
Dinan tak ingin memperpanjang pembahasan tentang Samara dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan. “Aku makan, ya?”
“Hem.” Ruby hanya berdeham.
Dinan mengulum senyum dan mulai makan dengan hati yang berbunga-bunga.
“Wah, masakan kamu lebih lezat dari yang aku bayangkan. Kalau begini, chef paling terkenal di Indonesia kalah deh pokoknya.” Puji Dinan takjub sembari berkelakar untuk mencairkan suasana yang sempat tegang.
“Mas berlebihan.”
Ruby tersipu, wajah masamnya dihiasi senyum malu-malu.
“Benar, By! Masakan kamu enak banget, aku suka. Andai aku bisa makan masakan kamu setiap hari, pasti aku gemuk.”
Puji Dinan sambil melirik Ruby untuk melihat reaksi wanita itu.
“Beruntung banget lelaki yang bisa menjadi suami kamu, sudah cantik, baik, jago masak lagi. Pokoknya benar-benar paket komplit, deh.” Lanjut Dinan dengan maksud memuji.
Tanpa sadar Ruby pun tersenyum samar dengan wajah memerah, sepertinya pujian dari Dinan berhasil membuat perasaannya senang. “Gombalnya kebangetan!”
“Hei, aku serius! Aku berharap bisa menjadi lelaki beruntung itu.” Ujar Dinan tanpa basa-basi, dia menatap lekat wajah cantik Ruby yang semakin merah padam.
Ruby tertegun memandang Dinan, rasanya dia sudah hampir mati karena detak jantungnya semakin tak karuan.
“Menatapku lebih dari dua detik, bisa menyebabkan insomnia dan kasmaran.” Ledek Dinan.
Ruby tersentak dan segera memalingkan wajahnya, dia semakin canggung dan malu.
Tapi sepertinya Dinan belum puas menggoda wanita itu, dia kembali melancarkan aksinya.
“Kamu kenapa?”
Ruby menggeleng. “Tidak apa-apa, Mas.”
“Kok wajahnya merah begitu? Apa jangan-jangan sekarang kamu mulai jatuh cinta padaku?” Tebak Dinan.
“Mas ini bicara apa, sih?” Ruby salah tingkah, dia sendiri bingung dengan perasaannya saat ini. Setiap yang dia rasakan tak bisa dia definisikan, dia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan hatinya, sesuatu yang masih begitu sulit dia cerna.
“Aku hanya bercanda!” Pungkas Dinan, dan melanjutkan makan sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Ruby terdiam, sebisa mungkin dia mencoba mengendalikan diri agar kegugupannya tidak kentara, tapi Dinan sendiri sudah menyadarinya.
💘💘💘
Setelah Dinan selesai makan, Ruby mencuci piring kotor lalu mengupas kan buah apel untuknya. Sedangkan Bos rupawan itu sedang mengotak-atik ponselnya yang sedari tadi berdering karena ada panggilan masuk, tapi dia selalu menolaknya.
Ruby masih memikirkan ucapan Dinan tadi, yang entah mengapa terus mengusiknya.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan hatiku ini? Kenapa setiap sikap dan ucapannya selalu membuat jantungku berdebar? Apa jangan-jangan aku juga mulai jatuh cinta padanya? Tapi tidak mungkin! Ini terlalu cepat. Lagi pula aku tidak boleh memiliki perasaan itu, aku tidak boleh mencintainya.” Batin Ruby galau.
Hati dan pikirannya mulai berperang, dia mati-matian menepis perasaan aneh yang mulai mengganggu hatinya. Dia tak mau terlena dan terbawa perasaan, dia juga tidak ingin membuat Safira terluka nantinya. Ditambah lagi kehadiran Samara yang masih menjadi pertanyaan besar dalam benaknya. Meskipun Dinan membantah ucapan wanita itu, tapi dia tahu pasti ada sesuatu di antara mereka.
Karena tidak fokus saat memotong buah apel, tanpa sengaja pisau yang tajam itu mengiris jari telunjuknya.
Ruby spontan memekik kesakitan. “Aduh!”
Dinan sontak mengalihkan pandangannya ke Ruby. “Ada apa?”
“Tangan aku teriris pisau, Mas.” Jawab Ruby sembari memegangi jarinya yang berdarah.
“Astaga!” Dinan langsung menghampiri Ruby dan meraih tangannya, tanpa ragu pria rupawan itu memasukkan jari Ruby yang berdarah ke dalam mulut.
Ruby tercengang melihat aksi Dinan, dia tak menyangka lelaki itu akan melakukannya.
Tak berapa lama Dinan kembali membawa kotak P3K, dengan telaten dia mengobati luka Ruby dan menutupnya dengan pilaster obat.
“Sudah.”
Ruby menarik tangannya. “Terima kasih, Mas.”
“Lain kali kamu harus lebih hati-hati!”
Ruby mengangguk patuh.
“Sekarang kamu istirahat saja! Tidak usah melakukan apa pun lagi!” Titah Dinan.
“Tapi aku harus ....”
“Jangan membantah! Kamu ini sedang terluka.” Sela Dinan.
__ADS_1
“Mas, ini hanya luka kecil! Aku tidak akan mati.”
“Bagaimana kalau lukanya infeksi? Kan berbahaya!”
“Tidak akan, Mas! Tenang saja!”
“Aku khawatir! Aku takut kamu kenapa-kenapa.” Ujar Dinan dengan wajah cemas.
“Mas terlalu berlebihan!”
“Itu buktinya kalau aku menyayangimu.”
Ruby kembali terdiam mendengar ucapan Dinan itu, sekali lagi hatinya merasa tersanjung.
Namun pintu apartemen Dinan kembali di ketuk dari luar, dan kali ini lebih keras, sepertinya si tamu tidak sabar ingin segera dibukakan pintu. Membuat perhatian kedua orang itu beralih ke pintu.
“Mas, ada tamu.”
Tapi Dinan tak beranjak, dia tak berniat untuk membukanya.
Melihat Dinan diam saja, Ruby pun berinisiatif untuk membuka pintu tapi Dinan menahannya.
“Kamu mau ngapain?” Tanya Dinan.
“Mau buka pintu, Mas.”
“Sudah tidak usah!”
Ruby mengernyitkan keningnya. “Loh, kenapa?”
“Paling juga tamu tidak penting lagi.”
“Siapa tahu kali ini penting, Mas. Apa tidak sebaiknya dibuka saja?”
Dinan mengembuskan napas kasar. “Ya sudah, biar aku yang buka.”
Dinan berjalan menuju pintu sambil menggerutu. “Cckk, siapa lagi, sih? Ada saja gangguan!”
Dinan membuka pintu dan terkejut saat melihat Surya sudah berdiri di depan apartemennya, wajah tua sang Papa terlihat marah.
__ADS_1
“Papa?”
💘💘💘