Jangan Panggil Aku Secepat Ini

Jangan Panggil Aku Secepat Ini
BAB 19


__ADS_3

"Sri kita mampir ke supermarket depan sebentar ya!"


"Ok Din, memang kamu mau beli apa?"


Tanya Sri.


"Mau beli obat sakit kepala.kepala ku pusing sekali."


Katanya sembari memegang keningnya.


 


kejadian tadi membuatnya malas untuk berfikir, membuat nya jadi tidak bersemangat lagi.Mereka berdua berjalan menuju supermarket depan sekolah.


 


Sesampainya disana, Dini langsung mengambil air dingin dan obat sakit kepala yang biasa dia minum.


Dia langsung meminumnya.


Dan menghabiskan air dingin yang tadi juga dia beli.


"Huuuufff".


Dini menghela nafas panjang, sembari menenangkan perasaannya.


"Sri, kita duduk di sini sebentar ya, perasaan ku masih kurang baik.Takutnya kalau kita langsung pulang, akan ada lagi masalah baru nanti dirumah".


Pintanya pada Sri, dengan wajah yang sangat letih dan memela.s


Melihat kondisi Dini seperti itu, Sri hanya mengiyakan apa yang diminta sahabatnya itu.


 


Sri membeli beberapa cemilan untuk mereka makan.Setelah selesai membayarnya, mereka duduk di depan supermarket itu, sambil memakan cemilan yang mereka beli tadi.


Di depan supermarket itu ada sebuah kursi, mirip kayak halte.Disana mereka duduk berdua.


Melihat Dini yang hanya diam, Sri memulai pembicaraan,


"Din, kamu kenapa diam? nggak seharusnya juga tadi kamu marah-marah sama Dani.

__ADS_1


Dia kan udah nolongin kamu, niatnya cuma bantu kamu kok,biar kamu nggak kena hukum".


Kata Sri, berusaha menjelaskan maksud Dani tadi.


"Iya Sri, aku tau niatnya baik.Seharusnya aku berterima kasih padanya.Tapi bagiku itu sangat berlebihan.Dia seharusnya tidak mengorbankan dirinya demi aku.


Nah, sekarang aku.Bagaimana aku harus bersikap setelah ini padanya?Aku nggak mau jadi berhutang budi".


Jawaban Dini membuat Sri bungkam.Karena semua yang dikatakan Dini memang benar.


Disaat mereka serius bercerita, tiba\-tiba datang sebuah motor yang langsung parkir di depan supermarket itu.


"Aaaaaa KK Reyhan".


Teriak Dini pelan.Hanya dia dan Sri yang dengar".


"Din, kamu nggak salah?Itu kakak ganteng yang sering kamu ceritain?"


Tanya Sri yang kaget, dengan apa yang dia lihat.


"Ia, memang kenapa? jangan bilang kamu juga naksir ya,hahaha"


"Gimana aku bisa naksir?Dia kan udah punya pacar.Pacarnya itu tinggalnya dekat rumah aku, Din".


Balas Sri.


"Haaaaaa, yang benar Sri, kamu nggak bohong kan?"


Tanya Dini serius sambil menatap wajah Sri.


"Ngapain juga bohong, nggak ada untungnya juga".


Balas Sri.


Dini yang sudah tau ceritanya, hanya menunduk dan tidak mau melihat ke arah Reyhan.Padahal pria itu menatapnya sambil tersenyum.Namun dia hanya menunduk dan cemberut.


"Hahaha, kamu patah hati ceritanya Din?"


Ledek Sri, yang dari tadi memperhatikan gelagat Dini.


"Apaan Sich?udah jangan bahas dia lagi!"

__ADS_1


Timpal Dini dengan raut wajah kesal.


"Eeeh Din, tapi dia menuju ke sini tuch."


Sri memberitahu, sambil menunjuk dengan bibirnya Reyhan yang berjalan ke arah mereka berdua.


"Aaaaa aku nggak mau ketemu dia.Ayo Sri kita pergi!"


Pinta Dini sambil memegang tangan sahabatnya itu.


Saat mereka berdiri dan hendak pergi, Reyhan menghentikan langkah mereka.


"Tunggu, kamu mau kemana Din?"


Tanyanya sambil berdiri di hadapan Dini.


"Aa aku mau pulang kk".


Jawab Dini cepat.


Loh, kenapa buru-buru?aku juga baru datang, mending kita ngobrol dulu!


iya kan dek?"


Jawab Reyhan sambil melirik ke arah Sri.


Sri yang merasa pertanyaan itu tertuju padanya langsung menjawab,


"Hehehe, terserah Dini aja kak."


Sambil tersenyum.


"Sri kenapa kamu ngomong begitu, kita harus buru-buru pergi!"


Umpat Dini kesal sambil melirik ke arah Sri.


Sri tau sahabatnya itu kesal, karena jawabannya.


"Maaf kak, kami udah terlalu lama duduk disini.Nanti kalau aku telat pulangnya, malah kena marah.Maaf ya kak".


Kata Dini, sambil menarik tangan Sri dan berlalu meninggalkan Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2