Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.

Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.
Bab 24. Restu Ayah.


__ADS_3

Tut..Tut.. setelah beberapa deringan terdengar telpon Alifa di angkat dari seberang sana.


["Assalamualaikum ayah..!"]


["Waalaikumussalam..! Alifa ?"]


[" Iya ayah, ini saya. Bagaimana kabar ayah?"]


["Alhamdulillah sayang.., Ayah baik. kamu bagaimana di pondok nak? Kok bisa telpon dengan nomor hp. Hp siapa yang kamu pakai nak ?"]


["Alifa Alhamdulillah sehat ayah. Ini Alifa pakai hp ustadzah Nia. Maaf ayah Alifa telpon malam begini ayah, karena Alifa ingin meminta restu ke ayah. Besok pagi Alifa harus berangkat ke kota M untuk mengikuti ajang MTQ tingkat provinsi. Tolong doakan Alifa yah..! dan maafkan semua kesalahan Alifa."]


Alifa pun tak kuat menahan airmata ketika berbicara dengan ayahnya di telpon. Sejatinya ia sangat kangen pada sang ayah. tapi, ia juga takut jika menyuruh ayahnya datang kepondok, ayahnya pasti sibuk di kantornya.


["Alifa kenapa kamu menangis nak? Hapus airmata kamu Alifa..! Kuat lah..! demi cita-cita mu. ayah bangga mempunyai putri yang Sholehah dan penuh prestasi seperti kamu. Berjuanglah terus sayang..! semoga Allah memberikan kemudahan dan hasil terbaik untuk anak ayah."]


Alifa masih mengobrol dengan ayahnya. sesekali ia terlihat menghapus airmata nya. Hal itu tak luput dari perhatian ustadzah Nia dan rekannya yang ada di ruang pengasuh.


Setelah panjang lebar ngobrol dengan ayahnya, Alifa pun menyudahi telpon dengan ayahnya. Ia masih terlihat duduk tenang sambil menghapus sisa airmata yang masih menetes.


Setelah dirinya bisa menguasai diri ia lalu beranjak dan menyerahkan hp kepada ustadzah Nia.


"Terimakasih ustadzah sudah meminjamkan ponselnya pada saya, dan terimakasih sudah memberi kesempatan kepada saya untuk bisa telpon dengan ayah di ruang sini. Maaf jika ustadzah semua merasa terganggu dengan suara saya." ucap Alifa sambil mengembalikan hp nya dan membungkuk hormat.

__ADS_1


Ustadzah Nia dan ustazah lainnya tersenyum dan mengangguk.


"Jangan begitu Alifa.., gak apa-apa tapi kenapa kamu menangis nak? apa ada masalah?"


Hehehe.."tidak ustadzah, saya hanya terharu dengan obrolan saya dengan ayah saya. hanya kangen ayah lama tak bertemu." ucap Alifa sambil terkekeh dan menghapus airmata nya lagi.


Ustadzah Nia tersenyum.


"Ya udah sekarang kamu istirahat dan cepat tidur jangan lupa besuk pagi harus berangkat. Jaga kondisi badan kamu ya ..!"


"Baik.., kalau begitu saya permisi dulu kembali ke kamar. Sekali lagi terimakasih ustadzah." ucapnya sambil membungkuk.


Alifa pun berjalan keluar dari ruang pengasuh asrama. Ia berjalan dengan riang sambil bersenandung kecil menuju kamarnya.


"auuh..!" pekik Alifa terjatuh karena dorongan yang kuat secara tiba-tiba.


"Enak ..?" ejek orang tersebut.


Alifa pun menghela nafasnya dengan kasar setelah tau siapa yang mendorong tubuh nya tadi. Kemudian ia bangun dan membersihkan telapak tangannya yang kotor dan sedikit luka. Ia pun mengibaskan bawah gamis nya yang terkena debu dan tanah.


"Puas ..?" tanya Alifa dengan santai.


Beruntung di dekat tempatnya jatuh tidak banyak santri yang lewat karena memang ini masih jam untuk mengaji malam. Tapi entah kenapa manusia rese ini bisa bebas keluyuran dengan bebas di luar asrama.

__ADS_1


"Bangettt..!!" jawab Maya dengan tertawa puas.


"Orang udik memang pantas mencium tanah." ucapnya mengejek dengan tatapan sinis.


"Begitu ya ..!" jawab Alifa dengan manggut-manggut sambil memperhatikan Maya yang semakin merasa berkuasa.


Maya merasa puas melihat Alifa yang baju gamisnya penuh dengan debu dan tanah.


"Oke.., selamat mencium tanah juga maya." ucap Alifa sambil mendorong kuat tubuh Maya. lalu pergi begitu saja meninggalkan Maya yang jatuh terjengkang ke tanah.


"Selamat mencium tanah maya..orang udik kan pantas mencium tanah katamu." ucapnya sambil berlalu pergi menuju kamarnya.


"Alifaaaaa...!" pekik Maya tak terima di perlakukan begitu oleh orang yang selama ini sangat dia benci.


Alifa pun tak peduli dengan teriakan Maya yang begitu nyaring. Ia menoleh sambil mencebik dan terus berjalan tanpa memperdulikan Maya yang teriak emosi.


Maya pun semakin kesal karena selalu kalah dengan Alifa. entah kenapa anak itu bisa saja membalas apa yang Maya lakukan


Maya pun bangun dan membersihkan bajunya dari kotoran. kemudian ia berlalu menuju toilet untuk membersihkan tangannya yang kotor karena dorongan Alifa juga sangat kuat.


'Tak akan ku biarkan kau hidup tenang di pondok ini bocah udik.' batin Maya menyimpan kebencian terhadap Alifa dan tersenyum miring.


Entah apa lagi yang akan Maya lakukan. ia tak pernah kapok berbuat onar di pondok pesantren. meski hukuman sering ia terima dari pengasuh.

__ADS_1


________


__ADS_2