
Nana berlari keluar karena ingin menjambak wanita itu yang berani beraninya menggoda pacarnya.
"Heii berhenti kau." teriak Nana yang melihat wanita itu tidak jauh darinya.
"Ada apa." tantang wanita yang juga menatap Nana dengan sorot mata tajam.
"Dasar wanita penggoda." ucap Nana lalu menampar wanita itu.
"Siapa kau berani menampar gw." wanita itu membalas dengan menarik rambut Nana.
Mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian dan beberapa karyawan berusaha melerai kedua wanita itu yang sedang jambak jambakan rambut.
"Wanita tak tau malu." kata Nana menjambak rambut wanita itu.
"Kau yang tak tau malu." balasnya.
Para karyawan yang berusaha melerai tadi tak kuasa menahan Nana dan wanita itu karena mereka sama sama kuat.
"Berhenti." kata Hansel dengan sedikit keras membuat kedua wanita itu langsung berhenti.
Dengan cepat Hansel merangkul Nana agar tidak terjadi lagi Jambak rambut.
"Jangan pegang pegang." kata Nana berusaha lepas dari Hansel.
"Viola pergi ke ruangan mu." kata Hansel ke wanita itu yang bernama Viola.
Dengan patuh Viola pergi ke ruangannya di ruang manajer.
"Kalian bubar." ucap Hansel menyuruh bubar karyawannya yang melihat pertengkaran antara Nana dan Viola.
__ADS_1
Setelah mendengar kata kata Hansel mereka semua bubar dan melanjutkan pekerjaan.
"Sayang maaf." ucap Hansel sambil memegang kedua tangan Nana.
"Tau ah." ucap Nana lalu pergi keluar dari kantor Hansel.
Melihat tingkah Viola tadi membuat Nana berpikir yang tidak-tidak tentang Hansel.
Apalagi mereka sudah berpisah tiga tahunan lebih bukan tak mungkin bagi laki laki itu mencari kesenangan dengan wanita lain selama Nana tidak ada pikir Nana.
"Kenapa harus begini sih." ucap Hansel frustasi.
Bagaimana tidak karena baru kemaren dia bertemu dengan Nana dan masalah langsung ada seharunya mereka sekarang kangen kangenan karena tidak bertemu bertahun tahun.
Hansel tak dapat mengejar Nana karena lima menit lagi dia akan melakukan meeting.
Melihat Hansel tidak mengejarnya, Nana merasa bersedih dan meragukan cinta yang di ucapkan Hansel kemaren terhadapnya di tambah lagi dengan Viola di ruangan Hansel tadi.
Selesai memesan taksi Nana langsung menuju tempat itu dan berharap pikirannya sedikit tenang.
"Segarnya." ucap Nana menghirup dalam dalam udara disana yang terasa sejuk.
Nana membuka tasnya dan mengambil satu buah buku untuk di bacanya yang sudah di rencanakannya dari rumah untuk menemaninya ketika Hansel sibuk bekerja namun itu tidak terjadi sesuai yang di rencanakan.
Nana duduk di sebuah bangku di dekat air mancur, dengan tenang Nana membaca buku yang membuatnya tak sadar seseorang tengah menatapnya.
"Nana." panggil orang itu, dan sepertinya Nana tau itu suara siapa.
"Iya, Arkan." kata Nana melihat siapa yang menyapanya.
__ADS_1
Arkan pergi ke taman ini berencana untuk menenangkan pikirannya karena tugas kuliah yang menumpuk yang menjadi beban pikiran.
Dari kejauhan dia melihat seseorang yang sepertinya ia kenal dan menghampirinya dan dugaannya benar kalau itu Nana yang ia maksud.
Tiga tahun tak bertemu Nana, dari dalam lubuk hatinya yang terdalam ia merindukan teman dekatnya itu ketika duduk di bangku SMA.
"Apa kabar." tanya Arkan yang juga mengetahui berita tentang Nana yang viral di berbagai media.
Arkan juga gak menyangka kalau Citra akan senekat itu, melakukan percobaan pembunuhan kepada Nana apalagi di antara keduanya sudah terjalin persahabatan yang cukup lama.
"Baik, kamu." tanya Nana balik.
"Sama." jawab Arkan.
"Kapan pulang dari Itali." tanya Arkan.
"Baru kemaren." jawab Nana.
Cukup lama mereka terdiam karena sama sama canggung mungkin sudah cukup lama tak bertemu.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen
Terima kasih