
Ruby dan Dinan tiba di sebuah hotel mewah di daerah Nusa Dua Bali. Hotel itu memiliki pemandangan laut yang indah dan merupakan salah satu hotel terdekat dengan kediaman Made Kris.
Dinan memesan sebuah kamar kepada seorang resepsionis hotel, Ruby yang mengetahuinya sontak melayangkan protes.
“Hem, maaf, Mas. Kenapa pesan kamarnya cuma satu? Kan kita berdua.”
Dinan mendekati Ruby yang berdiri di sampingnya lalu berbisik. “Memesan dua kamar itu namanya pemborosan, belum lagi biaya kita makan dan transportasi. Karena saat ini perusahaan sedang dalam masa sulit, jadi saya harus berhemat.”
Ruby terkesiap, dia sungguh tak bisa terima begitu saja. “Tapi kita tidak mungkin tidur dalam satu kamar, Mas.”
“Jadi mau bagaimana lagi? Saya harus memperkecil pengeluaran perusahaan.”
“Kan dia bisa pakai uang pribadinya dulu.” Gerutu Ruby dalam hati.
“Ya sudah, saya pesan satu kamar lagi dan saya akan bayar sendiri.” Ujar Ruby.
Dinan hanya tersenyum. “Silakan jika kamu tidak keberatan.”
“Mbak, saya pesan satu kamar lagi.” Pinta Ruby.
“Sebentar, ya, Bu.”
Tapi Ruby merasa penasaran dengan tarif kamar di hotel ini, mengapa Bosnya itu pelit sekali dan tidak mau memesan dua kamar?
“Hem, maaf, Mbak. Kira-kira berapa biaya kamarnya satu malam?” Bisik Ruby pelan. Namun Dinan yang berdiri di sampingnya masih bisa mendengar dengan jelas, tapi dia pura-pura tidak tahu.
“Satu malam dikenakan biaya tiga juta rupiah, Bu.”
Ruby tercengang sembari menelan ludah, dia tak menyangka harga kamar di hotel ini begitu mahal.
“Tiga juta dikali dua malam, berarti enam juta. Aku mana ada uang sebanyak itu.” Batin Ruby, dia mencoba hitung-hitungan di dalam hati.
“Ini keycard nya, Bu.” Resepsionis itu menyerahkan sebuah kartu yang berfungsi sebagai kunci kamar.
__ADS_1
“Hem, maaf. Saya tidak jadi pesan kamarnya, Mbak.”
“Loh, kenapa, Bu?”
“Hem, anu ... saya ....” Ruby gugup karena bingung harus memberi alasan apa.
“Dia hanya bercanda tadi, maaf, ya.” Sela Dinan. “Kamarnya satu saja.”
“Iya, tidak apa-apa, Pak.” Sahut resepsionis itu yang bingung melihat tingkah Ruby.
“Ya sudah, yuk!” Ajak Dinan.
“I-iya, Mas.” Ruby bergegas membuntuti Dinan.
Dinan dan Ruby berjalan beriringan menuju kamar yang telah mereka sewa, akhirnya Ruby pasrah jika harus tidur sekamar dengan Bosnya itu.
“Kenapa kamu tidak jadi memesan kamar lagi?” Cecar Dinan, meskipun dia sudah tahu jawabannya.
“Saya tidak mau menginap di sembarang tempat. Ini hotel terbaik di sini, sekaligus menjadi yang terdekat dengan kediaman Made Kris.”
Ruby menautkan alisnya. “Made Kris? Siapa itu, Mas?”
“Dia pelukis dan desainer perhiasan asal Bali yang terkenal di Eropa, tapi sejak putrinya meninggal dunia setahun yang lalu, dia memutuskan kembali ke sini dan berhenti berkarya. Makanya saya ingin menemui dia langsung dan mengajak kerja sama.”
“Oh, tapi bukankah Mas bilang dia sudah tidak berkarya lagi sejak putrinya meninggal, apa dia masih mau bekerja sama dengan perusahaan kita?”
“Saya akan coba membujuknya.” Jawab Dinan.
“Kenapa Mas tidak mencari desainer perhiasan yang lain saja?”
“Karena saya tertarik dengan dia, saya yakin hasil karyanya akan luar biasa dan bisa menaikkan penjualan perusahaan kita lagi.” Ucap Dinan yakin.
Mereka tiba di depan sebuah pintu kamar bercat putih, Dinan segera membuka pintu itu menggunakan keycard miliknya.
__ADS_1
“Ayo, masuk!” Pinta Dinan yang berjalan memasuki kamar itu sambil menarik kopernya.
Ruby terpaku di tempatnya, dia masih ragu untuk masuk. Seumur hidupnya, hanya Arkan yang pernah berada satu kamar dengannya saat mereka masih menjadi suami istri, jadi saat ini Ruby merasa canggung jika harus berada sekamar dengan pria lain.
Dinan yang melihat Ruby masih mematung di luar, sontak bersuara. “Mau sampai kapan kamu di situ? Masuklah! Saya tidak akan macam-macam.”
Ruby menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan nya. Dengan sedikit ragu dia mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu.
“Letakkan koper kamu di sana!” Dinan menunjuk sudut ruangan. “Lalu beristirahatlah sebentar, karena setelah ini, kita akan langsung ke rumah Made Kris.”
“Iya, Mas.” Ruby menuruti perintah Dinan.
“Oh iya, Ruby. Saya boleh tanya sesuatu tidak?”
“Tanya apa, Mas?”
“Sudah berapa lama kamu bercerai dari suamimu?”
Ruby sempat terdiam karena Dinan menanyakan hal yang sangat pribadi, tapi akhirnya dia tetap menjawab. “Putusan cerainya baru dua minggu, tapi kami sudah pisah rumah dari beberapa bulan yang lalu.”
“Ternyata baru, ya?” Sahut Dinan. “Kalau boleh tahu, kalian berpisah karena apa?”
Ruby terkesiap, dia merasa tidak nyaman karena Dinan menanyakan hal itu.
“Maaf, saya tidak bisa mengatakannya. Saya tidak ingin membongkar aib rumah tangga saya kepada orang lain.”
Dinan sempat tercenung mendengar kata -orang lain- yang Ruby ucapkan. Iya, dia memang orang lain, bukan siapa-siapa Ruby.
Dinan kemudian bangkit dan menatap Ruby. “Maaf, ya. Saya hanya ingin tahu saja.”
Ruby hanya mengangguk. “Iya, tidak apa-apa.”
💘💘💘
__ADS_1