamaan.


“Kalau begitu, ayo makan!”

__ADS_1


“Iya, Ma.” Sahut Dinan dan Hanan serentak.


“Ya sudah, Mama tinggal ke belakang dulu.”


Aliya beranjak meninggalkan mereka berdua.


“Kenapa dari tadi kau diam saja?” Protes Dinan.


“Jadi aku harus apa?”


“Paling tidak kau juga bantu meyakinkan Papa.”


“Kan tadi aku sudah membenarkan kalau Ruby memang asisten pribadimu.”


“Hanya itu? Menyebalkan!”


Hanan tertawa.


“Eh, tapi kira-kira Samara mendapatkan video itu dari mana, ya?”


“Mana aku tahu.” Sahut Hanan tak acuh.


“Makanya kau cari tahu!” Titah Dinan dengan mata melotot.


“Nanti akan aku cari tahu, Bos. Sekarang aku mau makan dulu.” Pungkas Hanan dengan nada mengejek, lalu melangkah ke ruang makan.


Dinan mencibir sembari membuntuti lelaki itu.


Begitulah interaksi keduanya jika berada di luar jam kerja, benar-benar tidak mencerminkan sikap antara atasan dan bawahan, sangat berbeda dengan saat mereka di kantor dan terutama hadapan karyawan.


Tak banyak yang tahu jika sebenarnya Dinan dan Hanan itu saudara meskipun tak ada hubungan darah sama sekali. Surya menikahi ibunda Hanan dua tahun yang lalu.


Sebelumnya, Dinan dan Hanan sudah bersahabat sejak SMA. Setelah lulus kuliah Hanan melamar kerja di Unique Jewelry, karena Hanan sahabat Dinan, Surya pun memberikannya jabatan sebagai asisten pribadinya.


Suatu hari Aliya mengantarkan berkas milik Hanan yang tertinggal ke Unique Jewelry, dan di situlah awal mulanya dia bertemu dengan Surya. Siapa sangka dari pertemuan itu, Surya jadi jatuh hati kepadanya dan pada akhirnya nekat melamar dan menikahi janda beranak satu itu.


Dinan dan Hanan tak keberatan akan hal itu, tapi ada satu permintaan Hanan yang dengan terpaksa harus dituruti oleh Surya. Dia ingin Surya tetap menganggapnya karyawan biasa di kantor, bukan sebagai anak. Dia tak ingin orang-orang tahu jika sekarang dia sudah menjadi anak tiri dari pemilik perusahaan, sebab dia takut orang lain berprasangka buruk terhadapnya dan juga sang ibu.


Begitu juga ketika Dinan menggantikan Surya menjadi CEO, Hanan tetap tak ingin mengubah keputusannya. Surya sempat menawarkannya jabatan tinggi, dia juga tidak mau. Hingga Dinan memaksanya untuk menjadi sekretaris CEO, mau tak mau dia pun setuju.

__ADS_1


Namun jika di luar kantor, mereka tetap seperti sahabat pada umumnya.


💘💘💘


__ADS_2