Jangan Panggil Aku Secepat Ini

Jangan Panggil Aku Secepat Ini
BAB 22


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama dini berangkat sekolah dari rumahnya.dia bangun jam 5 pagi.langsung mandi dan memakai seragam sekolahnya.dia buru-buru untuk sarapan,karena mengingat di sekolah nanti dia tidak akan ada uang untuk jajan.mama sebenarnya menyuruh dia untuk membawa bekal,tapi dia menolaknya,karena merasa kasihan pada mamanya yang harus bangun lebih cepat,hanya untuk menyiagpkan bekalnya.


jam sudah menunjukkan jam 6 pagi,kata papanya kemaren,angkot biasanya lewat sekitar jam 6 pagi,jadi dia buru-buru pamit dan berlari ke jalan depan untuk menunggu angkot tersebut.


ternyata tidak menunggu lama,angkot itu pun datang.dia langsung naik dan dengan semangatnya untuk berangkat kesekolah.sesampainya di sekolah,sekolah itu sangat sepi,belum ada satu orang siswa pun yang datang.hanya terlihat penjaga kantin yang sedang menyiapkan jualannya.bahkan belum satu orang pun guru yang datang.


"hahaha,berangkat pagi-pagi sekali biar nggak telat sekolah.tapi sampai disekolah masih sepi,kalau aku menunggu angkot yang nomer 2,angkotnya kan datangnya jam setengah 8.bisa-bisa semuanya sudah mulai belajar aku baru datang".gumamnya dalam hati,sambil berjalan menuju ke arah kantin.karena disitulah satu-satunya penghuni yang ada di sekolah ini.


"eehh Din,kenapa datang sepagi ini?"


tanya penjaga kantin itu yang bingung melihat dini.biasanya dia datang selalu pas bel masuk berbunyi,itu pun sudah berlari-lari takut terlambat.


"hehehe iya Bu,dini berangkat dari rumah mama,makanya harus pagi-pagi sekali.karena angkot yang pertama itu lewatnya jam 6 pagi.jadi dini harus naik angkot itu,kalau dini naik angkot yang ke 2 lewatnya jam setengah 8 Bu,jadi dini bisa telat."


dini menjawab pertanyaan ibu kantin sambil duduk di bangku yang ada di kantin itu.


"kenapa nggak tinggal di rumah nenek di sini lagi,kan jadi repot kalau harus berangkat dari sana?"

__ADS_1


tanya ibu kantin lagi.


"hehehe nggak apa-apa Bu,dini pengennya dari rumah mama aja.nggak kuat pisah lama-lama sama keluarga."


dini menjawab seperti tidak terjadi apa-apa di rumah neneknya,dan dia juga tidak mau sampai orang-orang tau bagaimana keburukan keluarga papanya.


bisa -bisa akan muncul masalah baru yang lebih besar jika orang lain tau.


maklumlah yang dini tau orang-orang di kampung itu, terlebih ibu-ibu, mereka sangat suka bergunjing,menceritakan aib orang lain meskipun keluarga mereka sendiri.


dini melihat kesekeliling sekolah,tapi batang hidung Sri sahabatnya itu belum juga kelihatan.


"apa dia nungguin aku di rumah nenek ya?dia kan nggak tau kalau aku berangkat dari rumah mama". gumamnya sendiri sambil berjalan menuju kelas.karena para siswa sudah banyak yang datang dan duduk di dalam kelas.


"hay Din,kamu kok sendiri?


mana Sri?

__ADS_1


kalian tidak berangkat bareng tadi?"


tanya Mega salah satu teman sekelasnya juga,tapi mereka kurang begitu dekat.


"hehehe nggak tau juga,tadi aku berangkat dari rumah ku,bukan dari rumah nenek ku yang disini,jadi aku nggak bareng Sri tadi".


jawab dini sambil duduk di kursinya.


"ya udah kamu gabung disini aja sama kita, ngapain juga sendirian disitu?"


jawab Mega sambil menunjuk kursi yang ada di sebelahnya.


dini pun berdiri dan duduk di samping Mega.


disana ada juga Nadia dan Gita.


mereka bicara banyak pagi itu.

__ADS_1


__ADS_2