
Dinan mengemudikan mobilnya menuju pinggiran kota dan berhenti di dekat sebuah jembatan, Ruby bingung melihat tingkah bosnya itu.
“Mas mau ngapain?” Tanya Ruby.
“Lebih baik aku mati, daripada cintaku bertepuk sebelah tangan.” Jawab Dinan lalu bergegas keluar dari mobilnya.
“Mas ini bicara apa? Jangan macam-macam!” Ruby yang mulai cemas pun ikut menyusul Dinan.
Begitu pun dengan Samara yang juga kebingungan. “Mau apa Dinan?”
Dinan melangkah cepat ke arah jembatan dan segera naik di atas besi pembatasnya.
Ruby sontak panik dan menjerit heboh. “Apa yang Mas lakukan? Turun, Mas! Nanti Mas bisa jatuh!”
Samara yang melihat hal itu pun ikutan panik, dia bergegas turun dari mobilnya, tapi tidak berani mendekat. Beberapa orang yang kebetulan lewat sampai berhenti karena ulah Dinan itu.
“Biar saja aku jatuh terus mati, buat apa hidup kalau orang yang aku cintai tidak mencintai ku dan malah ingin menjauhiku.” Sahut Dinan dramatis sembari melirik aliran sungai yang deras di bawah sana, dia menelan ludah sebab merasa ngeri.
“Mas, jangan bodoh! Sekarang juga aku mohon Mas turun!” Pinta Ruby ketakutan.
“Aku tidak mau! Aku mau mati saja!” Dinan memanjat besi pembatas jembatan yang lebih tinggi lagi.
Ruby dan Samara semakin panik, bahkan janda cantik itu sampai nekat menarik kaki Dinan, menyebabkan kaki Bos tampan itu tergelincir dan jatuh. Semua orang termasuk Ruby berteriak histeris, untung saja Dinan tidak jatuh ke sungai melainkan terduduk di aspal.
Orang-orang yang tadi sempat berkerumun, perlahan-lahan mulai pergi sambil mengomel karena kelakuan Dinan sudah bikin heboh.
“Aduh.” Dinan meringis memegangi bokongnya.
Ruby langsung menghampiri Dinan dan memarahinya. “Mas ini sudah gila, ya? Kenapa melakukan hal berbahaya seperti tadi? Kalau Mas jatuh bagaimana?”
“Paling juga mati.” Jawab Dinan enteng.
“Gampang banget Mas bilang begitu, Mas tidak pikirkan perasaan orang-orang yang sayang pada Mas?” Sungut Ruby, dia bahkan sampai menangis saking kesal dan takutnya.
“Hei, kenapa kamu menangis?”
“Aku takut Mas jatuh dan ....”
__ADS_1
“Dan mati?”
Ruby mengangguk dengan berlinang air mata.
“Kenapa kamu takut?”
Ruby tercenung.
Dinan bangkit lalu pura-pura mengancam Ruby. “Ya sudah, aku naik lagi, nih!”
“Eh, jangan Mas!” Ruby menarik lengan Dinan.
“Habis kamu tidak mau jawab pertanyaan aku.” Dinan merajuk.
“Hem, ka-karena aku ....” Ruby mendadak gugup dan canggung.
“Karena kamu mencintaiku dan kamu takut kehilangan aku, iya kan?” Sambung Dinan penuh percaya diri.
Ruby menunduk menyembunyikan wajah merahnya, dia tak bisa menjawab pertanyaan Dinan, bahkan menatap lelaki itu saja dia tidak sanggup.
Ruby tetap tak menjawab ataupun membantah Dinan, bos tampan itu pun tersenyum senang karena dia sudah mendapatkan jawabannya meski Ruby tak mengatakan apa pun.
“Ya Tuhan, mau mendengar pengakuanmu saja susahnya minta ampun. Sampai aku harus pura-pura mau bunuh diri segala, untung tidak jatuh sungguhan.” Dinan mengoceh sendiri.
Ruby sontak mengangkat kepalanya dan menatap tajam Dinan. “Jadi tadi itu Mas hanya pura-pura?”
Dinan mengangguk dengan wajah tanpa dosa.
“Tidak lucu, Mas! Kamu sudah buat aku dan semua orang panik, cuma karena hal sepele. Benar-benar keterlaluan!”
Ruby hendak pergi, tapi dengan cepat Dinan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. “Bagimu mungkin sepele, tapi bagiku itu hal yang sangat penting. Aku minta maaf sudah membuatmu takut.”
Ruby tak menjawab, sebab dia tengah menahan gejolak di dalam dadanya. Jantungnya berdebar, dan wajahnya sudah bisa ditebak, kini merah padam. Tak pelak, mereka pun menjadi perhatian beberapa pengendara yang berlalu lalang.
Dari kejauhan, Samara melihat semua itu dengan perasaan geram, tapi mendadak dia mendapatkan ide licik.
Samara merekam Dinan dan Ruby yang sedang berpelukan dengan ponselnya.
__ADS_1
“Kau akan mendapatkan kejutan yang luar biasa, dasar perempuan ******!” Umpat Samara, dia pun bergegas pergi sebelum Dinan atau Ruby menyadari keberadaannya.
Dinan melepaskan pelukannya dan menatap dalam-dalam wajah cantik Ruby. “Sekarang apa kamu sudah bisa menerima cintaku?”
Ruby terdiam sejenak, namun akhirnya dia mengangguk, membuat Dinan tersenyum bahagia.
“Akhirnya, Tuhan!” Seru Dinan girang, dan Ruby hanya tersenyum malu-malu.
“Ya sudah, kita pergi dari sini.” Dinan merangkul pundak Ruby dan menggiringnya ke mobil, wanita itu hanya menurut tanpa berkata apa pun.
Di dalam mobil, Dinan tak henti-hentinya tersenyum sambil bersenandung kecil, dia tak bisa menutupi rasa bahagianya.
“Kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu, tadi kan aku sudah merusak acara ngopi kamu.” Tanya Dinan sambil mengemudi.
“Aku mau pulang saja, Mas.”
“Ya sudah, aku antar kamu sampai rumah.”
“Eh, tidak usah, Mas. Antar sampai halte di dekat rumah aku saja, tidak usah sampai rumah.”
“Kamu pasti takut kalau adikmu melihat kita, kan?”
Ruby mengangguk.
“Justru itu bagus, dong. Biar dia tahu yang sebenarnya.”
“Tidak sesimpel itu, Mas. Beberapa hari ini dia tidak mau bicara padaku, dia marah karena aku pergi dengan Mas saat melayat papanya Mas Arkan, jadi aku tidak ingin membuat dia semakin marah.”
Dinan menggenggam tangan Ruby. “By, jangan selalu memikirkan perasaan orang lain, sesekali pikirkan juga perasaanmu. Cepat atau lambat, dia juga akan tahu semuanya.”
“Iya, tapi aku akan coba bicara dengannya pelan-pelan. Aku tak ingin melukainya lebih dalam lagi, jadi tolong mengerti, Mas!”
Dinan menghela napas. “Baiklah.”
Dinan tak ingin memaksakan apa pun, karena mendapatkan pengakuan cinta Ruby saja sudah cukup membuatnya bahagia hari ini.
💘💘💘
__ADS_1