Jangan Panggil Aku Secepat Ini

Jangan Panggil Aku Secepat Ini
BAB 16


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Dini pergi ke belakang rumah neneknya.Dia naik ke atas pohon belakang, yang sering dia naiki.


Sore ini dia ingin menyendiri, fikirnya dalam hati.Di atas pohon dia berfikir, apa benar dia sudah jatuh cinta.Tapi kenapa, padahal baru sekali bertemu dengan Reyhan.Apa benar ini yang di namakan cinta, atau hanya sekedar rasa kagum belaka.


Dini menerka-nerka perasaannya, sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.


"Hmmm kak Reyhan, kakak ganteng banget Sich.Kenapa bayang-bayang wajah kakak selalu melintas dalam benak ku.Kenapa aku jadi gini sich?"


Umpatnya sendiri dalam hatinya.


Tak terasa, hari pun sudah sore.Dini di panggil neneknya untuk makan malam.Saat makan malam, neneknya bertanya.


"Din, kenapa kamu nggak jadi bawa bekal kesekolah tadi?"


"Iya nek tadi Dini lupa".


Dia melupakan bekalnya tadi pagi, karena memikirkan Sri sahabatnya, yang sedang marah padanya.


"Tadi nenek udah menyiapkannya.Kamu malah tidak membawanya, kan jadi mubazir.Kamu jangan suka membuang-buang makanan, nyarinya itu nggak gampang. Memang kamu bisa mencarinya sendiri?"

__ADS_1


Bentak neneknya keras.


"Iya nek, maafan Dini.Besok nenek nggak usah aja siapin bekal Dini nek.Dini di sekolah cukup jajan aja.Mama udah kasih uang jajan kemaren".


Jawab Dini sambil menunduk.


Niat neneknya sebenarnya baik, tapi omongannya di bumbui dengan sindiran pedas.


"Mungkin karena aku numpang disini.Jadi nenek sering banget bentak aku.Padahal mama kalau kesini kan sering bawa beras dan lauk.Kalau di fikir itu semua udah berlebih-lebih kalau untuk ku makan sendiri".


Begitu fikirnya dalam hati.


Di sekolah menengah nggak boleh pakai hp.Dini hanya menyimpan HP\-nya di rumah.Saat Hp nya berdering, terlihat pemanggilnya adalah papa, Dini kaget, karena udah lumayan lama hp nya tidak berdering.


"Hallo pa".


Jawab Dini waktu mengangkat telepon tersebut.


" Din, kamu apa-apaan Sich.Nenek kamu sudah capek-capek siapin bekalmu, malah kamu tidak mau membawanya.Padahal kemaren kamu yang minta bawa bekal.Kamu memang selalu bikin masalah ya".

__ADS_1


Bentak papanya.


Dini kaget dengan perkataan papanya Bukankah ini terlalu berlebihan.Bukannya dia tidak mau membawanya, tapi dia benar-benar lupa.Masalah sepele seperti itu bisa jadi masalah yang sangat besar buat papanya.


" Nggak gitu pa".


Saat kata-katanya masih menggantung, papanya memutuskan sambungan telefon.


Dini tidak berani menanyakan kepada neneknya, bisa-bisa masalah akan semakin besar.Dia hanya menangis di kamar, dan dadanya terasa begitu sesak.Dia menangis sejadi-jadinya, tanpa bersuara.Agar neneknya, tidak mendengar dan ngadu yang berlebihan lagi pada papanya.


Malam sudah semakin larut, waktu menunjukkan jam 10 malam.Dini masih tidak bisa tidur.Fikirannya hanya pada bekal yang terlupa.


"Kenapa semua seperti ini, kalau nenek nggak suka aku disini, harusnya nenek bilang.Jangan bikin aku selalu dimarahin papa".


Fikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya.


"Mulai besok aku tidak akan bawa bekal.


Aku hanya akan makan, apa yang mama kasih.Aku tidak akan makan, makanan yang bukan dari rumahku.Bagaimana pun juga, aku harus bertahan disini.Aku harus kuatkan hatiku.Aku tidak mau berhenti sekolah".

__ADS_1


Begitu tekatnya dalam hati.Dan dia berjanji dengan dirinya sendiri untuk melaksanakan tekadnya yang sangat kuat ituDia tidak akan numpang makan disini.Disini dia hanya numpang buat tidur.Tekad bulat dalam hatinya.


__ADS_2