
Setelah dari toilet Nana tersenyum sendiri melihat tingkah dari seorang laki laki yang sudah mengisi hatinya beberapa tahun terakhir dan sesampainya di kelas Nana mendapati guru sudah masuk kelas.
Tok...Tok.
"Maaf Bu saya terlambat." ucap Nana kepada guru itu.
"Yaudah cepat masuk." ucap guru itu mempersilakan Nana untuk masuk lalu Nana duduk di kursinya.
"Tumben lama banget." ucap Citra heran karena tak biasanya Nana ke toilet lama.
"Biasa kebanyakan makan cabe rawit." ucap Nana cengengesan menanggapi pertanyaan Citra.
"Owhhh." ujar Citra lalu mereka kembali memperhatikan pelajaran sebelum di tegur guru.
Sepulang sekolah Nana mengendarai mobilnya pelan menuju rumah namun saat di pertengahan jalan ada beberapa motor menghalangi jalan mobil Nana
tampak orang yang berada di motor itu turun lalu mengetuk kaca mobil Nana yang membuat Nana tubuh Nana gemetaran.
"Tok tok tok." suara ketukan kembali terdengar kembali yang membuat Nana semakin ketakutan apalagi tidak ada satupun kendaraan yang lewat tiba tiba suara telepon Nana berbunyi.
"Halo." ujar Nana dengan suara gemetar setelah menjawab telepon yang tidak di ketahui Nana karena tidak sempat melihatnya.
"Jangan keluar dari mobil tunggu gw sampai disana." peringatan dari seseorang yang dari telepon dengan khawatir.
"Hmmmm cepetan." ujar Nana dengan suara serak seperti akan mau menangis lalu orang itu mematikan teleponnya.
Tak berselang lama terdengar suara bising motor dari arah belakang yang sepertinya orang yang menelepon Nana tadi sudah sampai bersama rombongannya.
Setelah orang itu datang bersama rombongannya mereka langsung baju hantam dengan orang orang yang menghalangi mobil Nana tadi tak berselang lama musuh terlihat semakin terpojok karena jumlahnya yang tidak seimbang dengan pihak lawan.
Seakan merasakan kekalahan mereka lalu pergi dari tempat itu dan Nana sudah menangis tersedu-sedu di dalam mobilnya yang sudah ketakutan dari tadi.
Setelah semua orang pergi lalu laki laki itu mengisyaratkan sudah aman dan menyuruh Nana untuk membukakan pintu mobil dan Nana membukanya.
"Udah ngak papa mereka udah pergi kok." ucap pria itu ke Nana dan membawanya ke dalam dekapannya dan Nana Hannya menurut saja sambil mengelus elus kepala Nana untuk berhenti menangis pria itu merasakan tubuh Nana yang bergetar.
Sekitar lima belas menit kemudian Nana berhenti menangis dan perlahan melepaskan dekapan pria itu.
"Kok bisa tau aku disini." ucap Nana dengan sesenggukan karena habis menangis.
"Karena tadi aku ngikutin Kamu dari jauh dan ternyata kamu di hadang sama mereka makanya aku telepon dulu supaya kamu ngk keluar mobil sebelum aku datang sambil bawa pasukan lainnya." jawab pria itu menjelaskan dan Nana Hannya menganggukkan kepalanya saja.
__ADS_1
"Pulang yuk aku antar nanti mama khawatir." ajak pria itu kepada Nana.
"Terus mobilnya ditinggal." kata Nana.
"Ya pakai mobil kamu lah."
"Terus motornya siapa yang bawa." tanya Nana lagi karena biasanya laki laki itu kemana kemana pakai motor dma sangat jarang pakai mobil.
"Tuh ada teman aku yang bawa." jawab sang pria lalu mengisyaratkan Nana untuk melihat ke belakang ada seorang pria yang tengah duduk di atas sebuah motor gede.
"Aku aja yang bawa." kata pria itu lagi.
"Ok deh Tapi aku mbak mau turun." ujar Nana karena masih merasakan ketakutan dari peristiwa tadi.
