
Sesampainya di sebuah tempat di mana banyak sekali orang orang jahat berada dan di beri pertanggung jawaban di tahan atas apa yang mereka lakukan. Di sinilah Nana sekarang di kantor polisi.
Kemaren Nana mendapatkan surat panggilan dari kantor polisi bahwa ada salah satu dari tahanan di sana yang ingin menemuinya.
Awalnya Nana sedikit ragu untuk datang namun apabila ia terus menghindar ia tak ingin di cap sebagai wanita yang lemah.
Tadi malam Nana sudah memikirkan matang matang bahwa ia akan menuruti surat panggilan dari polisi dan bersiap menemui orang yang akan di temuinya.
Di depan kantor Nana sudah di tunggu oleh salah satu polisi yang berada di sana dan mengarahkannya ke salah satu ruangan tempat orang orang yang ingin menemui tahanan.
"Dengan Mbak Nazma." tanya polisi itu saat Nana sampai di depannya.
"Iya." jawab Nana.
"Mari ikuti saya." ucap polisi itu dan di ikuti Nana menuju salah satu ruangan tempat mengunjungi para tahanan.
Nana lalu di persilahkan duduk di bangku yang telah di sediakan.
"Kuatkan hamba ya tuhan." ucap Nana dalam hati walaupun ia masih samar samar mengingat kejadian yang pernah di alaminya walaupun sekarang mentalnya tidak selemah waktu itu.
Tak lama tampaklah seorang polisi membawa seorang wanita memakai baju tahanan dengan tangan yang di borgol.
"Silahkan bicara apa yang mau di sampaikan." ucap seorang polisi yang berdiri di samping tahanan untuk keamanan ketika kira kira ada keributan.
"Anda boleh keluar ngak." tanya seorang wanita tahanan itu ke polisi yang berdiri di sampingnya.
"Tidak bisa, kami tidak menjamin apabila ada sesuatu hal terjadi.
Sudah beberapa kali wanita itu melakukan negosiasi namun sang polisi tak berkutik dan tetap dalam pendiriannya.
"Baiklah kalau begitu." ucap wanita itu mengalah.
__ADS_1
"Apa kabar." tanya si wanita kepada nana.
"Baik." jawab Nana singkat padat jelas.
"Ada apa manggil gw kesini." tanya Nana karena ia tak ingin berlama lama di sini.
Tiba tiba Nana mendengar suara menangis ternyata wanita itulah yang menangis.
"Lah kok nangis." ucap Nana dalam hati.
"Maafin gw na." ucapnya meminta maaf kepada Nana.
"Gw udah maafin Lo kok Cii." ucap Nana ke Citra.
Walaupun dalam hatinya Nana ia masih belum sepenuhnya bisa memaafkan Citra apalagi dengan kenyataan bahwa Citra juga memiliki perasaan terhadap pacarnya Hansel.
Nana ke kantor polisi ini untuk menemui Citra yang memintanya untuk datang karena ini merupakan panggilan yang ketiga kali makanya ia memenuhi panggilan itu.
"Jadi ada apa Lo manggil gw kesini." tanya Nana karena dia ingin cepat cepat keluar dari ruangan ini.
"Gw minta tolong Na, bawa gw keluar dari sini, gw benar benar ngak tahan di sini, plisss naa." ujar Citra sambil menangis sambil mengatupkan kedua tangannya memohon kepada Nana.
"Apakah ini bisa di percaya." ujar Nana dalam hati sambil memperhatikan Citra dari atas sampai bawah karena dengan mudahnya ia meminta itu kepadanya. Apakah wanita ini tidak mempunyai rasa malu.
"Gw janji ngak akan melakukan kesalahan kedua kalinya Naa." ujar Citra dan tangisannya semakin menjadi jadi.
"Maaf gw ngak bisa, karena ini merupakan hasil dari perbuatan Lo dan harusnya Lo tangung sendiri." ujar Nana tegas.
"Ohh ya satu lagi, sebelum melakukan kejahatan ke gw apakah Lo berpikir sampai ke sini." ujar Nana lagi.
"Saya harus pergi." ucap Nana lalu keluar dari ruangan itu karena ia tak tahan dengan air mata kepalsuan Citra yang menurutnya sangat menjijikkan.
__ADS_1
"Pliss Na keluarin dari sini." teriak Citra yang memegang kaki Nana saat akan keluar.
"Lepaskan." ujar polisi dan berusaha melepaskan tangan Citra dari kaki Nana.
Sedangkan Nana juga berusaha melepaskan tangan Citra dari kakinya dan akhirnya bisa lepas dan Citra di pegang oleh dua orang polisi yang datang akibat mendengar keributan yang di buat Citra.
"Jangan tinggalin gw disini Nana." sayup sayup Nana mendengar teriakan Citra dari luar ruangan.
Setelah dapat keluar dari ruangan itu lalu Nana menuju tempat mobilnya parkir. Nana merasa lega karena di dalam ruangan itu dia juga mati matian menahan sesak di dadanya.
Nana semakin mempercepat jalannya agar orang tidak melihat ia menangis yang sepertinya Nana tidak bisa lagi menahan air matanya untuk jatuh yang semakin deras keluar dari matanya.
"Nana Lo ngak boleh nangis." ujar Nana dalam hati dan berusa tenang dan tidak menangis.
Sebelum masuk ke dalam mobil Nana di kejutkan dengan suara seseorang yang di kenalnya.
"Apa aku ngak salah dengar." ujar Nana dalam hatinya setelah mendengar suara itu.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
Jangan lupa like dan komen
Terima kasih
__ADS_1