Jangan Panggil Aku Secepat Ini

Jangan Panggil Aku Secepat Ini
BAB 42


__ADS_3

Pagi ini, hujan deras mengguyur kota.Dini yang masih berada di rumah terkurung hujan, tidak bisa berangkat ke sekolah.Sementara jam di dinding rumahnya sudah menunjukkan pukul 06.45.


"Ma, gimana caranya Dini berangkat ke sekolah?Dini sudah hampir telat ma."


Dia merengek sambil terus menoleh ke arah jam dinding rumahnya.


"Apa kamu libur aja hari ini Din?


Soalnya kita hanya punya satu payung.Dan udah di bawa adikmu pergi ke sekolah."


Mamanya juga bingung, gimana cara Dini berangkat ke sekolah.


"Ayookk papa antar!"


Tiba-tiba papanya datang dan langsung mengambil kunci mobil.Semenjak dapat pekerjaan baru, kehidupan keluarganya sudah sangat membaik.Dari yang awalnya mereka hanya punya sebuah motor kreditan, sekarang sudah punya mobil pribadi.Ya walaupun itu juga di cicil dengan gaji papanya.


"Beneran pa"?

__ADS_1


Dini sontak melonjak senang.Karena tidak biasa-biasanya papanya jadi perhatian seperti ini.


"Ya, ayookk ntar keburu terlambat.Papa juga sekalian mau mampir ke rumah nenek".


Ajak papanya sambil berjalan ke arah mobil sedan yang terparkir di depan rumahnya.Dini dengan perasaan sangat senang mengikuti dari belakang.Setelah dia berpamitan kepada mama dan neneknya.


Di dalam mobil, sepanjang perjalanan menuju ke sekolah Dini, tidak ada pembicaraan apapun.Papanya hanya diam, sambil terus fokus mengemudi.Sementara Dini juga memilih untuk diam.Karena dia tau, hati papanya sangat susah untuk di tebak.Takutnya salah ngomong, bisa menghancurkan perasaannya yang senang pagi itu.Karena sesekali mendapatkan perhatian dari papanya.Baginya itu adalah sesuatu yang sangat berharga dan sekaligus menjadi momen yang sangat langka.


Sampai di depan gerbang sekolah, Dini berpamitan pada papanya.Dan langsung turun dari mobil, lalu berlari menuju ke arah kelasnya.Dia menutupi kepalanya dengan tas ransel nya, agar tidak basah.Akan tetapi usahanya itu tidak cukup maksimal.Karena derasnya hujan, bajunya pun tetap basah.


Walaupun tidak terlalu kuyup, tapi tetap saja membuatnya kedinginan.


Maklum lah, sekolah Dini, sudah jauh ke kampung.Jadi jarang orang di sana yang punya mobil pribadi, mereka kemana-mana jalan kaki.Paling mewah ya naik sepeda motor atau angkutan umum seperti angkot dan ojek.


Dini merasa malu, karena dari tadi di lihatin terus sama teman-teman sekolahannya.Dia segera masuk ke dalam kelas dan mengeringkan bajunya yang sedikit lembab.


"Hai Din, kamu udah datang"?

__ADS_1


Sapa Mega, lalu menghampirinya, yang masih berdiri di depan kelas sambil berusaha mengeringkan bajunya.


"Iya Me, yang lain mana?"


Jawab Dini, sambil terus mengeringkan bajunya dan melihat ke sekeliling kelas.Mencari keberadaan Monic dan Sri.


"Kalau Monic udah datang, dia lagi ke kantin membeli sarapan.Katanya nggak sempat sarapan pagi tadi.Tapi kalau Sri, dia belum datang juga.Mungkin terkurung hujan hehehe."


Jawab Mega sambil tertawa, dan Dini pun ikut tertawa mendengarnya.


Tidak lama kemudian Monic muncul membawa dua cup mie instan.


"Eehh kamu udah datang Din?apa kamu udah sarapan?apa mau makan mie instan"?


Tanya Monic, sambil menyodorkan Mie cup yang ada di tangannya.


"Tidak, aku tadi udah sarapan."

__ADS_1


Jawab Dini sambil tersenyum.Dan Monic memberi satu cup pada Mega, karena tadi dia juga nitip di belikan mie instan.Mega menerimanya dan mengajak Dini untuk ikut sarapan bareng, tapi Dini menolaknya.Karena perutnya masih sangat kenyang setelah makan nasi goreng buatan namanya.


__ADS_2