"Ngak papa kan mereka udah pergi." ujar pria itu lalu mereka bertukar posisi dengan pria itu di kursi setir dan Nana disampingnya.
"Ngak papa kan." ujar pria itu setelah mereka bertukar posisi.
Setelah itu mereka langsung menuju rumah Nana dan diikuti oleh teman sang pria di belakang.
Sesampainya di rumah Nana pria itu mengantarkan Nana sampai di garasi mobilnya.
"Ngak mau mampir dulu." tawar Nana ke pria itu setela turun dari mobil.
"Besok aku jemput." kata pria itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Nana yang terbengong di depan teras rumahnya.
"Aish main pergi aja." kata Nana sendiri lalu masuk ke dalam rumahnya.
Setelah keluar dari gerbang rumah Nana pria itu sudah di tunggu oleh temannya yang menuruti mereka tadi dari belakang.
"Sudah tau siapa dalangnya." tanya pria itu kepada temannya.
"Sudah bos masih orang yang sama." kata laki laki
itu yang ternyata adalah bawahan dari pria tadi.
"Langsung ke markas." kata laki laki itu memerintahkan bawahannya itu dan mereka lalu meninggalkan perkaranya rumah Nana.
Sesampainya di dalam rumah Nana mendapatkan kedua orangtuanya tengah duduk di ruang keluarga dan Nana berusaha tenang supaya kedua orang tuanya tidak tahu apa yang tengah dialaminya barusan dan langsung menyalami keduanya.
"Tumben papa pulang cepat dari biasanya." kata Nana kepada papanya.
__ADS_1
"Papa lagi kurang sehat sayang." ujar papa Antonio kepada anak perempuan satu satunya itu.
"Owhhh yaudah Nana ke atas dulu ya." ucap Nana namun langkahnya di berhentikan sang mama.
"Kok mama seperti dengar suara laki laki ya di depan tadi." kata Mama Renata yang sepertinya mendengar ucapan Nana dengan pria tadi di luar.
"Ya Mama pasti Taulah siapa itu." ujar Nana karena mamanya yang pura pura tidak tahu saja.
"Maka dari itu mama nanya kenapa ngak dibawa masuk dianya."
"Katanya masih ada urusan ma." jawab Nana.
"Owhh." ujar sang mama dan Nana kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar tercintanya.
Seperti yang dikatakan pria tadi mereka menuju ke markas dan sekarang tibalah mereka di tempat itu terlihat raut wajah pria itu sangat berbeda dengan saat ia bersama Nana tadi sekarang wajahnya terlihat seperti menahan amarah yang besar.
"Kalian sudah tangkap pria itu." katanya kepada seluruh anak buahnya yang berada disana.
"Sudah bos." jawab mereka semua serentak dan juga tegas.
"Sekarang Kalian disini saja biar saya saja yang menghadapi b******n itu." kata pria itu lalu menuju ke suatu ruangan.
Pria itu membuka pintu ruangan itu dengan kasar yang membuat orang di dalamnya sedikit terkejut karena begitu kerasnya pintu itu dibuka.
"B******n Lo."ucap pria itu setelah beberapa kali menendang musuh yang tengah terikat dengan rantai di sebuah kursi.
"Lo yang B******n." Lawan laki laki yang tengah dirantai itu.
"Kalau Lo emang ada masalah sama gw Lo ngak usah bawa bawa orang lain." kata pria itu sambil mencengkram erat pipi laki laki yang tengah dirantai.
"Semua ini gara gara bokap Lo yang B***** itu." kata laki laki itu lagi.
"Kalaupun ini masalah tentang bokap gw kenapa yang Lo Lo intai cewek gw."
"Gw udah tau maksud dan tujuan lo."
Setelah memberi beberapa pelajaran lalu pria itu keluar dari ruangan itu.
"Kurung dia lima hari kedepannya dan jangan beri makan sedikitpun kecuali minum." kata pria itu kepada salah seorang anak buah kepercayaannya dan di iyakan lalu pria itu berlalu meninggalkan markas itu dan entah pergi kemana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG